#26

12 2 0
                                        

Malam turun perlahan. Angin terasa aneh — tidak seperti biasanya. Dupa menyala di empat sudut ruangan, aroma wangi cendana bercampur dengan listrik yang berdesir di udara.

Fafa duduk bersila di tengah lingkaran kain putih, Arum menggenggam tangannya erat, sementara Yusuf berdiri di belakang mereka dengan tatapan tegang.

Ki Rendra menutup matanya, membaca doa dengan suara dalam dan bergetar.

Lalu, suhu ruangan tiba-tiba turun drastis. Lilin di meja padam satu per satu.

Fafa memejamkan mata, menahan rasa nyeri yang tiba-tiba muncul di perutnya. "Pa... Ma... dia datang..."

Udara bergetar. Dari sudut ruangan, kabut hitam muncul — berputar cepat, membentuk bayangan besar dengan mata merah menyala. Suara tangisan bayi menggema samar di dalamnya.

Arum menjerit tertahan. "Ya Allah..."

Ki Rendra tetap tenang. Ia menatap kabut itu, lalu berkata dengan suara lantang:

"Wahai yang gelap, jangan kau ganggu yang terang! Tempatmu bukan di sini!"

Kabut itu menjerit — suara yang seperti ribuan bisikan sekaligus. Lalu bayangan Laras muncul dari dalamnya, menangis.

"Anakku... kembalikan anakku..."

Fafa menatapnya dengan air mata mengalir. "Laras! Anakmu gak hilang... dia sudah tenang! Yang kamu kejar bukan anakmu — itu kegelapan yang menipumu!"

Suara tangisan itu melemah. Laras menatap Fafa dengan air mata hitam terakhir, lalu perlahan cahaya lembut keluar dari dadanya, terbang ke arah Fafa.

Fafa menjerit, tapi bukan karena takut — karena hangat. Seperti pelukan seorang ibu.

Kabut hitam mengaum, tapi cahaya dari perut Fafa tiba-tiba meledak keluar — terang, putih, berdenyut seperti jantung raksasa.

Dalam sekejap, ruangan penuh cahaya. Arum memejamkan mata, Yusuf memeluknya erat, dan Ki Rendra menunduk, membaca doa sekuat tenaganya.

Ketika cahaya itu padam, hanya suara napas yang tersisa. Dupa sudah habis. Kain putih kini berlumur debu hitam, tapi Fafa masih duduk di tengahnya — tenang, tersenyum, air matanya menetes.

"Dia udah tenang, Ki... Laras udah pergi."

Ki Rendra mengangguk perlahan. "Ya. Dan Jiwa Terang di dalam rahimmu baru saja mengusir satu kegelapan besar."

Yusuf menghampiri, memeluk Fafa dengan air mata haru.

"Kamu hebat, Nak. Kamu dan bayi kamu... penyelamat keluarga ini."

Fafa tersenyum, menatap cahaya bulan yang menembus jendela.

"Tapi aku tahu, Pa... ini belum selesai. Masih ada yang belum terungkap. Masih ada yang mengintai."

Ki Rendra menatapnya dalam.

"Kau benar, Fafa. Bayi itu akan lahir membawa terang — dan kegelapan tidak akan diam."

---

Malam terasa lebih dingin dari biasanya. Angin menembus sela-sela jendela kamar, membawa suara halus yang mirip tangisan bayi.

Fafa membuka matanya perlahan. Tubuhnya terasa berat, tapi suara itu membuat bulu kuduknya berdiri.

Tangisan itu terdengar jelas sekarang — bukan dari luar, tapi dari arah meja rias di pojok kamar.

Dengan napas tersengal, Fafa menoleh. Di dalam cermin, ia melihat sesuatu yang membuat darahnya membeku.

Pantulan dirinya tampak sedang menggendong bayi, berbalut kain putih. Tapi di belakang pantulan itu berdiri sosok perempuan bergaun hitam panjang, rambut kusut menutupi wajah, dan kuku-kuku panjang yang meneteskan darah hitam.

My Indigo 2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang