29. Pergi

3.6K 135 2
                                        

"Sam pamit ya"
~Samudra Anka~

    

Samudra terkekeh kala mengingat rangkaian kenangan masa kecilnya, sekarang ia juga sedang melihat ke arah laut, tapi bukan melihat senja melainkan sunrise.
    
Samudra menatap sunrise yang tak kalah indah dari Senja, sama-sama berwarna orange, dan sama-sama hanya datang sebentar.
    
Samudra menatap hamparan laut lewat tebing yang biasa ia jadikan tempat singgah saat ia merasa suntuk.
    
Di bawah tebing Samudra bisa melihat beberapa batu karang tak lupa dengan ombak air laut yang terdengar sangat keras, bahkan cukup membuat merinding.
    
Samudra mengingat rangkaian kata yang ia dengar dari keluarganya kemarin malam, bukankah jika ia melompat dari sini ia akan mati?.
    
Kemarin setelah mendengar ucapan keluarganya ia memutuskan untuk datang ke makam neneknya dan berada di sana selama seharian penuh, lalu malamnya ia pergi dan berakhir di laut, tempat yang selalu menjadi tempat favoritnya.
    
Samudra berjalan sedikit menjauh dari pinggir tebing, tangannya meletakkan kado milik ayahnya dan juga beberapa barang miliknya, langkahnya kembali ia bawa menuju pinggir tebing.

•• SAMUDRA BERCERITA ••

    
"Ayah, kalo Sam lompat, Ayah bahagia kan?"pandangan Samudra yang menyendu kini berubah menjadi kosong.
    
"Ayah, jagoan Ayah udah gak bisa bertahan lagi"ucap Samudra dengan Air mata yang jatuh dari pelupuk matanya, tapi tidak dengan bibirnya yang menyunggingkan senyum.
    
"Bunda, pangeran Bunda sekarang udah gak bisa ngangkat pedangnya lagi"ucap Samudra lirih.
    
"Abang, Adek Abang udah gak bisa main bareng Abang lagi"
    
"Nenek Samudra gak bisa nepatin janji Sam ke Nenek lagi"ucap Samudra dengan Isak tangis yang terdengar begitu menyakitkan.
    
Samudra takut, ia takut, bagaimana jika ia tiada, tapi jika ia tetap bertahan ia tak punya apa-apa lagi untuk di jadikan alasan sebagai tujuan hidupnya.
    
"Sam bakal nurutin permintaan Ayah, dulu Ayah selalu ajarin ke Sam buat gak bantah permintaan orang tua"
    
"Ayah ini hadiah Ayah"
    
"Hadiah yang Ayah minta dari Samudra"
    
"Maaf karena gak bisa jadi anak yang berguna buat Ayah"
    
"Maaf karena udah buat Bunda nyesel ngelahirin Sam"
    
"Maaf karena bikin Abang Ken sama Abang Ska malu karena punya adek kayak Sam"
    
"Sam rindu kalian"
    
Tess
    
Tess
    
Darah menetes, tapi kali ini bukan hanya dari hidung Samudra melainkan dari mulutnya juga, warna merah sekarang sudah menghiasi sweater biru yang ia pakai.
    
Sudah ia bilang, bahwa tanpa mereka minta pun, ia akan segera mati, tapi sepertinya mereka terlalu tidak sabar untuk merayakan kematiannya.
    
"Selamat ulang tahun"
    
"Selamat ulang tahun"
    
"Selamat ulang tahun Samudra"
    
"Selamat ulang tahun"
    
Hari ini adalah hari ulang tahunnya, tepat dua hari setelah ulang tahun sang Ayah adalah hari kelahirnya, dan tepat hari ini pula ia berusia 17 tahun, hari yang mungkin juga akan menjadi hari kematiannya.
    
"Aka pamit ya, semoga kalian bahagia"ucap Samudra sebelum menjatuhkan dirinya dari tebing.
    
Tubuh rinkiknya melayang sebelum akhirnya  menghantam batu karang dan berakhir tenggelam ke dasar laut, sekarang Samudra sudah benar-benar pergi, pergi ke tempat yang takkan bisa di gapai oleh orang lain.
    
"Aka sayang kalian"
     
Langit yang semula cerah kini berubah menjadi mendung, hujan deras juga mulai turun membasahi bumi, seakan ikut merasakan kesedihan dari seorang Samudra Anka.
    
Sekarang apa yang mereka inginkan telah tercapai, sekarang apa yang mereka harapkan juga telah terpenuhi.
    
Selamat karena telah berhasil, selamat.





Sedih🥲

~notqueen_1~

SAMUDRA BERCERITA || ENDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang