#24

17 3 0
                                        

Ceklek...

Fafa menutup pintu ruangan Papanya dengan hati-hati. Ia menyandarkan punggungnya di tembok dekat pintu, mencoba menenangkan napasnya yang sedikit tidak beraturan. Mungkin karena jalan agak cepat dari lift tadi, atau mungkin... karena sosok di dalam lift itu masih terbayang jelas di kepalanya.

Tangannya refleks mengelus perutnya yang mulai membesar.

"Tenang ya, Nak... Mama gak apa-apa..." bisiknya pelan.

Yusuf Mahendra, ayahnya, masih fokus menatap dokumen-dokumen di meja. Dari cara dia mengetuk pena dan menghela napas, Fafa tahu Papa-nya sedang menghadapi masalah kerjaan yang cukup berat. Ia tersenyum kecil.

"Bapak Yusuf Mahendra," ucap Fafa sambil melipat tangan di dada, "pekerjaan apa sih yang bikin Bapak sampai gak sadar kalau putri kesayangannya lagi berdiri di sini?"

Yusuf mendongak, dan wajah tegangnya langsung berubah menjadi senyum hangat. "Fafa?" katanya senang. "Kenapa gak bilang mau ke kantor Papa?"

Fafa tertawa kecil, berjalan pelan ke arah sofa. "Cuma mau main aja di sini. Di rumah bosen, Ma lagi sibuk, Queena rewel. Aku butuh udara baru."

Yusuf bangkit dari kursinya, berjalan ke dispenser. "Kamu mau minum apa? Jus? Susu hangat?"

"Susu hangat aja, Pa. Tapi jangan terlalu manis, nanti si bayi protes," katanya sambil mengusap perutnya.

Yusuf terkekeh kecil, namun matanya masih sempat melirik wajah Fafa yang tampak agak pucat. "Kamu gak apa-apa, Fa? Kelihatan capek banget."

Fafa sempat diam. Tatapannya tertuju ke jendela besar di belakang meja Yusuf — entah kenapa bayangan samar di balik pantulan kaca itu membuat bulu kuduknya berdiri. Seperti ada seseorang yang memperhatikannya dari luar, padahal gedung itu di lantai delapan.

"Fa?" suara Yusuf menyadarkannya.

"I-iya, Pa. Aku gak apa-apa kok. Cuma... tadi di lift, aku lihat sesuatu."

Yusuf menaikkan alis. "Sesuatu?"

Fafa mengangguk pelan, menelan ludah. "Sosok perempuan... rambutnya panjang banget, kuku-kukunya tajam. Baunya... kayak bangkai."

Yusuf menarik napas panjang, berusaha tetap tenang walau wajahnya sedikit menegang.

"Kamu gak boleh stress, Fa. Kamu hamil besar, janin kamu sensitif terhadap energi negatif."

"Aku tahu, Pa... tapi sosok itu... dia ngikut aku dari bawah."

Yusuf terdiam. Dalam hatinya, ia tahu ini bukan pertama kali Fafa melihat hal semacam itu. Sejak kecil, kemampuan indigonya memang tidak pernah benar-benar hilang — hanya mereda. Dan sepertinya sekarang, menjelang kelahiran bayinya, kemampuan itu justru semakin kuat.

---

Udara di ruangan Papa terasa dingin, padahal AC tidak diatur terlalu rendah. Fafa mengusap lengannya pelan, sementara pandangannya sesekali melirik ke jendela besar di belakang meja kerja Yusuf. Entah kenapa, refleksi di kaca itu seperti... tidak mengikuti gerakannya.

Ia menelan ludah.

"Jangan takut, Fa... kamu cuma capek," katanya dalam hati, berusaha menenangkan diri.

Yusuf memperhatikan wajah putrinya yang tampak pucat. "Kamu yakin gak apa-apa? Papa bisa panggilin Arum kalau kamu ngerasa gak enak badan."

Fafa menggeleng. "Gak usah, Pa. Aku cuma... merasa aneh aja."

Yusuf bangkit dari kursinya, mengambil gelas berisi susu hangat lalu menyerahkannya pada Fafa. "Minum dulu, biar tenang. Papa gak mau kamu stres, itu gak baik buat bayi."

My Indigo 2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang