Hujan masih turun malam itu. Suaranya mengetuk-ngetuk genting dengan irama tak beraturan, menyatu dengan gelegar petir yang sesekali membuat langit terang sesaat. Rumah keluarga Mahendra yang biasanya hangat, kini seakan diselimuti hawa dingin yang ganjil — seperti ada sesuatu yang tidak seharusnya berada di sana.
Arum memeluk Fafa erat-erat di lantai kamar, di antara serpihan kaca yang berserakan. Bahunya bergetar menahan takut, tapi ia berusaha tegar di depan putrinya.
"Tenang, Nak... Mama di sini," bisiknya lembut sambil mengelus punggung Fafa.
Fafa hanya bisa terisak. Ia tahu apa yang baru saja ia lihat bukan halusinasi. Wajah perempuan itu — luka di pipinya, mata hitam legam, senyum menyeramkan — semuanya begitu nyata. Dan ketika cermin itu pecah, Fafa sempat merasakan sesuatu masuk ke dalam dadanya. Seolah hawa dingin itu menyelinap lewat kulit dan menetap di dalam tubuhnya.
"Ma..." suara Fafa bergetar. "Dia nyari anaknya. Aku bisa rasain..."
Arum menatap putrinya cemas. "Maksud kamu apa, Fa?"
"Perempuan itu... dia kehilangan bayinya, Ma. Aku ngerasa... dia salah kira. Dia pikir bayinya ada di dalam kandunganku."
Arum terdiam, matanya melebar. Ia spontan menatap perut Fafa yang mulai bergerak pelan — si bayi seperti ikut gelisah.
"Ya Allah...," gumam Arum sambil memeluk Fafa lebih erat. "Nak, Mama gak akan biarin siapa pun ganggu kamu, atau cucu Mama."
Di luar kamar, Yusuf berlari naik setelah mendengar suara pecahan kaca dan jeritan Fafa. Saat ia sampai di depan pintu kamar, Arum langsung menyambut dengan wajah panik.
"Yusuf! Dia muncul lagi! Fafa lihat sesuatu!"
Yusuf menatap kamar yang kini berantakan. Lampu kamar redup, udara di dalam terasa lembab dan dingin, seperti ruangan bawah tanah. Ia menatap putrinya yang kini duduk memegangi perutnya sambil terisak pelan.
"Fa..." Yusuf mendekat perlahan. "Papa di sini, Nak. Ceritain ke Papa apa yang kamu lihat."
Fafa menatap ayahnya, mata cokelatnya basah dan penuh ketakutan. "Dia di cermin, Pa... perempuan itu. Dia bilang 'anakku'... lalu cerminnya pecah."
Yusuf menunduk, melihat serpihan kaca yang berserakan. Di antara pantulan-pantulan kecil, samar-samar ia bisa melihat bentuk wajah seseorang — samar, tapi jelas perempuan. Ia menelan ludah dan menatap Arum dengan tatapan khawatir.
"Kita gak bisa diem aja," katanya tegas. "Aku udah temuin sesuatu tentang dia."
Arum mengerutkan kening. "Tentang siapa?"
"Perempuan itu. Namanya Laras."
Fafa spontan menegakkan badan. "Papa tahu siapa dia?"
Yusuf mengangguk pelan. "Dia meninggal dua tahun lalu, di depan gedung kantor Papa. Kecelakaan tragis... dan waktu itu dia juga hamil delapan bulan. Sama seperti kamu sekarang, Fa."
Suasana kamar mendadak senyap. Hanya suara hujan di luar yang terdengar.
Arum memegang dada. "Ya Allah... berarti perempuan itu..."
"Rohnya mungkin masih gentayangan," potong Yusuf pelan. "Dan karena Fafa juga sedang hamil delapan bulan, roh itu tertarik — mungkin merasa ada ikatan. Dia kehilangan anaknya, dan sekarang... dia ingin mengambil bayi Fafa."
Fafa menatap ayahnya dengan mata melebar. "Pa... jangan bilang gitu..."
Yusuf menghela napas dalam. "Makanya kita harus tahu kenapa dia belum tenang. Mungkin ada yang belum selesai dari kematiannya."
KAMU SEDANG MEMBACA
My Indigo 2
AcakSetelah menikah, fafa dan sidik memutuskan untuk tinggal di Stockholm, Swedia. Sidik dan fafa tinggal di sebuah apartemen mewah disana. Mereka memutuskan untuk tinggal di apartemen karena tidak mau banyak merepotkan orang tua sidik. Sebagai pengacar...
