15. Kambuh

2.2K 94 1
                                        




"Bisu bukan berarti gak bisa ngerasain sakit"
~Samudra Anka~





Pagi ini Samudra bangun dengan keadaan tubuh yang tak baik-baik saja, kepalanya pusing, suhu tubuhnya tinggi, sudah sedari pagi ia terus muntah tapi yang keluar hanya cairan bening karena perutnya telah kosong.

Pagi tadi seluruh keluarganya juga memutuskan untuk pergi jalan-jalan ke Villa selama 3 hari berhubung Skala sedang di Skors selama 3 hari, Bi Minah dan Bi Asrih juga di bawa oleh mereka, sedangkan pembantu dan Bodyguard yang lain di liburkan sehingga Samudra sekarang benar-benar sendirian di rumah.

Samudra hanya bisa terkulai lemah di atas kasur, ia sudah tidak punya tenaga lagi untuk sekedar duduk apalagi berdiri, tubuhnya menggigil kedinginan tapi di waktu bersamaan tubuhnya juga terasa sangat panas, di saat-saat seperti ini Samudra benar-benar membutuhkan seseorang untuk merawatnya karena ia tak bisa apa-apa sekarang.

"Dingin"ucap Samudra kala merasakan rasa dingin di tubuhnya.

Tanpa Samudra sadari darah kembali menetes dari hidungnya tapi kali ini Samudra membiarkannya saja, ia tak punya tenaga untuk membersihkan darah tersebut.

Perutnya terasa sakit, ia belum makan apapun karena ia tak bisa beranjak dari tempat tidur, yang bisa ia lakukan sekarang adalah menunggu seseorang menemukannya, tapi apakah ada?.

Samudra memutuskan untuk menutup matanya mencoba untuk mengistirahatkan tubuhnya meski harus menahan rasa sakit di sekujur badannya.

"Ayah"

"Bunda"

"Abang"Samudra terus meracau dalam hati berharap akan ada seseorang yang menolongnya nanti.

•• SAMUDRA BERCERITA ••

Di sisi lain di Villa saat ini keluarga Dewantara tengah menikmati acara piknik mereka di taman, melupakan seorang pemuda yang tengah terbaring tak berdaya di rumah tanpa di ketahui semua orang.

"Curang Lo bang gak bisa gitu"kesal Skala pada sang Abang.

"Dih bilang aja kalah"sahut Ken dengan wajah mengejek.

Skala langsung merenggut kesal karena kelakuan sang Abang, saat ini mereka tengah bermain sepak bola di taman dengan Ken yang memiliki Skor gol terbanyak.

"Tau lah"ucap Skala kesal

" Dih kalah kok ngambek, dasar bocil"ucap Ken kepada sang adik.

"BODO AMAT GAK DENGER"teriak Skala mengabaikan perkataan sang Abang, sedangkan Sonya dan juga Steven hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan kedua putranya yang tak pernah akur sejak kecil.

"Kalian kalo ketemu pasti ribut, tapi kalo gak ketemu nyariin"ucap Sonya jengah dengan kelakuan kedua putranya.

"Dih mana ada Ken nyariin paling juga si Ono noh"ucap Ken dengan melirik ke arah Skala.

"Apa lihat-lihat"sinis Skala

"Biarin orang Abang punya mata kok"ucap Ken lagi.

Di sisi lain Bi Minah merasa hatinya sedikit tersentil kala melihat pemandangan di depannya, otaknya mengingat seorang pemuda yang kini berada di rumah sendirian, jika Samudra berada di sini Bi Minah tak bisa membayangkan akan sesakit apa tuan mudanya saat melihat pemandangan seperti ini, ia saja sudah merasakan sesak apalagi Samudra.
    
"Min kok ngelamun"ucap Bi Asrih saat melihat temannya itu melamun.
    
"Gak papa Srih cuma lagi inget Aden Samudra aja"ucap Bi Minah.
    
"Kasian ya Aden, padahal dia gak pernah mau juga di lahirin bisu tapi keluarganya malah nyalahin den Samudra"ucap Bi Asrih ikut menyendu.
    
"Aden hebat ya Srih bisa bertahan Sampek sekarang ini"ucap Bi Minah dengan mata berkaca-kaca.
    
"Hebat banget malah"tambah Bi Asrih lagi.
    

•• SAMUDRA BERCERITA ••

    
Samudra terbangun kala merasakan tubuhnya yang semakin sakit, tangannya meraih handphone yang berada di atas naskah, mata Samudra tertuju ke arah nomor sang bunda, setelah memantapkan hati Samudra pun mengirim beberapa pesan, berharap sang Bunda akan melihat pesan darinya tersebut.


Bunda✓✓
Bunda Sam sakit✓✓
Bunda kapan pulang✓✓
Bunda✓✓

     
Samudra menatap sendu ke arah handphonenya, pesannya terkirim tapi tak terbaca padahal sudah centang dua.
    
"Sakit"
    
Dengan sekuat tenaga Samudra mencoba bangkit dari kasur, dengan perlahan Samudra mulai berjalan kebawah sesekali ia hampir tersungkur kala tak bisa menopang berat tubuhnya lagi.
    
Saat sampai di dapur Samudra mulai membuka kulkas mencari sesuatu yang bisa ia cerna untuk mengganjal perutnya saat ini, Samudra menemukan roti tawar di dalam kulkas, ia berjalan ke meja makan untuk memakannya.
    
Hikss
    
Hikss
    
Samudra menangis bukan karena ia yang hanya bisa makan roti tawar, tapi karena di saat seperti inipun tak ada satupun keluarga yang berada di sampingnya dan menemaninya, rasanya bukan hanya roti tawar yang terasa hambar tapi kehidupan Samudra pun mulai begitu hambar dan menyesakkan.
    
Samudra terus menelan roti tersebut meskipun perutnya seakan menolak untuk menerimanya, Samudra berjalan cepat ke arah wastafel saat merasakan sesuatu akan keluar dari mulutnya.
    
Huekk
    
Darah keluar dari mulut Samudra bersamaan dengan beberapa roti yang baru ia makan tadi, rasa sakit benar-benar menyiksanya, saat ini harusnya yang ia butuhkan adalah keluarga yang menemani dan dukungan dari mereka.
    
Brukkk
    
Kesadaran Samudra akhirnya terenggut oleh rasa sakit yang ia rasakan saat ini, membiarkan darah yang berceceran dimana-mana, jika ada orang yang melihat miris mungkin kata itu yang akan pertama kali terpikirkan oleh mereka.





~notqueen_1~


SAMUDRA BERCERITA || ENDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang