"Sam udah Lelah"
~Samudra Anka~
Lagi-lagi setelah semua kejadian yang terjadi, Samudra di paksa untuk melupakan, seperti saat ini, Samudra sudah siap untuk pergi ke sekolah melupakan semua yang terjadi tadi malam.
Hari ini Samudra memakai baju Pramuka berbalut Hoodie hitam yang melekat pada tubuhnya, tubuh rinkik itu kini terlihat semakin kurus, pipinya kini juga nampak semakin tirus.
Samudra berjalan menuju halte Bus yang ada di dekat rumahnya, sambil menunggu ia juga mendengarkan musik lewat earphone yang saat ini sudah terpasang apik di telinganya.
Lagu tahun 90 an mengalun apik di telinganya, Samudra terus mendengarkan musik di sepanjang jalannya, tak terasa akhirnya ia sampai di dekat sekolahan.
Samudra melepas earphone yang terpasang di telinganya, ia berjalan dengan santai sesekali menatap ke arah beberapa murid yang juga terlihat baru datang sepertinya.
Samudra berjalan ke kelasnya dengan kepala menunduk, sudah terlalu banyak hal ia alami sampai ia bahkan takut untuk hanya sekedar mengangkat kepalanya.
•• SAMUDRA BERCERITA ••
Hari ini pelajaran pertama adalah olahraga, saat ini Samudra dan teman sekelasnya sudah berada di lapangan menunggu sang guru olahraga.
"WOY GURU-GURU RAPAT WOY"teriak seorang siswa di barengi dengan sorakan gembira dari murid-murid yang lain.
"Beneran gak nih"tanya salah seorang siswi.
"Iya anjir, tapi kita di suruh main basket buat ngisi jamnya"tambah siswa tersebut.
Samudra kini tengah duduk di pinggir lapangan menatap para siswa laki-laki yang tengah bermain basket dan siswi perempuan yang hanya duduk sambil memegang kipas di tangannya.
"WOY BISU SINI LO"teriakan Saka berhasil mengalihkan perhatian semua murid SMA DEWANGGA, dikarenakan hari ini semua kelas jamkos, jadi kelas lain pun ikut berada di luar meski hanya untuk sekedar mencari angin saja.
"Kenapa?"tanya Samudra bingung.
Bughhh
Saka langsung melempar bola basket ke arah wajah Samudra, Samudra yang tak sempat menghindar akhirnya tersungkur karena hantaman keras dari bola basket.
"Hhhhhhh mampus banget"tawa dari Saka dan anak-anak kelasnya langsung mengudara kala melihat Samudra yang tersungkur.
Tes
Tes
Darah mengalir dari hidung Samudra akibat dari hantaman keras bola basket, sedangkan yang lain malah semakin tertawa kala melihat wajah menyedihkan dari Samudra.
"Kalian kenapa sih, Samudra salah apa sama kalian?"tulis Samudra pada notebooknya.
"Lo masih nanyak salah Lo apa?"ucap Saka menatap tajam ke arah Samudra.
"Kita itu jijik ngeliat orang bisu kayak Lo, harusnya Lo sekolah di tempat orang-orang yang sama menjijikkannya kayak Lo, bukan sekolah di tempat orang normal kayak gini"ucap Delon sarkas, tak lupa kakinya yang ia gunakan untuk menendang tubuh milik Samudra.
"Tapi aku juga manusia sama kayak kalian"tambah Samudra.
"Sama?, najis banget kita disamain sama orang cacat kayak Lo, ya gak, hahaha"ucap Saka di akhiri dengan tawa yang menghina.
"Lo tau, harusnya orang cacat kayak Lo tuh mati aja, menuh-menuhin bumi aja anjing"sarkas Delon yang di jawab tawa oleh anak murid lainnya, bahkan kelas lain pun sudah ikut menertawakan Samudra.
Nah bener tuh mending mati aja
Mati aja Lo bisu
Huuuu mati Sono Lo
Bener tuh menuh-menuhin bumi aja
Sialan bener banget
Mati
Mati
Mati
Mati
"Tanpa kalian minta pun, Sam juga bakalan pergi kok, tapi sebentar lagi"batin Samudra kala mendengar ucapan dari seluruh murid yang ada di sana.
Tangannya ia gunakan untuk melindungi tubuhnya dari pukulan yang diterimanya dari anak-anak lain.
Samudra merasa hatinya begitu sesak, waktunya juga tinggal sebentar lagi, dan dia pasti mati, tapi kenapa?, kenapa mereka harus mengatakan hal yang begitu menyakitkan kepadanya.
Ia juga masih manusia, orang bisu sepertinya pun masih memiliki hati, sekali lagi rasanya Samudra ingin berteriak pada dunia kalau dirinya juga tidak ingin dilahirkan seperti ini.
Ia tersiksa, nyatanya semua orang membenci kehadirannya bahkan keluarganya sendiri.
Selama ini ia bisa menahan hinaan apapun yang di lontarkan orang lain, tapi hari ini hatinya benar-benar remuk saat banyak orang yang mengharapkannya mati, padahal tanpa mereka tahu, ia memang sedang berjuang di antara hidup dan matinya.
Ia lelah sekarang, dari semua hinaan yang pernah di layangkan padanya ini adalah hal yang paling menyakitkan baginya.
Samudra mendongak, matanya menatap semua murid-murid yang kini tertawa seakan yang mereka katakan itu adalah candaan yang begitu lucu.
Mata Samudra tak bisa lagi menahan cairan bening yang keluar dari pelupuk matanya, ia ingin menutup kedua telinganya, ia tidak ingin mendengarkan kata-kata menyakitkan dari mereka.
Kenapa saat tuhan menciptakannya menjadi bisu, ia juga tidak menciptakannya untuk menjadi tuli juga, agar ia tidak mendengar perkataan dari orang-orang yang menyakitinya.
"Samudra manusia, bukan hewan, tapi kenapa semua orang mengharapkan kematiannya tanpa beban sedikitpun"batin Samudra dengan air mata yang tak berhenti keluar dari pelupuk matanya.
Samudra berdiri dengan sisa tenaganya ia berlari meninggalkan semua orang yang menertawakannya, ia pergi meninggalkan sekolah, tak peduli jika nanti ia akan di hukum tapi ia tak ingin tetap tinggal ditempat dimana kematiannya bahkan diharapkan.
•• SAMUDRA BERCERITA ••
Samudra terus berlari sampai akhirnya dia berhenti di rumah yang selama ini menjadi tempat tinggalnya, rumah yang memberikan banyak rasa sakit pada dirinya.
Ia berlari menuju kamar, saat sampai di kamar ia langsung menjatuhkan tubuhnya di lantai.
Kata-kata tadi, semua perlakuan dari orang-orang seakan menjadikan rasa sakit tersendiri baginya.
"Nenek Samudra gak diharepin di manapun"ucap Samudra menatap ke arah figura foto milik Neneknya.
"Samudra butuh Nenek"ucap Samudra memeluk figura tersebut.
Nyatanya sekarang ia benar-benar sendiri, semua orang yang menerimanya semua sudah pergi meninggalkan Samudra, sekarang Samudra merasa tak memiliki tempat untuk pulang.
Ini memang rumahnya tapi di sini pun Samudra juga tak dapat merasakan kebahagiaan, ini memang rumahnya, tapi hanya sekedar rumah bukan tempat pulangnya.
Rasanya sejak keluarganya dan orang-orang tau tentang kecacatannya ia tak pernah sekalipun melihat tubuhnya tanpa luka atau pun lebam.
Setiap hari pasti selalu ada luka baru yang di dapat tubuhnya, entah itu dari keluarganya sendiri atau bahkan dari orang lain.
Alasannya sepele, yaitu karena mereka jijik melihat orang bisu sepertinya.
~notqueen_1~
KAMU SEDANG MEMBACA
SAMUDRA BERCERITA || END
Teen FictionAndai Samudra bisa bicara, para penyelam takkan perlu menyelam untuk mengetahui isi didalamnya. Andai Samudra bisa bicara, Palung Mariana takkan menjadi misteri yang tak kunjung terpecahkan meski sudah lama. Andai Samudra bisa bicara, segitiga Bermu...
