Bahagia itu sederhana, tapi gak sesederhana itu kalo untuk Samudra
17 tahun yang lalu, terlihat seorang pria paru baya tengah berdiri di depan ruangan bersalin ditamani dua orang anak berumur 2 dan 5 tahun, pria itu terlihat begitu cemas menatap ruang bersalin sesekali mengusap lembut kepala kedua putranya.
Sudah 1 Jam tepatnya di jam 21:00 mereka berada di depan ruang bersalin tapi belum juga ada tanda-tanda kalau dokter akan keluar dari ruangan tersebut, pria paru baya itu semakin menatap khawatir ke arah ruang bersalin kala dokter juga tak kunjung keluar padahal waktu sudah menunjukan 22:013, artinya sudah satu jam lebih.
"Ayah bunda gak papa kan?"tanya anak berusia 5 tahun tersebut.
Sang ayah menatap lembut sang anak pertama, Kenio Arsaka Dewantara yang saat ini terlihat cemas dengan keadaan sang ibu yang tengah berada di ruang bersalin, Ken kembali memandang ruangan putih yang menjadi tempat
sang Bunda saat ini.
"Bunda gak papa sayang, bentar lagi pasti keluar, tunggu sebentar ya?"ucap lembut sang ayah memberi pengertian, ia tahu bahwa putra sulungnya itu khawatir akan tetapi ia tak bisa berbuat apa-apa.
Sedangkan putra keduanya skala Rafka Dewantara hanya menatap bingung ke arah sang ayah dan juga sang Abang, ia baru berusia 2 tahun jadi ia bahkan tak mengerti apa yang di ucapkan oleh kedua orang dewasa tersebut.
30 menit berlalu, dokter akhirnya keluar dengan seorang bayi laki-laki yang berada di gendongannya, rasa lega berhasil melanda hatinya saat melihat bayi mungil yang terlihat baik-baik saja.
"Selamat tuan"ucap sang dokter sambil tersenyum dan menyerahkan bayi mungil yang berada di gendongannya kepada pria paru baya di hadapannya, dia Stevano Angga Dewantara.
Stevano Angga Dewantara merupakan seorang pria berumur 30 tahun, ia merupakan seorang pengusaha, dan juga CEO dari Dewantara Group yang saat ini tengah melejit karena kehebatannya.
"Terimakasih dokter"ucap Stevan sambil menerima bayi mungil itu, senyumnya terbit kala melihat bayi mungil yang ada di dekapannya itu.
Perasaan haru juga menghinggapinya saat melihat bagaimana bayi mungil yang ia tunggu tunggu bersama sang istri Sonya Ariel Dewantara kini telah lahir ke dunia, ia bahkan begitu antusias saat melihat bayi mungil yang selalu ia dan istrinya nanti-nantikan kini telah lahir di dunia dengan keadaan selamat.
"Samudra Anka Dewantara, selamat datang di dunia putra ayah"ucap Stevan menatap wajah sang putra yang masih tak terusik dari tidurnya.
"Bagaimana keadaan istri saya Dokter?"tanya Stevan
"Keadaan ibu Sonya baik-baik saja hanya perlu istirahat, setelah suster memindahkannya ke ruang rawat"jawab sang Dokter.
•• SAMUDRA BERCERITA ••
Ruang rawat kini terasa begitu ramai meski hanya berisi 4 orang dan satu bayi mungil yang saat ini tengah berada di gendongan sang Bunda, terlihat sekali bagaimana antusiasnya keluarga tersebut menyambut bayi mungil yang sekarang telah menjadi anggota baru keluarga mereka.
"Adik"ucapan itu keluar dari mulut si kecil Skala yang saat ini tengah menatap takjub kearah bayi mungil yang berada di gendongan sang bunda.
"Itu adik Ken, Skala gak punya adik wlek"ejek Ken pada sang adik yang kini berada di pangkuan sang ayah.
"NO"teriak Skala tak terima.
"Wlek itu adik Ken"ejek Ken lagi.
"ADIK SKA"teriakan Ska menggelegar kala ia merasa kesal kepada sang Abang yang sedari tadi terus menggodanya, sedangkan Ken hanya tertawa puas ketika melihat reaksi sang adik.
"Sedah- sudah ini adik kalian, jangan berantem ya, Abang juga jangan suka gangguin adeknya"ucap Sonya kepada kedua putranya yang dibalas dengan anggukan oleh keduanya.
Sonya tertawa ketika melihat raut wajah kedua putranya, tawa itu diikuti sang suami dan akhirnya kedua putranya pun ikut tertawa meski mereka bingung dengan apa yang mereka tertawakan, pemandang ini mungkin jika ada orang lain yang melihat mereka dapat menyimpulkan bahwa mereka ini adalah keluarga bahagia.
5 tahun kemudian, terlihat sepesang suami istri saat ini tengah diruangan seorang Dokter, bersama seorang anak laki-laki yang tengah di periksa oleh dokter tersebut.
Raut wajah keduanya sudah terlihat begitu cemas, menunggu apa yang akan di katakan Dokter tentang keadaan putra mereka, apalagi melihat
raut wajah dokter membuat mereka semakin cemas dan khawatir,
"Dari yang saya lihat, saya dapat menyumpulkan bahwa anak bapak dan ibu mengalami gangguan bicara atau bisa disebut juga bisu"ucap sang Dokter.
Bagaikan ada petir yang menyambar di siang hari keduanya terdiam, rasanya seperti ada sebuah batu besar yang menimpa mereka, putra bungsunya ternyata Bisu, sedangkan sang anak hanya menatap polos kedua orang tuanya, tanpa tau apa yang terjadi, tanpa tau bahwa hidupnyaakan akan berubah setelah ini.
•• SAMUDRA BERCERITA ••
Brakk
Pintu rumah dibuka kasar oleh Stevan, wajahnya terlihat begitu memancarkan emosi, seakan-akan ia bisa menghancurkan apa saja yang ada di depannya, kejadian tadi seakan membuat ia malu
"BIKIN MALU SAJA GIMANA BISA KAMU NGELAHIRIN ANAK BISU KAYAK DIA"bentak Steven menatap tajam ke arah Samudra yang kini tengah menatap polos ke arahnya.
"AKU GAK TAU MAS, KALO AKU TAU DIA BISU AKU JUGA GAK MAU NGELAHIRIN DIA"teriak Sonya kepada sang suami
"MULAI SEKARANG JANGAN ADA YANG BERDEKATAN DENGANNYA, DIA BUKAN LAGI BAGIAN DARI DEWANTARA, KALIAN NGERTI?"teriak Steven kepada semua orang yang ada di ruangan termasuk kedua putranya yang tengah berdiri di pertengahan anak tangga sejak sang ayah datang dan berteriak dengan lantangnya.
"BI MINAH, BAWA DIA KE BELAKANG, SAYA MUAK MELIHATNYA"
Bi Minah segera bergegas membawa Samudra pergi dari sana, ketika melihat kemarahan sang tuan dan sang nyonya.
"Ayah, kenapa sama adek?"tanya Ken yang mendengar semua teriakan kedua orang tuanya.
"Dengar Ken, mulai sekarang dia bukan adik kamu, dia juga bukan bagian dari Dewantara jadi jangan pernah kalian dekati dia, atau kalian akan tau akibatnya"ucap sang ayah kemudian pergi meninggalkan semua orang yang berada di ruang tamu.
"Bunda kenapa Ska gak boleh panggil adek"ucap Skala polos
"Dengarkan Bunda Skala, mulai sekarang Sam bukan adik kamu lagi, ngerti kamu"ucap Sonya sambil menggoyangkan pundak Samudra beberapa kali.
"Tapi Skala mau adek"lirih Skala pelan, ia tak mengerti,selama ini semuanya baik-baik saja lalu kenapa sekarang Ayah dan Bundanya terlihat begitu marah kepada sang adik, apa adiknya itu membuat kesalahan besar sehingga membuat kedua orangtuanya terlihat begitu marah kepadanya?.
"Kamu gak dengar apa yang Bunda bilang tadi?, DIA BUKAN ADIKMU SKALA"bentak Sonya di akhir kalimat, ia sudah sangat kesal ketika mengingat apa yang di katakan Dokter tadi, bagaimana ia bisa memiliki seorang anak cacat seperti itu? Menjijikan.
Ken yang melihat hal itu langsung dengan cepat memeluk tubuh sang adik yang gemetar ketakutan karena bentakan sang Bunda, memandang sang Bunda yang pergi menuju kamar, menghiraukan tangisan Skala dan tanda tanya besar di kepala Ken.
•• SAMUDRA BERCERITA ••
Disisi lain Samudra yang mendengar hal tersebut hanya bisa duduk ketakutan sambil menutup kedua telinganya, mengingat bagaimana sang Ayah dan sang Bunda yang tak pernah memarahinya kini malah menyebutkan namanya sambil berteriak-teriak, seakan-akan ia telah melakukan kesalahan besar hari ini.
"Bibi, Bunda sama Ayah marah ya sama Sam?"tanya Samudra kepada sang Bibik.
Bi Minah yang melihat kalimat yang ditulis Samudra akhirnya
menjatuhkan air matanya, tulisan yang tak begitu bagus bahkan bisa di katakan sangat jelek, tapi bisa membuat Bi Minah menjatuhkan air matanya saat melihat apa yang Samudra tulis.
"Aden gak boleh ngomong gitu, ayah sama Bundanya Aden cuma lagi ada masalah aja, mangkanya keliatan marah"ucap sang Bibi memberi pengertian kepada Samudra yang masih terlihat menunduk sedih.
Samudra hanya mengangguk mendengar penjelasan dari sang bibik, tanpa ia tahu mulai saat itu hidupnya berubah, semuanya berubah, meninggalkan semua kenangan yang akan selalu Samudra ingat sebagai kenangan yang paling indah yang pernah ia alami.
~notqueen_1~
KAMU SEDANG MEMBACA
SAMUDRA BERCERITA || END
Novela JuvenilAndai Samudra bisa bicara, para penyelam takkan perlu menyelam untuk mengetahui isi didalamnya. Andai Samudra bisa bicara, Palung Mariana takkan menjadi misteri yang tak kunjung terpecahkan meski sudah lama. Andai Samudra bisa bicara, segitiga Bermu...
