Naura, Adara dan Gibran merencanakan sesuatu agar Rahsya bisa mengingat Naura kembali.
Sepulang sekolah, Gibran mencoba menghubungi Rahsya. Namun Rahsya tidak menjawab panggilan dari Gibran.
"Gimana?" Tanya Adara.
Gibran hanya menggeleng kepalanya dan berusaha terus menghubungi Rahsya.
Sementara itu di tempat yang lain ternyata Rahsya sedang berbicara serius dengan Mila di depan makam Lian.
Mila berusaha mengingatkan momen Rahsya, Lian dan Naura. Akan tetapi Rahsya sama sekali tidak mengingat siapa Naura bagi dirinya.
Rahsya malah menyangka Mila adalah wanita yang harus ia lindungi.
"Entah itu mimpi atau nyata. Kak Lian menyuruh aku buat lindungi seorang wanita. Apa itu kak Mila?" Tanya Rahsya menerka.
Mila terkejut. Ia tidak ingin Rahsya salah paham dengan mimpinya itu.
"Lian itu sangat menyayangi adiknya Sya dan dia adalah Naura. Orang yang selalu ngikutin kamu, orang yang selalu berusaha mengembalikan ingatan Kamu sama dia." Ujar Mila.
"Emang dia siapa? Buat apa dia segitu berusahanya agar aku inget sama dia. Dia cuman cewek rese yang udah ngerusak motor kesayangan aku." Ujar Rahsya.
"Dia orang yang kamu cintai Sya." Balas Mila.
Rahsya merasa tidak percaya dengan perkataan Mila.
"Dia yang selalu ada buat kamu, dia yang selalu bantu kamu, dia juga yang bikin kamu berubah, dia juga yang bisa bikin kamu lebih kuat dan ceria seperti dulu. Di orang yang paling aku cinta dan selalu kamu jaga Sya."
Rahsya masih tidak bisa percaya dengan ucapan Mila. Mila pun menarik tangan Rahsya agar memegang nisan Lian.
Rahsya hanya diam dan melihat kearah Mila yang menyimpan tangannya ke batu nisan Lian.
"Lian, aku mohon sama kamu. Jangan bawa ingatan Rahsya tentang Naura pergi bersama kamu. Simpan ingatan Rahsya tentang Naura. Aku mohon sama kamu." Ucap Mila menangis.
Akan tetapi Rahsya langsung menarik tangannya dan sedikit kesal dengan tingkah Mila yang aneh.
"Cukup ya Kak. Aku sama sekali gak kenal sama Naura, Kak Mila dan juga Kak Lian. Aku kesini hanya memastikan bahwa pewaris kedua dari wasiat papah udah meninggal. Udah cukup." Ucap Rahsya lalu pergi.
"Sya, Rahsya." Panggil Mila.
Namun Rahsya terus pergi dan sesegera mungkin memakai helm lalu pergi dengan motor sportnya.
Di tempat lain, Gibran mencoba kembali menghubungi handphone Rahsya dan akhirnya kali ini berhasil.
"Sya, loh dimana?" Tanya Gibran.
"On the way pulang." Jawab Rahsya.
"Owh iya, gue pulang telat ya Sya. Ada latihan nyanyi buat lomba minggu depan." Ucap Gibran beralasan.
"Yaudah." Ucap Rahsya melanjutkan perjalanannya.
"Gimana?" Tanya Naura.
"Dia on the way pulang. Loh ngumpet disitu aja. Pokonya sesuai rencana yang kita omongin tadi oke." Ujar Gibran.
"Oke" jawab Naura.
Tidak lama kemudian motor Rahsya pun datang dan di hadang oleh beberapa preman bertubuh tinggi besar.
Rahsya pun langsung berhenti dan membuka helmnya. Salah satu preman itu mendekati Rahsya.
"Heh bocah, lewat sini loh harus bayar!" Bentak preman.
KAMU SEDANG MEMBACA
Naura Rahsya
FanficRasya terbangun dari koma, namun alangkah terkejutnya dia bahwa ini bukanlah raganya. Ia bergegas lari dari rumah sakit untuk menemui seseorang. Yakni Naura, yang kini hidup sebatang kara bahkan harus terusir dari rumahnya sendiri. Bertahan hidup ta...
