17. Damai

17 3 0
                                        

Malam itu, Rumi terbaring di atas ranjangnya ditemani dengan alunan musik dari penyanyi kesayangannya. Ia memandang langit-langit kamarnya dengan pikirannya yang menjelajah jauh entah kemana.

Waktu sudah menunjukkan lewat jam sebelas malam. Tetapi Rumi enggan beranjak untuk sekedar berganti pakaian atau melepaskan tas yang masih terselempang di bahunya. Dirinya baru saja kembali dari sebuah tempat makan bersama dengan teman-teman yang menjahilinya kemarin. Mereka terus berusaha minta maaf setelah kejadian itu dan karena rasa bersalah Rumi dimanjakan sepenuhnya hari ini. mereka meneraktir dirinya dan mengikuti maunya untuk pergi kemana pun. Tentu saja hal ini dimanfaatkan dengan baik oleh Rumi. Bukannya Rumi matre atau bagaimana, tetapi mereka yang menawarkan bukankah tidak baik jika menolaknya? Mengingat dirinya pernah menghindari Jaya yang ingin ia hindari karena Ayumi.

Ah, benar Ayumi. Ia tiba-tiba teringat akan cewek itu. Saat dirinya pergi ke mall tadi, ia melihat gadis itu lagi-lagi dengan Harsa. Mereka nampaknya tengah melakukan pendekatan. Semakin hari semakin menepel saja.

Rumi menghela nafasnya. Entah kenapa dia begitu kesal. Padahal dirinya sendiri yang menyuruh Yumi mendekat pada Harsa dan juga menolak Harsa untuk memastikan perasaannya pada Rumi. Ia memandangi jaket Harsa yang tergantung di pintu lemari dengan pikiran yang kusut. Ia merasa jahat karena mengharapkan hubungan antara kedua temannya itu berakhir dengan cepat. Ia merasa sangat egois.

Rumi memutuskan untuk beranjak dan segera membasuh wajahnya agar semua pikiran itu hilang. Setelah bersih-bersih sebentar dan mengganti pakaiannya serta mematikan musik di ponselnya, ia segera berbaring kembali di kasurnya dan memutuskan untuk tidur.

Keesokan harinya, Rumi menjalankan aktivitas seperti biasanya. Sekolah pun berjalan baik. Meskipun hatinya sedikit gundah kala melihat Harsa dan Yumi. Ah, tapi ada satu kesialan terjadi. Saat pembagian kelompok untuk mengerjakan presentasi sejarah, dirinya harus berada di dalam satu kelompok dengan Yumi.

Mereka sesungguhnya belum damai dan tidak berniat damai.

Rumi menghela nafasnya, mau tidak mau. Bisa tidak bisa ia harus lakukan itu. Mereka akhirnya memutuskan untuk segera menyelesaikan tugas tersebut. Sehingga kali itu mereka berakhir di rumah Rumi.

"Kita kebagian Kerajaan Kutai kan?" tanya Rumi.

"Hm," balas Yumi.

Mereka berbicara seperlunya saja dan fokus mengerjakan tugas mereka agar bisa cepat selesi.

Menit berlalu, Rumi merasa tenggorokannya kering. Ia akhirnya memutuskan untuk mengambil minum. Merasa sudah tidak merasa kehadiran Rumi, Yumi akhirnya memberanikan diri menutup halaman presentsinya dan beralih pada folder yang mengganggunya sejak pertama kali membuka laptop Rumi. Judulnya bergitu menarik perhatian. "Jangan dibuka" itulah yang tertera di sana. Ia buka dan terdapat folder lagi, klik lagi, muncul folder lagi sampai beberapa kali hingga akhirnya ia berhenti dan menemukan banyak video mulai dari variety show sampai rekaman live bersubtitle ada di sana.

"Ngapain lo?"

Yumi terkejut langsung mendongak melihat Rumi tengah memandangnya marah. Ia langsung merebut laptopnya.

"Lo, Engine juga?!!"

Rumi langsung menoleh dengan terkejut. "Juga? Jangan bilang lo—?"

Yumi meraih tangannya dan mengangguk dengan semangat, matanya berbinar-binar.

"Anjir.."

"AAAA AKHIRNYA NEMU YANG SEFANDOM!!"

Typikal fans jika bertemu dengan orang yang menyukai hal sama langsung bahagia seolah bertemu dengan saudara kandung yang terpisah belasan tahun. Mereka berteriak heboh bahkan berpelukan. Bahkan melupakan fakta bahwa mereka tengah bermusuhan.

"Bias lo siapa??" tanya Rumi.

"Si duta pangku! Kalo lo??"

"Bocil Jepang,"

Yumi tersenyum lalu meraih kembali laptop Rumi. "Lengkap banget njir, bahkan smash mystery juga ada. Lo dapet dari mana?? Gilaa, bagi dong,"

"Ambil aja,"

"Beneran nih???"

Rumi terkekeh melihat keantusiasan Yumi.

"Tapi kenapa sih disembunyiin gini? Gue kira lo nyimpen bokep," ujar Yumi.

"Sembarangan," balas Rumi seraya menonyor kepala lawan bicaranya. "Itu laptop abang gue, dia ga suka laptopnya dipake buat fangirl-an. Jadi gue sembunyiin. Untung lo buka, udah sebulanan gue lupa mau upload ke could."

Mereka mendadak menjadi bestie. Membahas semua hal mengenai idolanya. Bahkan tugas presentasi itu diabaikan begitu saja. Merch, perform, dan musik video dari idolanya menjadi topik yang jauh menarik bagi mereka.

"Gue kira lo wibu, Rum" ujar Yumi.

Arumi terkekeh, "Gue suka anime juga, tapi ga nyampe tahap wibu kok."

Yumi tiba-tiba terdiam seolah sesuatu menyadarkannya. Sontak Rumi juga diam. Mereka mendadak canggung.

"Gue.. minta maaf ya, Rum." Rumi menolehkan kepalanya ke arah Yumi. "Gue ngerasa kata-kata gue waktu itu keterlaluan."

"Santai aja, gue udah maafin lo. Jangan sinisin gue lagi ya," balas Rumi membuat Yumi terkekeh.

"Sorry."

"Serem tau, tiap lewat lu sinisin mulu. Side eye lo tu bikin merinding sebadan-badan. Sok-sok aja gue bales padahal mah udah gemeter takut,"

"Lebay."

"Beneran ini mah gue ga bohong. Coba aja lu tanya yang lain, lo tuh serem kalo marah."

Bukannya tersinggung akan ucapan temannya itu, Yumi terkekeh mendengar hal itu.

"Damai nih?" ujar Rumi.

"Gue sih pengennya lanjut marahan. Lanjut aja ga sih? Kita kan masih saingan," goda Yumi.

Arumi merotasikan bola matanya malas.

"Kalah saing dah gue sama lo. Udah tahap jadian kan lo sama dia?"

Ayumi mengendikkan bahunya, "Sampe pegangan tangan doang. Kalah jauh sama lo udah gendong-gendongan."

"Kasian aja dia sama gue. Ga ada niat lebih." Ucap Yumi sambil tersenyum miris.

Mengingat kejadian kemarin, Ayumi sontak tertawa. Kebetulan sekali dia melihat kejadian dimana Rumi disembur oleh Mahesa. Alis Rumi terangkat sebelah mempertanyakan penyebab dari lawan bicaranya ini tertawa.

"Gimana jampi-jampi si Mahes?"

"Anjir jigongnya bau bener, butuh nyuci pake air 7 sumur gue."

Tawa Ayumi semakin meledak. "Gue heran banget sama kelakuan Mahesa. Ketambah kelakuan si Juan sama Satria. Di satuin nauzubillah..."

"Itu tuh cowok yang mau lu deketin?"

"Najis deket-deket playboy. Gue mah mau deketin si Harsa. Lo gimana? Mau deketin Harsa juga? Kalo gitu saingan sehat aja gimana?"

Rumi terkesiap. Memandang cewek itu dengan tatapan tidak percayanya. Namun setelahnya ia tekekeh.

"Deal!"


To Be Continued


Sunoo look so adorable!! CUTE BANGETTT

Sunoo look so adorable!! CUTE BANGETTT

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Harsa RumiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang