17. Sendiri

2K 107 6
                                        



Pada akhirnya semua selalu berakhir dengan kesendirian.

Pagi ini Samudra di bangunkan oleh beberapa suster yang datang untuk mengecek keadaannya.

"Suster, Sam boleh jalan-jalan ke taman?"tanya Samudra, ia cukup suntuk karena berada di ruang rawat sendirian.

"Tentu"ucap suster kemudian membantu Samudra untuk naik ke kursi roda kemudian mendorongnya ke arah taman, saat telah sampai di taman susterpun meninggalkan Samudra sendiri untuk menikmati waktunya.

"Jika ada sesuatu kau bisa ke sana untuk meminta tolong pada suster yang berjaga di sana"ucap Sang suster sebelum meninggalkan Samudra

"Terima kasih"ucap Samudra dengan tersenyum.

Di taman Samudra dapat melihat beberapa pasien lain yang tengah berjalan-jalan entah itu ditemani keluarga, teman ataupun yang lainnya.

Rasa sesak menyeruak kuat dari dada Samudra kala melihat pemandangan yang tak bisa ia rasakan kini terlihat dihadapannya.

Samudra kini hanya diam sesekali memainkan infus yang ada di tangannya, beberapa orang yang lewat pun menatap ngeri ke arah Samudra takut jika jarum infusnya nanti akan tercabut dari tangannya.

Samudra mendorong kursi rodanya ke arah suster yang tengah berjaga, ia sedikit bosan karena hanya diam saja tapi di ruang rawat inap malah akan semakin bosan.

"Ada apa, adek perlu sesuatu?"ucap Sang suster kepada Samudra.

Samudra mengambil bolpoint yang ada di meja kemudian mulai menuliskan kalimat di telapak tangannya.

"Suster bisa antar Samudra balik gak?"

"Oh kamu mau ke ruang rawat kamu, sini biar suster bantu"ucap sang suster kemudian mendorong kursi roda Samudra setelah menitipkan ruang jaga ke salah satu Suster lain yang lewat.
    
"Terima kasih"ucap Samudra sambil tersenyum manis.
    
"Kalo ada apa-apa panggil suster ya"ucap sang suster setelah membantu Samudra naik ke ranjang pesakitannya.

•• SAMUDRA BERCERITA ••


    
Di tempat lain kini terlihat seorang pemuda yang tengah duduk di balkon kamar dengan memandang ke arah langit malam yang terlihat sangat gelap karena mendung.
    
Dia Ken, sedari tadi ia tidak bisa fokus saat mengerjakan tugas kuliahnya, pikirannya selalu melayang ke kejadian kemarin saat ia melihat Samudra yang tergeletak takberdaya dengan darah yang berceceran di mana-mana.
    
Kemarin Bi Minah sudah memberitahu keadaan Samudra, katanya itu hanya kelelahan biasa tapi entah kenapa Ken merasakan kalo itu bukan sekedar kelelahan melainkan sesuatu yang lebih membahayakan lagi.
    
Bukan hanya Ken baik Skala, Stevan maupun Sonya juga merasakan hal yang sama, mereka merasakan perasaan gelisah di hati mereka, tapi nyatanya ego mereka lebih tinggi, rasa malu mereka lebih tinggi daripada perasaan khawatir yang mereka miliki.
    
Sedangkan Bi Minah, ia sangat khawatir dengan keadaan sang tuan muda meskipun sang dokter mengatakan kalau sang tuan muda sudah baik-baik saja, baik Stevan maupun Sonya tak mengizinkan siapapun untuk datang menjenguk Samudra sehingga Bi Minah hanya bisa sabar menunggu kabar dari sang tuan muda.

•• SAMUDRA BERCERITA ••

    

Di rumah sakit saat ini Samudra sudah bangun setelah tidur selama 2 jam, selama di rumah sakit yang bisa ia lakukan hanya tidur, makan, minum obat, tanpa ada seorangpun yang menjenguknya membuat ia hampir mati kebosanan karnanya.
   
Samudra menatap seorang Dokter yang baru saja memasuki ruangannya, tak lupa dengan beberapa peralatan di tangannya dan seorang suster di belakangnya.
    
"Selamat malam, bagaimana?apa sudah merasa lebih baik?"tanya sang Dokter sambil mengecek keadaan Samudra, sang suster dengan cepat memberikan Samudra bolpoin dan kertas saat tau kalau Samudra akan berbicara.
    
"Udah baikan kok dok, tapi dok emang lebamnya gak bisa di tutupin ya"ucap Samudra menunjukkan beberapa lebam keunguan yang terlihat cukup jelas di kedua tangan bahkan kaki Samudra.
    
"Sayangnya tidak ada"ucap sang Dokter
    
Bahu Samudra sedikit merosot saat mendengar ucapan sang dokter, ia bingung memikirkan bagaimana cara untuk menyembunyikan  lebam di tubuhnya karena jujur ia sekarang bukan seperti pasien sakit tapi seperti pasien yang terkena penganiayaan saat melihat lebam-lebam keunguan tersebut.
    
"Kalau kau ingin menghilangkan lebam itu maka kau harus melakukan kemoterapi agar sembuh, setelah sembuh pasti lebam-lebamnya akan hilang"ucap sang dokter panjang lebar.
    
"Tapi saya gak mau kemoterapi Dok"ucap samudra dengan kepala menunduk.
    
"Hufft, baiklah saya tunggu kabar baiknya, kalau kamu mau kemoterapi kamu bisa langsung datang kesini"ucap sang Dokter dengan menepuk pundak Samudra pelan kemudian pergi meninggalkan ruangan Samudra.
    
Sunyi dan sepi kembali menghampiri Samudra kala sang dokter telah keluar dari ruangan, di saat sunyi seperti ini Samudra selalu merasa kalau ia sendirian di dunia ini meski ia memiliki keluarga.
    
Apakah tak ada satupun dari mereka yang ingin tahu keadaannya?
    
Apakah tak ada satupun dari mereka yang menghawatirkannya?
    
Apakah tak ada satupun dari mereka yang memiliki rasa kasih sayang dengannya meski sedikit saja?
    
Kata-kata itu terus berputar di kepalanya bagai kaset rusak, setiap hari, jam, menit, bahkan detik Samudra hanya menunggu kedatangan dari salah satu keluarganya meski hanya sebentar atau hanya untuk menanyakan keadaannya saja.
    
Sebegitu tak bergunanyakah ia?
    
Sebegitu tak berharganya kah ia?
    
Kenapa?
    
Kenapa?
    
Ingatannya kembali pada hari dimana sang Abang Skala tengah sakit, bahkan hanya sakit demam tapi semua orang begitu panik, bahkan ia bisa melihat wajah panik dari sang Abang Ken, sang Ayah sang Bunda, tapi saat ia tengah sakit tak ada seorangpun yang datang meski hanya sekedar untuk menanyakan kabarnya.
    
Tak ada yang mengirimkannya pesan sekedar untuk basa basi saja, bahkan saat ia penuh dengan darah kemarin pun seluruh keluarganya hanya menatapnya deengan tatapan dingin, terutama sang Ayah, mesih teringat dengan jelas perkataan dingin sang Ayah saat melihat ia tergeletak tak berdaya.
    
Samudra mengambil ponsel di meja naskah, saat dibuka hal pertama yang ia lihat adalah sebuah foto keluarga tapi yang membedakan adalah ia tak ada di dalam foto tersebut.
     
"Dulu Ayah sama Bunda gak pernah ninggalin Sam kalo Sam lagi sakit, bahkan Abang Sampek gak mau sekolah karena nungguin Sam"ucap Samudra memandang sendu ke arah foto tersebut.






~notqueen_1~



SAMUDRA BERCERITA || ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang