#28

17 3 0
                                        

Jam dinding di kamar menunjukkan pukul 02.47 dini hari.

Semua orang di rumah sudah tertidur, kecuali Sidik.

Ia duduk di sisi tempat tidur dengan tatapan tajam menembus gelap, sementara tangan kanannya perlahan mengelus rambut Fafa yang terlelap dengan damai di sampingnya.

Di luar, angin malam bergerak lembut, menimbulkan suara lirih dari ranting-ranting pohon di taman belakang.

Namun telinga Sidik menangkap sesuatu yang lain — suara berbisik yang datang entah dari mana.

"Dia sudah terpilih... waktu tinggal menunggu..."

Sidik menarik napas panjang. Ia tahu, sejak entitas penjaga itu muncul sore tadi, batas antara dunia mereka dan dunia roh mulai menipis.

Biasanya, bisikan-bisikan seperti itu muncul hanya ketika ada energi besar yang belum stabil — dan itu berarti, bayi mereka.

Fafa menggeliat pelan dalam tidurnya, lalu tiba-tiba merintih kecil sambil memegangi perutnya.

"Yang..." gumamnya pelan.

Sidik langsung menunduk, menatap wajah istrinya. "Sayang, kamu mimpi buruk?"

Fafa membuka mata perlahan, keringat dingin membasahi dahinya. "Aku liat... seorang anak kecil, Yang. Wajahnya pucat... tapi matanya, matanya biru kayak langit."

Sidik menatapnya dalam-dalam. "Anak itu ngomong sesuatu?"

"Iya..." Fafa menelan ludah, suaranya nyaris bergetar. "Dia bilang, *'Aku udah di sini, tapi jangan biarkan mereka datang dulu.'*"

Sidik membeku sesaat. Kalimat itu bukan sekadar pesan biasa.

Ia memegang tangan Fafa, lalu memejamkan mata, mencoba merasakan energi di sekitar.

Dan benar saja — dari arah perut Fafa, muncul getaran hangat yang sangat kuat.

Energi itu berdenyut seperti nadi, menyebar ke udara, membuat lampu kamar bergetar pelan.

Fafa menatap Sidik dengan mata berkaca-kaca. "Yang... kenapa lampunya bergetar?"

Sidik memeluknya lembut. "Tenang, sayang. Itu energi dari bayi kita. Dia mulai bereaksi."

Fafa menatap suaminya, sedikit takut tapi juga heran. "Bereaksi ke apa, Yang?"

Sidik menatap ke luar jendela, di mana langit tampak berawan pekat tanpa bintang. "Ke sesuatu yang datang mendekat."

---

Dua jam kemudian — pukul 04.50.

Fajar belum benar-benar muncul, tapi langit mulai memucat. Fafa sudah tertidur lagi, sementara Sidik masih berjaga.

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari lorong luar kamar. Pelan tapi jelas.

Sidik berdiri dan membuka pintu, berharap itu hanya Arum atau Tiara. Tapi lorong kosong.

Hanya aroma wangi melati samar yang tertinggal di udara.

Ia menatap ke bawah tangga... dan di sana, samar terlihat bayangan kecil melintas cepat.

Sidik turun perlahan, langkahnya hati-hati tapi mantap. Saat sampai di ruang tamu, ia berhenti.

Di tengah ruangan, berdiri sosok anak kecil berambut panjang sebahu, mengenakan gaun putih lusuh. Wajahnya tidak menakutkan — justru lembut, tapi matanya memancarkan cahaya biru terang yang sama seperti di mimpi Fafa.

"Siapa kamu?" tanya Sidik dengan suara tenang.

Anak itu menatapnya tanpa ekspresi.

"Aku bukan musuh. Aku datang sebelum mereka. Aku penjaga pintu."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Nov 07, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

My Indigo 2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang