3. Dibully

3.5K 140 2
                                        

"Rasanya sakit tapi gak sesakit dibentak Ayah Sam Bunda, apalagi dicaci-maki Sama Abang"

~Samudra Anka~


••SAMUDRA BERCERITA ••

    
Paginya, Samudra sudah siap dengan seragam yang sudah terpasang rapi di tubuhnya, pagi-pagi tadi Bi Minah membuka pintu dan terkaget ketika menemukan samudra yang terbaring di lantai dengan tubuh kedinginan.
   
Wajah Samudra kini sudah terlihat pucat karena ia yang terkena angin dan juga air hujan sepanjang malam, menyebabkan Samudra kini merasa kalau tubuhnya lemas dan juga suhu tubuhnya yang hangat.
    
walaupun begitu samudra kini sudah siap dengan seragam sekolahnya, tak lupa senyum yang ia terapkan pada bibir kecilnya, mencoba melupakan kejadian yang ia alami tadi malam.
20
    
"Semangat samudra karena memakai topeng juga perlu tenaga"batin Samudra saat menatap pantulan dirinya dari cermin.
    
Samudra mulai berjalan menyusuri rumah yang masih terlihat gelap karena penghuninya yang memang masih belum  bangun.
    
Ia sengaja berangkat pagi agar tak bertemu anggota keluarganya, ia ingat apa yang terakhir kali Bundanya katakan waktu itu "jangan muncul di hadapanku kau membuatku kehilangan nafsu makanku" sejak saat itu Samudra selalu berangkat lebih pagi menghindari anggota keluarganya yang mungkin akan melihatnya.
    
"Aden udah mau berangkat"ucap Bi Minah yang tak sengaja melihat Samudra
    
"Iya, Samudra pergi dulu ya bi"pamit samudra kepada sang Bibi
   
Sekelebatan Samudra melihat sang Abang yaitu Skala tengah berada di anak tangga sebelum ia pergi.
    
Samudra berjalan menelusuri trotoar, butuh waktu 47 menit untuk sampai di sekolahnya dengan berjalan kaki, ia tak memiliki uang untuk menaiki kendaraan umum, dan ayahnya tak pernah memberinya uang saku, biasanya ia mendapatkan uang dari kerja part time di caffe, namun sekarang uangnya itu semakin menipis sehingga mengharuskan dia untuk lebih berhemat lagi.
    
"Syukur deh gak telat"

Samudra menghela nafas lega saat berhasil sampai di sekolahan, terlihat sudah cukup banyak murid yang datang karena jam telah menunjukkan pukul 06:40, samudra juga bisa melihat sosok abangnya Skala yang saat ini tengah berbincang-bincang dengan temannya di area parkiran.
    
Padahal ia sudah berangkat pagi tapi sang Abang tetap datang lebih dulu, tidak heran  karena ia yang memang berangkat dengan berjalan kaki, berbeda dengan sang Abang yang berangkat menaiki motor sport kesayangannya.
    
Samudra berjalan ke arah kelasnya mengabaikan tatapan merendahkan dari semua siswa yang ada di sekolahnya, dia sudah terbiasa dengan tatapan seperti itu, meski ia sering merasa sedikit tersinggung akan hal itu.
    
Bahkan saat di kelas pun, semua teman kelasnya juga menatapnya dengan tatapan yang merendahkan.

•• SAMUDRA BERCERITA ••

    
pelajaran sudah dimulai, guru tengah menjelaskan materi, terlihat beberapa murid yang memilih menelungkupkan kepalanya di meja karena pusing dengan apa yang di jelaskan guru tersebut.
    
"Baiklah silahkan kerjakan halaman 50-57"ucap Bu Astutik
    
"Heh bisu, kerjain punya gue nih"ucap siswa yang berada di depannya Saka Abianta.
    
"Nah bener tuh, nih punya gue sekalian"ucap Delon Orlando teman sebangku Saka.
   
"Aku gak bisa, aku harus ngerjain punyaku sendiri, kalo nggak aku di marahin Bu guru nanti"tulis Sam di notebooknya.
   
"Tinggal kerjain kek Bacot bener lu anjing"maki Saka
    
"Tapi aku juga harus ngerjain punyaku sendiri"tulis samudra lagi
    
"Emang gue pikirin,cepetan njing"ucap Delon kemudian melempar kasar bukunya ke arah Samudra.
    
Samudra akhirnya memutuskan untuk mengerjakannya, dalam hatinya ia hanya bisa mengucapkan kata-kata yang membuatnya bersabar.
    
Kringgg kringggg
    
"Saya akhiri pelajaran hari ini, untuk tugas bisa di lanjutkan di rumah, sekian dari saya terimakasih"ucap sang guru kemudian pergi meninggalkan kelas saat bel istirahat berbunyi.
    
"Bawa buku gue kerjain, kalo Sampek Lo lupa tunggu aja akibatnya, cabut"ucap Delon kemudian pergi diikuti oleh Saka.
    
Semua murid kini mulai berhamburan menuju kantin untuk mengisi perut mereka atau sekedar meredakan haus saja, berbeda dengan Samudra yang memilih untuk berjalan menuju ke arah toilet.
    
Sedari tadi pelajaran Samudra sudah merasakan pusing di kepalanya yang semakin terasa, begitupun tubuhnya yang semakin lemas, selain itu ia juga belum makan apapun dari kemarin malam, Samudra akan keluar dari toilet, tapi tertunda kala empat orang pemuda berdiri menghadang dirinya agar tidak keluar dari toilet.
    
"Wesss si bisu nih, bagi duit dong"ucap seorang siswa bernama Dimas kepada Samudra yang tengah berdiri di hadapannya tersebut.

SAMUDRA BERCERITA || ENDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang