Selamat membaca guys😊🥀
•
•
•
•
5 bulan sudah berlalu sejak kejadian dimana Samudra memutuskan untuk bunuh diri, dan hari ini adalah hari kelulusan seorang Skala Rafka Dewantara.
Skala menatap hamparan murid yang ada di depannya, sejenak senyum manis milik Samudra terlintas di pikirannya.
"Hari ini saya akan menyanyikan sebuah lagu untuk orang spesial di hidup saya"ucap Skala di hadiahi sorak Sorai tepuk tangan dari para murid yang melihat.
Bunga Terakhir- Afgan
Kaulah yang pertama menjadi cinta
Tinggallah kenangan
Berakhir lewat bunga
Seluruh cintaku untuknya
Bunga terakhir
Kupersembahkan kepada yang terindah
Sebagai satu tanda cinta untuknya
Uh
Betapa cinta ini sungguh berarti
Tetaplah terjaga
Selamat tinggal kasih
Ku telah pergi selamanya
Bunga terakhir
Kupersembahkan kepada yang terindah
Sebagai satu tanda cinta untuknya
Bunga terakhir
Menjadi satu kenangan yang tersimpan
Takkan pernah hilang tuk selamanya
Bunga terakhir
Bunga terakhir
Kupersembahkan kepada yang terindah
Menjadi satu kenangan yang akan tersimpan
Bunga terakhir
Bunga terakhir
Menjadi satu kenangan yang tersimpan
Sebagai satu tanda cinta untuknya (untuknya)
Bunga terakhir
Air mata Skala tak bisa ia bendung lagi kala ia selesai menyanyikan lagu untuk sang adik, wisudanya kali ini terasa hambar, ia merindukan sang adik.
Ken yang melihat Skala turun dari panggung dengan keadaan menangis langsung bergegas menuju ke arah sang adik.
"Nanti kita ke tempat adek ya"ucap Ken sambil memeluk Skala.
Di sisi lain, Stevan yang melihat penampilan dari sang putra hanya bisa tersenyum sendu, berbeda dengan Sonya yang telah menitihkan air matanya.
•• SAMUDRA BERCERITA ••
"Adek Abang dateng"ucap Skala dengan tangis yang sudah tak dapat ia bendung lagi.
"Abang Dateng bawa mawar putih"Tamba Skala, sedangkan Ken hanya menatap kosong ke arah hamparan laut yang berada di depannya.
Dengan pelan Ken membawa Skala melangkah ke arah pinggir tebing, keduanya mendudukkan diri di sana, menatap hamparan laut yang menjadi saksi kematian adik mereka.
"Abang dateng"lirih Ken sendu.
"Aka marah ya sama Abang Ska, sama Abang Ken, sama Bunda, sama Ayah"ucap Skala tak kalah lirih.
"Maafin Abang ya, tolong biarin Abang lihat Aka buat terakhir kalinya, semarah itu Aka sampai-sampai gak mau tubuhnya di temuin"ucap Skala memandang sendu ke arah laut.
"Abang sayang Aka"ucap Skala.
Baik Ken maupun Skala kini saling merengkuh, memberikan kekuatan satu sama lain.
Tak pernah terpikirkan di otaknya kalau kepergian sang adik akan memberikan luka besar bagi mereka, rumah mereka kini terasa suram, setiap hari yang mereka lewati kini terasa begitu menyediahkan.
"Hari ini Abang wisuda, harusnya tahun depan Adek juga Wisuda kayak Abang"
Cerita Skala mengalir begitu saja, ia hanya ingin menceritakan semua yang ingin ia ceritakan, sedangkan Ken ia hanya diam mendengarkan sesekali menyahuti.
"Abang pamit dulu ya"ucap Ken dan Skala, tangannya mereka gunakan untuk mengelus batuan tebing tempat mereka duduk.
"Abang janji bakal dateng lagi"ucap Skala kemudian mulai beranjak pergi di ikuti Ken di belakangnya, sesekali mereka menengok kebelakang, menatap hamparan laut yang terlihat indah dan menenangkan.
Kini segalanya telah usai
Segalanya telah selesai
Dengan akhir yang hanya dipenuhi oleh penyesalan.
Selamat jalan Samudra.
Kamu pantas mengejar bahagiamu.
Kamu pantas mendapatkan hakmu.
Remember that after the rain a rainbow doesn't always appear :)
•• SAMUDRA BERCERITA ••
SELESAI
~notqueen_1~
KAMU SEDANG MEMBACA
SAMUDRA BERCERITA || END
Teen FictionAndai Samudra bisa bicara, para penyelam takkan perlu menyelam untuk mengetahui isi didalamnya. Andai Samudra bisa bicara, Palung Mariana takkan menjadi misteri yang tak kunjung terpecahkan meski sudah lama. Andai Samudra bisa bicara, segitiga Bermu...
