Sembilan

507 6 2
                                        

"Ciee ciee... udah ada yang berani pegang-pegangan tangan, nih??"

"MENYALA ABANGKUHH!"

"Saya takut Acha hilang. Bunda kan tau sendiri kalau Acha suka jelalatan."

Acha sontak melototkan matanya ketika Gestara menyudutkan dirinya di depan Bunda.

"Selagi gak jelalatan cari duda, gapapa kan, Cha?"Bunda menarik lembut tangan Acha untuk dipeluknya.

"Bunda nggak?"tanya Sadewa.

"Nggak apa maksud kamu?"judesnya.

"Nggak jelalatan cari duda?"

Plak!

"Ndasmu!"

"Atitt, Bunda.."Sadewa mengelus-elus punggung tangannya yang sehabis di pukul oleh Maira.

"Awas, loh... nanti malem bisa di datengin Bapaknya kalian, loh..."ucap Acha menakut-nakuti.

"Gapapa sumpah gapapa, gue malah pengen di datengin sama almarhum Ayah biar bisa minta di peluk..."Sadewa mendongak, menatap langit-langit rumah sakit seraya tersenyum, dan pemandangan itu membuat Maira dan Gestara terdiam canggung, berbeda dengan Acha yang langsung merasa bersalah atas ucapannya yang berhasil membuat suasana menjadi hening.

"Duh... salah ngomong kayaknya gue.."tanpa sepengetahuan Maira, Acha menepuk mulutnya sendiri sembari merutuk di dalam hati.

"Acha udah makan, cantik?? Ih, Bunda kangen banget gak ketemu sama Acha selama tiga hari ini. Gimana sama Gestara? Dia apa-apain kamu gak?"cecar Maira, berusaha mencairkan suasana.

"Acha juga kangen banget sama Bundaaa... tentang Dokter Gestara, dia nyebelin banget asli, Bun. Cuman ketutup sama tampangnya aja."

Maira terkekeh dan mengelus-ngelus surai halus Acha.

"Emang iya, Cha. Tapi Acha tenang aja... Nanti Bunda bakal sunatin Gestara lagi kalau dia nakal sama kamu."

Gestara langsung mendelik dan reflek menyilangkan kedua kakinya sambil berdiri.

"Sunatin sekarang aja, Bundaaa!"perintahnya.

"Jangan dong, nak. Nanti kalian tidak bisa memproses cucunya Bunda dong kalau Gestara nya di sunat sekarang?"

Kali ini giliran Gestara yang tersenyum kemenangan ke arah Acha.

"Eh, ada Bu Maira... selamat siang, Bu.."

Maira mengalihkan perhatiannya lalu tersenyum ramah kepada Reynald dan juga Linda yang baru datang.

"Siang juga, Rey. Gimana kabar kamu?"

"Sehat jasmani rohani sampe sendi-sendi, Bu. Hehe..."

"Kapan nih nikah?"

"Buset, Bu. Mentang-mentang udah mantu, yaa??"

Maira tertawa lalu menoleh pada Melinda yang masih mengulaskan senyum kepadanya.

"Sama Melinda aja, Rey. Toh, kalian sama-sama jomblo, kan?"

Keduanya saling memandang dan berseru kompak.

"Gak!"

"Gak!"

"Ciee ciee, kompak. Biasanya kalau kompak itu pertanda jodoh tauu..."sahut Acha, semakin bertingkah manja terhadap Maira seraya melemparkan tatapan meledek ke arah Linda.

"Bener tuh apa kata Acha!"timpal Dewa ikut-ikutan.

"Apasih, Malih! Ikut-ikutan aja!"ketusnya.

"Sorry, Kak.."Sadewa langsung bersimpuh di hadapan Acha.

The Doctors Is My Husband [Sedang direvisi]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang