"Samudra mau kasih hadiah yang bagus buat ayah"
~Samudra Anka~
Pagi ini setelah kejadian kemarin Samudra memutuskan untuk tidak pergi ke sekolah, ia berniat untuk pergi dan membeli hadiah untuk sang Ayah yang sebentar lagi akan ulang tahun.
Samudra Kini sudah berada di mall, ia menatap beberapa deret barang yang mungkin akan menjadi hadiah yang bagus untuk sang Ayah.
Tapi ia hanya memiliki uang sedikit, jadi ia akan memilih barang yang harganya sesuai dengan uang yang ia miliki.
"Sam gak tau Ayah suka apa"ucap Samudra menghela nafas.
Sedari tadi yang ia lakukan hanya berkeliling mall, ia bingung karena ia tidak tahu apa yang di sukai oleh Ayahnya.
Langkah Samudra terhenti kala melihat toko sepatu yang ada di depannya, matanya tertuju pada salah satu sepatu yang di pajang di etalase toko.
Sepatu kerja berwarna hitam, Samudra berpikir mungkin itu akan sangat bagus jika di pakai oleh sang Ayah.
Samudra berjalan masuk ke toko untuk menanyakan harga dari sepatu tersebut.
"Selamat pagi, ada yang bisa di bantu"ucap salah satu pegawai toko dengan ramah.
"Pagi, sepatu yang di etalase depan itu berapa ya?"tulis Samudra pada kertas kemudian memberikannya pada salah satu penjaga toko.
"Yang itu harganya murah dek lagi promo, cuma 1 juta aja"ucap sang pelayan toko saat melihat tulisan dari Samudra.
Senyum Samudra terbit kala mendengar apa yang di ucapkan oleh penjaga toko, setelah lama mengitari mall akhirnya ia mendapatkan hadiah yang sesuai untuk Ayahnya.
Setelah berbincang-bincang akhirnya Samudra memutuskan untuk membeli sepatu tersebut, sedari keluar dari toko senyumnya tak berhenti terbit.
Sebelum pulang Samudra memutuskan untuk pergi ke makam sang Nenek terlebih dahulu, di tangannya kini juga sudah ada bunga mawar untuk sang nenek.
•• SAMUDRA BERCERITA ••
"Nenek Samudra Dateng lagi"ucap Samudra saat sampai di makam sang Nenek.
Samudra menatap batu nisan dari sang nenek, setiap kali datang kesini ia selalu merasa sangat merindukan sang Nenek.
"Nenek kemarin Samudra di bully lagi sama temen-temen, katanya mereka jijik sama Samudra"ucap Samudra sambil mengelus batu nisan sang Nenek.
"Kayaknya bentar lagi Sam bakal nyusul nenek"ucap Samudra di akhiri dengan kekehan.
"Maaf ya setiap kesini pasti Sam cuma bisa cerita sedih aja, soalnya Sam juga bingung kapan bahagianya hehehe"ucap Samudra kembali tapi kali ini di barengi dengan air mata yang meluruh dari kedua pelupuk matanya.
"Sam rindu nenek"
"Nenek hari ini Samudra beliin kado buat Ayah, nenek mau lihat gak"ucap Samudra kemudian memperlihatkan sepatu yang ia beli untuk sang Ayah.
"Kira-kira Ayah suka gak ya? Soalnya Sam gak tau Ayah suka apa, kalo ada Nenek, Nenek pasti Bakal kasih tau Sam Ayah suka apa"ucap Samudra
"Nenek kalo semisal Sam beneran nyusul Nenek, Nenek gak bakal marah kan?, soalnya waktu Sam sekarang tinggal 43 hari lagi"ucap Samudra
"Banyak hal yang pengen Sam lakuin selama 43 hari ini"
"Kayaknya Sam kebanyakan cerita ya, Nenek pasti bosen denger Sam cerita terus, Nenek Sam pulang dulu ya udah siang solnya takut di cariin Bunda sama Ayah"ucap Samudra, padahal ia tahu bahkan kalau ia tak pulang sekalipun keluarganya tak akan mencarinya.
Itu hanya kebohongan untuk menghibur dirinya sendiri.
Samudra berjalan menyusuri jalan yang terlihat sepi padahal hari masih siang.
Tess
Tess
Darah menetes dari hidung Samudra, dengan cepat Samudra langsung menutupi hidungnya, tubuhnya ia bawa untuk duduk terlebih dahulu di trotoar jalan.
Samudra menatap tangannya yang kini sudah penuh akan darahnya, dulu setiap kali keluarganya memukulnya ia akan selalu terluka dan berakhir dengan adanya bagian tubuhnya yang mengeluarkan darah, tapi sekarang bahkan tanpa ada yang memukulnya sekalipun darah tetap keluar dari tubuhnya.
•• SAMUDRA BERCERITA ••
Paginya kini Samudra bangun dengan suasana hati yang gembira, nanti malam adalah ulang tahun sang Ayah, rencananya Acaranya akan di adakan di hotel nanti malam.
Brakkk
"Woy bisu sini Lo anjing"ucap Skala kepada Samudra yang saat ini tengah berdiri di balkon.
"Abang kenapa?"ucap Samudra menatap takut ke arah Skala yang terlihat marah.
Bughh
Bughh
"Lo tau gue lagi kesel banget sama orang, nah berhubung Lo di rumah gimana kalo Lo jadi samsak gue aja"ucap Skala setelah memberikan beberapa pukulan ke arah Samudra.
"Abang"
Skala menatap ke arah sekeliling kamar, matanya terhenti kala melihat seonggok boneka yang berada di atas kasur, ia ingat boneka itu adalah boneka miliknya yang ia berikan kepada Skala sewaktu kecil.
Skala berjalan ke arah boneka tersebut kemudian mengambilnya.
"Abang, Abang mau apa jangan itu punya Sam"ucap Samudra menahan tangan sang Abang.
"Lepas anjing"
Srakkk
Satu sentakan dari Skala berhasil merobek boneka milik Samudra, Samudra menatap nanar boneka yang tergeletak di lantai dengan keadaan yang mengenaskan.
"Abang kenapa robek itu"ucap Samudra dengan mata berkaca-kaca.
"Anggap aja itu karena gue lagi kesel hari ini"ucap Skala kemudian pergi meninggalkan Samudra yang terdiam dengan memandang sendu ke arah boneka miliknya.
"Bukan Sam yang bikin kesel Abang"lirih Samudra sendu.
Air mata Samudra meluruh, mungkin bagi orang lain ia terlihat kekanak-kanakan tapi bagi Samudra boneka itu begitu penting untuknya, itu adalah hadiah pertama yang ia dapat dari Skala, dan itu adalah satu-satunya kenangan yang bisa mengingatkan Samudra akan kehangatan keluarganya dulu.
Tapi kini boneka itu sudah rusak dan yang merusaknya adalah orang yang memberikannya padanya.
~notqueen_1~
KAMU SEDANG MEMBACA
SAMUDRA BERCERITA || END
Genç KurguAndai Samudra bisa bicara, para penyelam takkan perlu menyelam untuk mengetahui isi didalamnya. Andai Samudra bisa bicara, Palung Mariana takkan menjadi misteri yang tak kunjung terpecahkan meski sudah lama. Andai Samudra bisa bicara, segitiga Bermu...
