Sebenarnya Rumi tidak ingin ikut campur dengan masalah ini. Ia memang sangat penasaran tetapi ia cukup sadar diri untuk tidak terlalu terlibat. Namun, setelah berita mengenai ayahnya Satria tersebar Juan semakin uring-uringan. Sepanjang pelajaran berlangsung bukannya mendamaikan keadaan yang caos, dirinya malah menjadi yang paling utama frustasi karena pemberitaan ini. semua orang yang sekiranya mengganggu akan dia bentak.
Mode senggol bacok kalau kata Mahesa.
Saat ini bel pulang sudah berbunyi. Kebetulan Rumi pulang bersama dengan Mahesa. Awalnya tujuan utama mereka memang segera pulang. Namun, entah ide dari mana Mahesa malah memutar kemudi ke arah Juan pergi bersama motornya. Jadi, kali ini mereka malah mengikuti ketua kelas itu yang membawa kuda besinya dengan kekuatan penuh itu.
Lingkungan asing Rumi lewati, ia tidak tau akan kemana Mahesa membawanya. Tetapi, cowok itu sepertinya sudah hafal.
Tidak lama motor Juan berhenti di depan sebuah rumah yang lumayan besar dengan pagar yang tinggi menjulang. Terdengar dari tempatnya Juan terus meneriakkan nama seseorang seraya memencet bel berkali-kali bahkan menggedor pagar dengan tidak sabarnya.
Mahesa turun dari motor dan menghampiri Juan, sontak Rumi mengikutinya.
"WOII! SATT!! BUKAA!!" teriak Juan.
DUKK DUKK DUKK
Juan menghela nafasnya dengan kasar lalu menendang pagar di depannya dengan kesal.
Menyadari keberadaan orang lain, Juan berbalik dan melihat kearah Rumi dan Mahesa. Matanya langsung menyipit, keningnya berkerut dalam dan ekspresinya menunjukkan ketidaksukaan dirinya atas eksistensi kedua manusia itu.
"Ngapain lo di sini?" tanya Juan dengan ketus. Rumi bahkan baru kali ini merasa sangat takut dengan ketua kelas mereka. Nada suaranya hampir seperti membentak bahkan jika keadaan biasa Rumi yakin dia akan sangat sakit hati mendengar hal tersebut.
"Lo yang ngapain di rumah Satria?" tanya Mahesa balik.
Rumi sedikit terkejut mengetahui bahwa rumah ini adalah rumah milik Satria.
"Ga usah ikut campur deh! Pergi sana!" kali ini Juan mendorong bahu Mahesa.
Mahesa sedikit tersulut emosinya balik mendorong cowok itu. "Biasa aja dong!"
Rumi hendak menenangkan mereka berdua. Ia terus menahan lengan Mahesa agar tidak tidak semakin terjadi perkelahian. Tiba-tiba Sahil muncul di belakang mereka. Juan langsung menghampiri Sahil tetapi cowok itu hanya berjalan santai masuk ke dalam halaman rumah Satria seolah mereka bertiga tidak ada di sana.
Saat pintu pagar hendak ditutup Sahil, Juan langsung menahannya. Sahil memandangi cowok itu dengan tajam.
"Minggir!" titahnya.
"Ijinin gue buat mastiin keadaan Satria," ujar Juan sedikit memohon.
"Satria baik-baik aja kan?" tanya Rumi dengan cepat.
"Dia baik-baik aja. Dah sono lo pergi! Udah gue bilang kan dia butuh waktu?"
Sahil menutup pintu pagar dengan kasar bahkan hampir membuat jari-jari Juan terjepit di sana.
Juan menghela nafasnya dengan frustasi. Ia bahkan terus mengusak rambutnya lalu menggeram kesal. Rumi dan Mahesa semakin penasaran dibuatnya. Apa yang terjadi dia antara Juan, Satria, dan Sahil? Tetapi, mereka tidak ingin memperburuk keadaan.
Mahesa akhirnya memberikan kode pada Rumi untuk segera naik ke motor dan kembali pulang. Tetapi tiba-tiba saja terdengar teriakan Sahil dari dalam yang sontak membuat mereka bertiga panik.
KAMU SEDANG MEMBACA
Harsa Rumi
JugendliteraturAreumi tidak menyangka cowok yang pernah dia tembak sebelum libur semester akan menjadi teman sekelasnya. Malu dan canggung tidak bisa ia hindari. Apalagi saat Rumi berusaha bersikap biasa saja, tetapi Harsa bersikap sebaliknya. Kehidupan akhir SMA...
