31. Penyesalan

4.6K 140 5
                                        

Penyesalan memang selalu datang terlambat

    
1 bulan sudah berlalu tapi jasad Samudra belum juga di temukan, jasadnya bagai ditelan laut, tim sarpun sudah menghentikan pencariannya sejak lama.
    
Hari ini seperti biasa, Sonya datang ke kamar putra bungsunya untuk membersihkannya, selama ini ia selalu berharap bahwa suatu saat putranya akan pulang ke rumah.
    
"Bunda"panggilan tersebut membuat Sonya mengalihkan pandangannya dari acara bersih-bersihnya.
    
Di pintu masuk terdapat Ken, Skala dan juga Stevan, selama 1 bulan ini mereka begitu terpuruk, mereka juga tenggelam dalam penyesalan.
    
Berita tentang kematian Samudra sudah menyebar di penjuru kota, bahkan teman-teman satu sekolahnya pun sudah tahu, banyak dari mereka yang menyesal karena ikut mengejek Samudra atau sekedar karena tidak berani membantunya.
    
Stevan berjalan masuk diikuti Ken dan Skala di belakangnya, dulu ia hanya akan masuk ke kamar ini, hanya untuk memukul atau memarahi Samudra.
    
Setelah selesai bersih-bersih, Sonyapun ikut duduk di tengah-tengah sang suami dan kedua putranya, di tangannya sudah ada sebuah buku yang ia temukan di laci naskah milik Samudra.
    
"Itu apa?"tanya Ken
    
"Diary"ucap Sonya dengan mengelus buku yang ada di tangannya, perlahan Sonya mulai membuka Diary milik sang putra.

Hari ini Sam bikin malu ayah sama bunda lagi:)
27 Maret 2024

Hari ini Abang Ken marah Sama Sam, padahal Sam gak tau salah Sam apa
3 April 2024

Ayah, hari ini Sam dibully sama temen-temen, mereka Ambil uang Sam, mereka juga jahatin Sam
19 April 2024

Hari ini Sam ketemu Om putra sama Tante Sinta, mereka baik banget sama Sam
25 Mei 2024

Hari ini Samudra kena Leukimia, Sam takut kalo Ayah, Bunda sama Abang tahu, mereka bakal makin benci sama Sam karena penyakitan
16 Juni 2024

Hari ini Bunda marah Sama Sam, maafin Sam Bunda
7 Juli 2024

Hari ini Sam kambuh, rasanya sakit banget, Sam pengen Ayah Bunda sama Abang ada di dekat Sam, tapi Sam takut
29 Agustus 2024

Hari ini Abang Ska marah, Abang juga pukul Sam, terus Kita di bawa keguru BK, Ayah dateng karena ditelpon sama Abang, tapi waktu pak Tono nanyain orangtuanya Sam, Sam bilang gak punya, padahal Ayah ada di Samping Sam:)
17 September 2024

Hari ini Ayah marah sama Sam:)
16 Oktober 2024

Hari ini dokter bilang Waktu Samudra tinggal 50 hari lagi, Sam pengen buat kenangan indah bareng Ayah Bunda sama Abang
3 November 2024

Hari ini Sam di bully lagi, tapi kali ini mereka pengen Sam mati
5 November 2024

Hari ini Sam beli hadiah buat Ayah, Sam harap semoga Ayah suka sama Hadiahnya
10 November 2024

Hari ini, hari ulang tahun Ayah, selamat ulang tahun superheronya Sam
11 November 2024
    

Baik Sonya maupun Stevan hanya dapat memandang tulisan tersebut dengan sendu, banyak yang telah dilewati putranya tapi mereka sama sekali tidak tahu.
    
Sonya menatap tulisan terakhir dari Sang putra bungsunya, pandangannya beralih pada tulisan di halaman paling belakang.

Cita-cita Samudra

1. Diambilin rapot sama Ayah dan Bunda
2. Pergi ke pantai bareng Ayah, Bunda dan   Abang
3. Banggain Ayah sama Bunda
4. Bisa ngomong biar di sayang Ayah sama Bunda dan gak bikin malu Abang Ken sama Abang Ska (mustahil :) )
    
K

alo nanti Sam pergi, Sam mau Ayah sama Bunda lihat kotak kardus di bawah tempat tidur, tolong simpen baik-baik ya, soalnya Sam susah dapetinnya hehehe.

    
Baik Sonya, Stevan, Ken dan Skala kembali menitihkan air mata, kala melihat cita-cita sederhana milik sang Bungsu.
    
Sonya berjalan ke arah kardus yang berada di bawah tempat tidur, hal pertama yang ia lihat saat membuka kardus itu adalah tumpukan piala dan piagam milik Samudra.
    
Stevan, Ken dan Skala pun ikut mendekat ke arah Sonya, Stevan merengkuh pundak sang istri yang terlihat bergetar, di tangan Sonya terdapat sebuah piala yang kini sudah dibawa ke pelukannya.
    
"Ayah bangga Sama Sam"batin Stevan kala melihat tumpukan Piala milik Sang putra.
    
Ruangan tersebut menjadi saksi bisu bagaimana keluarga seorang Stevan Angga Dewantara kini terpuruk karena kehilangan putra yang selalu mereka elu-elukan sebagai anak sialan.

•• SAMUDRA BERCERITA ••

    
1 bulan berlalu hari ini Stevan dan Sonya pergi untuk mengambil rapot milik sang putra, bukan milik Skala tapi milik Samudra.
    
Saat sampai Stevan dan Sonya mendudukkan diri di Aula di deret kelas XI IPA 1, acara sudah di mulai, sejak 5 menit yang lalu.
    
"Baiklah sekarang kita umumkan juara 1 umum kita tahun ini, selamat kepada, Samudra Anka dari kelas XI IPA 1"ucap MC
    
Sorak riuh tepuk tangan terdengar kala nama Samudra dipanggil sebagai juara, Stevan berjalan kedepan mewakili sang putra, matanya tak bisa menyembunyikan kesedihan yang menggerogoti hatinya.
    
"Terimakasih kepada Bapak atu ibu Guru atas dukungannya kepada putra saya, saya merasa bangga karena bisa berdiri di sini mewakili putra saya"ucap Stevan menahan tangis.
    
Stevan tahu jika selama di sekolah Samudra mengalami perundungan, tapi ia tak sedikitpun menuntut sekolahan karena ia tahu kalau ia juga salah satu alasan sang putra mengambil keputusan untuk melakukan bunuh diri.
    
Dulu ia bahkan sampai membuat berita kematian sang putra, tapi sekarang kala berita itu benar-benar terjadi Stevan merasa hancur, banyak sekali wartawan yang menanyakan alasan kenapa Stevan memalsukan kematian sang putra bungsu tapi Stevan tetap saja bungkam.
    
Sekarang semua orang sudah tau kalau Samudra adalah putra bungsunya, ia tak merasa marah, malah ia merasa menyesal karena ia terlambat melakukannya.
    
Saat turun dari panggung Stevan tak bisa lagi menahan tangisnya, Sonya yang sedari tadi dudukpun kini sudah ikut menangis.
    
Rapot milik putranya kini di hiasi dengan banyak angka 9, bahkan ada beberapa yang mendapat nilai sempurna, ternyata putranya sepintar itu ya.
    
Stevan pulang dengan rasa haru dan juga bangga dalam hatinya, andai dulu ia melakukan ini, andai dulu ia tidak membenci putranya.
    
Sekarang semua tinggal Andai, sekarang penyesalan mereka sudah tak berguna lagi.

•• SAMUDRA BERCERITA ••

    

Stevan berjalan ditemani sang istri dan kedua putranya, dengan langkah pelan ia menghampiri tempat yang menjadi tempat terakhir putranya.
    
"Adek Ayah dateng, bareng Abang sama Bunda, hari ini Ayah sama bunda Ambil rapot Adek, nilai adek bagus semua, Ayah bangga sama Adek"ucap Stevan menatap hamparan laut di depannya.
    
"Bunda juga bangga sama Adek"ucap Sonya memeluk Ken dan Skala yang berada di dekatnya.
    
"Abang juga bangga sama Adek"ucap Ken dan Skala bersamaan
    
Nyatanya pada akhirnya, Samudra tetap tidak bisa berbicara, Samudra tetap tidak bisa mengungkapkan segala ceritanya.
    
Pada akhirnya, para penyelam harus tetap menyelam untuk mengetahui apa isinya.
    
Pada akhirnya, Palung Mariana akan tetap menjadi misteri yang tak terpecahkan meski sudah lama.
    
Pada akhirnya, segitiga Bermuda yang menelan banyak korban takkan pernah diketahui apa penyebabnya.
    
Pada akhirnya, semua berakhir sama.
    
Pada Akhirnya, semua berakhir dengan Samudra yang menyerah dengan segalanya.
    
Dan pada akhirnya, semua berakhir dengan Samudra yang tenggelam dalam kegelapan Fana.

END






~notqueen_1~

SAMUDRA BERCERITA || ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang