"Banyak kenangan yang Sam inget, tapi banyak juga kenangan yang Sam lupa"
~Samudra Anka~
13 tahun yang lalu, sebuah keluarga kini tengah berkumpul di ruang keluarga sambil menonton televisi, ditemani camilan dan suara tawa yang membuat keluarga itu terlihat seperti keluarga Cemara.
"Ayah mana remotnya Skala mau nonton Upin Ipin"ucap Skala berumur 6 tahun.
"Jangan dikasih ayah masak nonton Upin Ipin yang gak gede-gede muluk, yakan dek"ucap Ken berumur 8 tahun jengah, sedangkan Samudra yang di tanya hanya bisa mengangguk saja.
"Abang kalo gak suka ya gak usah nonton kan Ska gak nyuruh Abang nonton"ucap Skala kesal.
"Yaudah kalo gitu ayo dek kita pergi aja"ucap Ken kemudian pergi dari ruang keluarga bersama Samudra yang berada di gendongannya.
"Ihhh Abang kok Aka di bawa sih"kesal Skala yang melihat Ken membawa pergi Samudra.
"Bunda lihat tuh Abang nakal"ucap Skala mengadu.
Sonya yang mendengar pengaduan dari sang anak hanya bisa terkekeh kecil saat mendengarnya, sedangkan Stevan ia sudah jengah dengan keributan kedua putranya itu.
"Udah kamu samperin aja Abang kamu, paling juga di taman belakang"ucap Stevan yang di angguki oleh Skala.
Tanpa basa-basi Skala langsung berlari mencari sang Abang dan Sang Adik, dan benar saja Sang Abang dan Sang adik kini tengah berada di taman belakang seperti ucapan sang Ayah.
"Abang kok tinggalin Ska sih"kesal Skala kepada sang Abang.
"Lah kan kamu sendiri yang ngomong mau nonton kembar botak"ucap Ken dengan tetap fokus bermain dengan sang bungsu.
"Abang kok Aka di ajak main tanah sih kan jadi kotor, Ska aduin ke Bunda ya"ucap Skala ketika melihat tangan sang adik bungsunya yang kini telah kotor oleh tanah yang diberi air.
"Dih ngaduan yaudah sana, tapi gak usah main sama Abang dan Aka lagi"ucap Ken santai.
"Kok gitu sih"ucap Skala tak terima, sedangkan Ken hanya mengedikkan bahunya acuh tak acuh.
Sedangkan Samudra yang melihat tingkah kedua abangnya hanya bisa tertawa, ia cukup terhibur akan kelakuan dua saudaranya ini.
"Aka mau main kan sama Abang Ska kan?, nanti Abang kasih mainan deh"ucap Skala merayu.
"Dih jangan mau dek, dia aja kalo mainannya ilang masih nangis mana mau dia ngasih mainan ke kamu, mending sama Abang Ken aja, Abang kan udah besar udah gak perlu mainan lagi, jadi nanti semua mainan Abang buat adek"ucap Ken meyakinkan Samudra.
Skala yang merasa bahwa ia kalah debat akhirnya memilih untuk menangis, sedangkan Ken dan Samudra sudah tergelak melihat Skala yang kini sudah menangis.
Memang di antara mereka Skala lah yang paling cengeng, Ken sendiri juga sangat suka menjahili sang Adik keduanya itu, ia merasa ada kepuasan tersendiri setelah membuat Skala menangis.
Samudra yang tadinya tertawa kini ikutan menangis kala melihat Skala yang tak kunjung meredakan tangisnya.
"KEN, KAMU APAIN ADIK KAMU LAGI HA?"teriakan Sonya bagaikan bunyi alarm tanda bahaya di telinga Ken.
"Adek kenapa Hem kok nangis"ucap Stevan dengan menggendong Samudra tak perduli bahwa bajunya kotor akibat sang putra yang bermain tanah, sedangkan Sonya kini sudah menenangkan Skala tak lupa dengan tangan satunya yang ia gunakan untuk menjewer telinga Ken.
"Aduh Bunda Sakit"ucap Ken kesakitan akibat tarikan Bundanya pada telinganya.
"Siapa suruh kamu gangguin adek kamu ha, gak kasian kamu tuh liat nangis dua-duanya"ucap Sonya menunjuk ke arah Skala yang sudah meredakan tangisnya, berbeda dengan Samudra yang masih menangis di pangkuan sang Ayah.
"Sana minta maaf ke Adiknya"ucap Sonya kepada Ken.
"Abang minta maaf ya"ucap Ken mengelus surai hitam kedua adiknya, tangis Samudra pun ikut berhenti karena mendengar suara dari sang Abang pertamanya.
"Nah sekarang kalian mandi sana, tuh liat kotor banget"ucap Stevan yang dihadiahi cengiran dari Ken.
•• SAMUDRA BERCERITA ••
Saat ini keluarga Stevan tengah melakukan liburan di pantai karena permintaan dari si bungsu, kemarin saat sedang menonton televisi si bungsu tiba-tiba saja menunjuk ke arah iklan yang menunjukan pemandangan Pantai, berakhir dengan saat di tanya apakah si bungsu ingin pergi ke pantai dan di jawab dengan anggukan kepala oleh si bungsu.
Saat ini Samudra sendiri tengah bermain pasir dengan kedua Abangnya, ditemani dengan canda tawa danjuga sikap jahil abangnya yang tak mungkin terlupakan.
Setelah puas bermain pasir, kini mereka tengah berkumpul dan memakan makanan yang telah Sonya siapkan untuk mereka.
"Ayah kenapa nama Aka harus Samudra?"tanya Skala tiba-tiba kepada sang Ayah.
"Karena Ayah pengen Samudra punya hati yang luas kayak Samudra, ayah juga pengen Aka bisa kayak Samudra yang selalu bisa Nerima kekurangan apapun yang dimilikinya"ucap Stevan dengan mengelus surai hitam milik sang bungsu, sedangkan Samudra yang mendengar ucapan sang Ayah merasa sangat senang.
"Ken suka, namanya bagus, artinya juga bagus"timpal Ken lagi.
"Iyalah kan Ayah yang buat pasti bagus dong"ucap Stevan yang di hadiahi tatapan julid dari keluarganya kecuali sang bungsu yang sibuk dengan brownies di tangannya, okey sepertinya kita bisa tahu darimana sifat Ken menurun.
"AYAH LIHAT"teriakan dari Skala berhasil mengalihkan pandangan mereka, di depan mereka senja terlihat begitu indah, warna oranye yang memantul dari air juga terlihat begitu mengagumkan, membuat siapapun yang melihat pasti akan terkesima karena keindahannya.
~notqueen_1~
KAMU SEDANG MEMBACA
SAMUDRA BERCERITA || END
Novela JuvenilAndai Samudra bisa bicara, para penyelam takkan perlu menyelam untuk mengetahui isi didalamnya. Andai Samudra bisa bicara, Palung Mariana takkan menjadi misteri yang tak kunjung terpecahkan meski sudah lama. Andai Samudra bisa bicara, segitiga Bermu...
