Nyatanya luka kemarin tak lebih sakit daripada kenyataan hari ini
Pagi ini Samudra dibangunkan oleh rasa sakit dari sekujur tubuhnya terutama di bagian kepalanya, kepalanya terus berdenyut seakan bisa meledak kapan saja, darah kembali mengalir dari hidung Samudra.
Sudah beberapa hari ini Samudra terus saja mengalami mimisan, tubuhnya juga sering terasa sakit, apalagi muncul lebam-lebam di beberapa bagian tubuhnya.
"Sakit banget"ucap samudra dengan mencengkram rambut hitam legamnya.
Dengan sekuat tenaga Samudra mencoba berdiri, dapat ia rasakan suhu tubuhnya yang sedikit hangat atau bisa di katakan kalau ia demam saat ini, tapi hal itu tak menjadikannya alasan untuk tetap beranjak dari kasur dan membersihkan diri.
Setelah selesai, Samudra kemudian berjalan turun, terlihat keadaan rumah sudah sepi, jam juga sudah menunjukkan pukul 10:00 pagi, huftt Samudra menghela nafas kala merasakan denyut di tubuhnya semakin terasa.
"Aden teh bade kamana?"
Samudra berhenti berjalan kala melihat seorang supir yang kini bertanya kepadanya.
"Sam mau keluar bentar, Sam bakal cepet balik kok"ucap Samudra
"Mau di anter, wajahnya pucet pisan itu"ucap Supir kala melihat wajah pucat milik Samudra.
"Gak papa pak Sam bisa sendiri kok, Sam pergi dulu"ucap Samudra kepada sang supir.
•• SAMUDRA BERCERITA ••
Saat ini samudra tengah duduk di ruangan dokter, rasanya ia masih sedikit trauma akan kejadian 12 tahun lalu ketika ia di Vonis mengalami gangguan bicara atau bisu.
Seorang dokter masuk ke ruangan tersebut dengan membawa sebuah hasil laboratorium di tangannya.
"Saya menyarankan agar kamu segera memberitahukan ini kepada orang tuamu"ucap sang dokter dengan menatap serius ke arah Samudra, sedangkan Samudra, perasaannya sudah tidak enak sejak saat sang dokter masuk dengan raut wajah yang sulit di artikan.
"Saya akan memberikan resep obatnya silahkan tebus di apotik"ucap sang dokter.
Setelah menebus resep dari sang dokter samudra kini tengah berada di taman dekat rumah sakit, tangannya dengan perlahan mulai membuka hasil laboratorium pemberian dari sang dokter.
Setetes air mata jatuh kala Samudra melihat apa yang tertulis dalam hasil labnya tersebut, leukemia stadium 3, rasanya seakan dunia semakin mempermainkannya saat ia mengetahui kebenaran tersebut.
"Kenapa?kenapa harus Sam tuhan?"rasanya dunia benar-benar menjadikannya lelucon, ia bisu saja keluarganya sudah tidak mau menganggapnya lalu bagaimana jika keluarganya mengetahui kebenaran ini, apakah mereka akan semakin membencinya?.
Hujan mulai turun seakan ikut merasakan perasaan yang di rasakan oleh Samudra Anka, ia membawa kakinya melangkah pergi meninggalkan taman tersebut, saat sampai di halte bus Samudra hanya bisa diam dengan tatapan kosong dan air mata yang tak berhenti keluar.
Sebuah mobil hitam berhenti tepat di hadapan Samudra.dari mobil itu keluarlah seorang pria paru baya yang masih mengenakan pakaian kantornya.
"Samudra apa yang kau lakukan di sini?"tanya putra, iya dia adalah putra, tadi saat ia pulang dari kantor ia tak sengaja melihat siluet seorang pemuda yang di kenalinya.
Samudra tak menjawab pertanyaan dari putra, matanya tetap memandang kosong ke depan dengan air mata yang terus mengalir di sela matanya, apalagi dengan tubuh basah kuyup dan wajah pucat menjadikan Samudra terlihat begitu menyedihkan bagi siapapun yang melihat.
"Samudra, hei, kamu gak papa kan?"ucap Putra sambil menggoyangkan bahu Samudra pelan, bukannya menjawab Samudra malah semakin menjatuhkan air matanya, jari-jari tangannya saling meremas satu sama lain seakan-akan menjabarkan bagaimana rasa frustasinya saat ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
SAMUDRA BERCERITA || END
Teen FictionAndai Samudra bisa bicara, para penyelam takkan perlu menyelam untuk mengetahui isi didalamnya. Andai Samudra bisa bicara, Palung Mariana takkan menjadi misteri yang tak kunjung terpecahkan meski sudah lama. Andai Samudra bisa bicara, segitiga Bermu...
