Matahari baru saja naik di ufuk timur. Sinar keemasan menembus tirai jendela kamar, membuat ruangan itu terasa hangat dan damai. Dari luar, terdengar suara burung-burung yang berkicau di taman belakang rumah. Hari Minggu — hari yang paling Fafa nantikan, karena pagi ini, rumahnya akan ramai oleh orang-orang yang ia sayangi.
Fafa yang kini memasuki usia delapan bulan kehamilan, berjalan perlahan ke dapur sambil mengelus perutnya. Ia mengenakan gaun rumah berwarna biru muda dengan rambut tergerai lembut. Aroma roti panggang memenuhi udara, bercampur dengan wangi teh hangat yang baru diseduh oleh Arum.
"Pagi, sayang... udah bangun?" suara lembut Arum terdengar dari balik meja makan.
"Iya, Mah..." jawab Fafa dengan senyum kecil. "Aku pengen bantu, tapi Mama pasti gak bakal bolehin, ya?"
Arum tertawa kecil. "Tentu saja nggak. Kamu duduk aja, biar Mama yang urus semuanya."
Fafa terkekeh pelan, lalu duduk di kursi dekat jendela sambil melihat taman depan. Tak lama, suara mesin mobil terdengar berhenti di halaman.
"Kayaknya Dery sama Kiky dateng, Ma."
Arum mengintip lewat jendela, wajahnya langsung berbinar. "Iya, itu mereka!"
Pintu depan terbuka. Dery muncul dengan kemeja putih dan celana jeans, sementara di sampingnya Kiky membawa kotak kue besar.
"Pagi, semuanya!" sapa Kiky ceria.
"Wah, calon tante paling heboh datang juga," goda Fafa sambil tertawa.
Kiky langsung memeluk Fafa pelan. "Duh, perut kamu makin besar aja, Fa. Aduh, gak sabar pengen gendong ponakan kecilku ini!"
Dery ikut duduk sambil membuka jaket. "Papa Yusuf ke mana, Fa?"
"Papa masih di taman belakang, lagi nyiram bunga," jawab Fafa.
Belum lama mereka berbincang, suara mobil lain terdengar lagi dari halaman depan. Dari arah jendela tampak Kevin dan Vania turun dari mobil hitam.
"Wah, rame nih!" ujar Fafa dengan senyum lebar.
"Pagi semuanya!" sapa Kevin sambil menenteng paper bag besar. "Kami bawa sarapan tambahan: bubur ayam dan kopi dari kafe langganan!"
Vania menimpali dengan tawa lembut, "Aku juga bawa jus buah buat Fafa, biar tambah segar."
"Terima kasih banyak, kalian perhatian banget," ucap Arum senang.
Kevin langsung menyapa Dery dengan tos ringan. "Bro, kamu datang duluan ternyata."
"Ya iyalah, biar dapet tempat duduk enak," balas Dery sambil tertawa kecil.
Fafa merasa begitu hangat melihat keakraban mereka semua. Rumah yang biasanya tenang kini penuh canda dan tawa. Namun suasana itu makin lengkap ketika terdengar langkah kaki dari lantai dua.
"Sepertinya ada yang baru bangun," ucap Fafa sambil tersenyum ke arah tangga.
Beberapa detik kemudian, Tiara muncul menuruni tangga dengan rambut diikat setengah, mengenakan piyama bunga lembut. Di pelukannya, Queena — bayi kecil yang manis — tampak menguap lucu sambil menggenggam jari ibunya.
Di belakang Tiara, David menuruni tangga sambil membawa botol susu bayi. "Pagi semuanya! Maaf agak telat, si kecil ini baru aja bangun dan langsung minta nyusu," katanya sambil tersenyum.
Kiky langsung bangkit berdiri. "Aduh Queena, makin gemes aja kamu, ya!" katanya sambil mencubit pipi bayi kecil itu dengan lembut.
Vania tertawa kecil. "Dia kayaknya makin mirip David deh."
KAMU SEDANG MEMBACA
My Indigo 2
RandomSetelah menikah, fafa dan sidik memutuskan untuk tinggal di Stockholm, Swedia. Sidik dan fafa tinggal di sebuah apartemen mewah disana. Mereka memutuskan untuk tinggal di apartemen karena tidak mau banyak merepotkan orang tua sidik. Sebagai pengacar...
