6. Rumah

2.4K 104 1
                                        

Mohon maaf nih kalo semisal ngerasa gak nyambung atau ceritanya gaje soalnya ini kemaren buatnya cuma di kasih waktu 2 Minggu, ini di buat juga keperluan tugas jadi di maklumin ya🙏🥲🙏

Niatnya sih mau di rapiin tapi kayaknya nunggu sekalian End aja sekian terima gaji
🙏🙏

Rumah bukan selalu tentang bangunan tapi juga tentang tempat yang bisa kita jadikan sandaran

•• SAMUDRA BERCERITA ••

Pagi harinya Samudra benar-benar keluar dari rumah, ia memilih pergi ke arah Taman untuk sekedar berjalan-jalan dan juga menghilangkan rasa penatnya.

Di taman ia dapat melihat pemandangan dari beberapa keluarga yang tengah berpiknik, tak heran karena memang hari ini hari Minggu sehingga banyak keluarga yang memutuskan untuk berjalan-jalan keluar rumah, bersama dengan keluarga mereka.

Saat tengah menatap hamparan bunga di depannya, Samudra di buat kaget ketika sebuah bola menggelinding dan mengenai kakinya.

"Maaf"ucap Seorang anak laki-laki dengan menggunakan bahasa isyarat, dibelakangnya terdapat seorang laki-laki paru baya yang mungkin adalah ayahnya.

"Ah maafkan putraku ia tak sengaja"ulang pria paru baya tersebut kala melihat wajah bingung dari Samudra.

"Tidak papa"balas Samudra menggunakan bahasa isyarat seperti yang dilakukan oleh anak laki-laki tadi.

"Maaf, apa kamu tunawicara?"tanya pria paru baya yang di angguki oleh Samudra.

"Ah perkenalkan ini putraku Lio, ia juga seorang tunawicara sepertimu"ucap Sang pria paru baya tadi.

Saat mereka tengah berbincang bincang tiba-tiba seorang wanita paru baya datang bersama satu orang remaja laki-laki yang mungkin lebih tua darinya dan anak laki-laki yang mungkin baru berumur 9 tahun.

"Ada apa mas, apa terjadi sesuatu kenapa lama sekali"ucap Wanita paru baya itu.

"Tidak apa-apa aku hanya sedang berbicara dengannya, ah dia sama seperti putra kita, dia tunawicara" ucap pria paru baya tersebut.

"Ah perkenalkan saya putra dan ini istri saya Sinta dan ini kedua putra saya Aska dan Gio, kamu?"ucap putra memperkenalkan keluarganya

Samudra mengambil handphonenya kemudian mengetikkan namanya agar mereka bisa tahu siapa namanya.

"Samudra"tulis Samudra pada handphone miliknya.

"Jadi kamu Samudra, apa yang kau lakukan di sini, kenapa sendiri"tanya Sinta ketika melihat remaja di hadapannya yang hanya duduk sendirian saja.

"Hanya berjalan-jalan"ucap Samudra

"Dimana orangtuamu"tanya Sinta lagi

"Mereka ada di rumah"ucap Samudra yang dijawapi anggukan oleh mereka.

"Bagaimana kalau kau ikut dengan kami, bukankah lebih ramai lebih menyenangkan"ucap Sinta

Sebenarnya Samudra sedikit ragu saat menerima ajakan dari orang yang bahkan baru ia kenal, tapi melihat mereka yang sepertinya bukan orang jahat Samudra akhirnya memutuskan untuk ikut bergabung dengan mereka.

•• SAMUDRA BERCERITA ••


Samudra saat ini tengah duduk di karpet bersama dengan sebuah keluarga yang baru ia temui tadi, hangat itulah yang Samudra rasakan saat bersama mereka, cara mereka berbicara, tertawa semuanya terasa begitu hangat.

"Ada apa kenapa kau hanya duduk saja"ucap Putra saat melihat samudra yang sedari tadi hanya menyimak percakapan mereka.

"Apa aku boleh bertanya?"ucap Samudra menatap ke arah semua orang yang saat ini juga tengah menatapnya.

"Tentu saja apa yang ingin kau tanyakan?"ucap lembut Sinta kepada Samudra.

"Apakah kalian menyayangi Lio?"tanya Samudra dengan bahas isyarat, sambil menatap kearah putra dan juga Sinta yang saat ini tengah menatap bingung ke arahnya.

Sungguh kata-kata itu keluar dari Samudra dengan sendirinya, melihat mereka yang tak mempermasalahkan kekurangan dari putranya seakan membuat Samudra bertanya-tanya kenapa?.

"Tentu saja dia putra kami, darah daging kami bagaimana mungkin kami tidak menyayanginya"ucap Sinta menatap lembut ke arah Samudra yang berada di hadapannya.

"Meskipun ia seorang tunawicara?"tambah Samudra

"Mau seperti apapun dia, dia tetap putra kami, bahkan menurut kami dia adalah anugrah istimewa yang diberikan oleh tuhan kepada kami karena ia berbeda dari yang lain"ucap Putra menatap ke arah Lio yang saat ini hanya menatapnya bingung kearahnya.

Entah kenapa hati Samudra menghangat saat mendengar hal tersebut, sebuah senyum terbit dari bibirnya, meskipun ada rasa sakit tapi ia senang karena setidaknya Lio tak memiliki nasib yang sama dengannya.

"Kenapa kau menanyakan itu apa ada yang salah?"tanya Sinta

"Bukan apa-apa"ucap Samudra

Keadaan pun kembali di hiasi canda dan tawa dari dari keluarga tersebut saat melihat bagaiman lucunya Lio yang tengah bermain bersama Sang Ayah dan kedua abangnya.

Setitik air mata jatuh dari pelupuk mata Samudra ketika melihat canda tawa tersebut, ada rasa senang, rindu dan juga sedih kala melihat bagaimana Lio yang diterima dengan lapang dada oleh keluarganya.

Bolehkah ia berharap bahwa suatu hari nanti akan ada hari dimana ia akann diterima oleh keluarganya seperti Lio, akan ada hari dimana ia bisa bercanda tawa seperti ini dengan keluarganya.

Sebuah pelukan tiba-tiba Samudra rasakan pada tubuhnya, ia melihat Sinta yang saat ini tengah memeluknya dengan lembut dan mengusap kepalanya, perasaan hangat dari seorang ibu menjalar ke seluruh tubuh Samudra, membuat tubuh itu kian bergetar karena tangisan yang tak dapat ia tahan lagi.

Sinta memberi isyarat kepada sang suami dengan telunjuknya saat melihat sang suami yang ingin bertanya tentang apa yang terjadi.

Sinta ikut meneteskan air mata saat merasakan Samudra yang mulai membalas pelukannya, perasaan hangat juga menjalar di hatinya seakan yang ia peluk ini bukan orang lain melainkan putranya sendiri.

Sinta terus memeluk Samudra mengucapkan kata-kata penenang yang mungkin dapat menenangkan hati dari pemuda yang ada di dekapannya saat ini.

"Tidak apa-apa saya yakin kamu pasti sudah hebat"kata Sinta sambil terus memeluk Samudra sembari mengusap punggung yang bergetar itu, ia bisa merasakan Samudra yang sudah mulai tenang kembali.

Samudra hanya bisa terus menangis,semua perlakuan kasar yang ia dapatkan di keluarganya mulai berputar di otaknya bagaikan kaset rusak, bagaimana ia yang bahkan tak di akui oleh keluarganya baik dirumah ataupun di depan publik.

Ia mengingat bagaimana sang Ayah yang dengan tegas mgatakan di depan media bahwa ia telah meninggal, bukankah tadi katanya anak itu adalah anugrah apalagi anak seperti mereka, tapi kenapa ia tidak?.

"Ternyata Sam gak seberuntung itu"batin Samudra ketika melihat bagaimana Lio yang begitu disayangi keluarganya, bahkan dianggap begitu berharga, berbeda dengan ia yang hanya di anggap sebagai aib saja.

Samudra perlahan mulai melepas pelukannya ketika sudah merasa tenang, ia bisa melihat tatapan lembut seorang ibu dari Sinta, tatapan yang sudah tak pernah ia dapatkan lagi dari ibunya semenjak kejadian 12 tahun yang lalu.

"Maaf"ucap Sudra menuduk.

" Kenapa minta maaf kamu gak ngelakuin kesalahan apapun, kenapa harus minta maaf"tutur Sinta lembut.

"Samudra lelah? Capek? Mau istirahat?"tanya Sinta yang dijawab anggukan oleh Samudra.

"Kamu boleh istirahat tapi ingat masih banyak orang yang sayang sama kamu di dunia ini"ucap Sinta dengan mengelus pelan Surai Samudra.

Dari jarak sedekat ini Sinta bisa melihat lebam yang sepertinya belum lama yang berada di wajah Samudra, ia juga bisa merasakan luka di kepala Samudra saat tangannya mengusap lembut kepala Samudra Sinta tak tahu kehidupan seperti apa yang Samudra jalani, tapi ia tahu kalo itu bukan sesuatu yang mudah.

"Terimakasih"ucap Samudra memperlihatkan senyum manisnya, tapi bagi Sinta itu bukanlah senyum melainkan topeng untuk menutupi segala luka.

Samudra mulai berdiri, dia memutuskan untuk pergi meninggalkan keluarga tersebut setelah berpamitan dengan mereka, ia senang karena bisa merasakan kehangatan dari sebuah keluarga, tapi ia juga sedih saat ia sadar bahwa mereka hanya orang asing bukan keluarganya.

"Ngeliat mereka Sam jadi inget sama kenangan masa kecil Sam sebelum Ayah, Bunda sama Abang benci sama Sam"Batin Samudra terkekeh miris.

Di sisi lain Sinta hanya bisa menatap punggung yang perlahan menjauh, punggung yang terlihat kokoh tapi aslinya sangat rapuh, wajah yang terlihat bahagia, padahal sedang dipenuhi oleh banyak luka.

Putra yang melihat sang istri yang tengah bersedih pun langsung memeluk sang istri diikuti oleh ketiga putranya.

•• SAMUDRA BERCERITA ••

Samudra kini tengah berada di pinggir pantai menatap hamparan pantai yang terlihat indah dan juga ramai meskipun matahari sedang terik-teriknya, tadi sesudah dari taman Samudra pergi ke halte Bis menuju ke arah pantai salah satu tempat yang ia sukai.

Bagi Samudra Pantai adalah tempatnya untuk berpulang tempatnya untuk mengeluarkan segala keluh kesahnya, tempatnya untuk dapat meringankan segala beban yang ia terima.

Disini Samudra bisa duduk dengan tenang, tanpa ada yang mencaci makinya tanpa ada yang mengenalnya tanpa ada yang menatap jijik ke arahnya.

Samudra berjalan ke arah tebing yang berada di sisi laut, desiran ombak terdengar begitu keras di telinganya, salah satu keinginannya adalah ia ingin datang kemari bersama keluarganya, melihat betapa indahnya laut di depannya, mendengar bagaimanakah desiran ombak saat menyentuh batu tebing yang saat ini berada di hadapannya.

Kadang Samudra berpikir, bagaimana jika seandainya keluarganya benar-benar membungnya, bukan hanya sekedar tak menganggapnya saja, apakah ia akan tetap bertahan, ataukah ia harus menyerah dengan keadaan.

Samudra terus menatap ke arah pantai, sampai tak sadar bahwa hari sudah mulai gelap.

"Mas, ini sudah mau malam, tolong segera tinggalkan pantai"ucap Seorang penjaga pantai kepada Samudra yang masih duduk tenang di atas batu karang.

"Iya,maafin Sam"ucap Sam yang di jawab dengan anggukan oleh sang penjaga pantai.

Samudra kemudian pergi meninggalkan pantai menyusuri jalan menuju ke arah halte bus, di dalam bus Samudra hanya diam memandang ke arah jalanan yang terlihat begitu ramai.

Samudra turun dari bus kemudian melangkahkan kakinya ke arah rumah yang selama ini ia tinggali, matanya terus menatap ke arah ramah mewah yang saat ini berada di hadapannya.

"Sam pulang"batin Samudra, hal pertama yang bisa ia tangkap dari netranya adalah rumah yang tampak begitu sepi dan sunyi.

"Aden udah pulang?"tanya Bi Minah kepada Samudra, yang hanya di jawapi angguki oleh pemuda tersebut.

"Bibi kok rumahnya sepi? Ayah, Bunda, sama Abang kemana?"tanya Samudra dengan mata yang terus menelisik mencari keberadaan orang-orang yang rumah.

"Tuan Sama nyonya sedang ada urusan di luar kota, tuan muda Ken dan tuan muda Skala sedang pergi ke luar"ucap Bi Minah menjelaskan.

Samudra hanya mengangguk kemudian pergi ke arah kamar untuk mengistirahatkan tubuhnya, seharian ini ia ada di luar rumah dan tidak bisa istirahat, tangan Samudra mulai mengambil sebuah buku dan bolpoin yang ada di laci meja naskah.

Tangannya mulai bergerak menarik beberapa garis di bukunya, tangannya terus bergerak sampai garis tersebut kini terlihat begitu indah, Samudra tersenyum saat melihat gambar yang sudah ia buat, gambar dua orang pemuda yang terlihat tengah tersenyum lebar.

"Bagus, tapi lebih bagus lagi kalo ada Sam di sini"ucap Samudra menatap ke arah gambar yang ia buat.

"Gak ini udah bagus, Abang gak akan suka kalo ada Sam juga di gambarnya"ucap Samudra sambil menggelengkan kepalanya pelan.

Samudra kembali menaruh buku tersebut ke tempatnya, ia yang semala duduk kini sudah berdiri berjalan keluar dari kamarnya menuju ke arah ruang tamu.

"Bibi Abang belum pulang ya?"Ucap Samudra kepada salah satu Maid yang ada di sana.

"Tuan muda Ken dan tuan muda Skala belum pulang tuan muda"ucapnya sopan.

Samudra menatap khawatir ke arah Pintu rumah yang belum juga terbuka, di luar hujan juga mulai turun tapi kedua abangnya belum juga Sampai di rumah, Samudra duduk diam di atas sofa menunggu kedua abangnya pulang meski ia tak tau kapan kedua abangnya itu akan pulang.




~notqueen_1~

SAMUDRA BERCERITA || ENDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang