Pulang ketempat yang paling memberi banyak luka
•• SAMUDRA BERCERITA ••
Samudra kini tengah menunggu jemputan di depan rumah sakit, setelah 4 hari dirawat akhirnya Samudra sudah diperbolehkan untuk pulang, sebenarnya sang Dokter tadi sempat untuk memintanya tetap dirawat selama 1 hari lagi tapi ia menolak, ia sudah cukup bosan menunggu selama 4 hari.
"Hari ini kamu di jemput?"tanya seorang suster yang lewat, tak heran Samudra sudah sering masuk rumah sakit jadi baik dokter maupun suster sudah banyak yang mengenalnya.
Samudra mengangguk sambil tersenyum, setelah sekian lama akhirnya ada yang mau menjemputnya, suster yang melihat senyum dari Samudra pun ikut tersenyum.
"Ya sudah suster tinggal dulu ya?"ucap Suster yang di angguki oleh Samudra.
5 menit telah berlalu akhirnya yang ditunggu tunggu Samudra pun datang, samudra memandang mobil hitam yang kini berhenti di depannya, Pak Rudi keluar dari mobil tersebut berjalan ke arah Samudra membantu membawa beberapa barang milik Samudra seperti baju dan lain-lain.
Di dalam mobil Samudra menatap ke arah luar jendela mobil dengan pandangan sedikit menyendu, tadi ia pikir salah satu keluarganya akan datang menjemputnya ternyata ia salah, benar, harapannya terlalu tinggi sampai ia lupa akan kenyataan yang sedang ia alami.
Pak Rudi yang sedang menyetir juga melihat bagaimana tatapan dari Samudra, ia tahu tuan mudanya itu pasti tengah kecewa, dan hal yang mungkin lebih membuat kecewa Samudra akan segera ia lihat nanti.
"Yang kuat ya den, ngadepin keluarga Aden"batin Pak Rudi ikut menyendu.
Akhirnya setelah 20 menit Samudra sampai di depan rumahnya, rumah yang selama ini selalu menjadi penyebab lukanya, dukanya, bahkan keterpurukannya.
Saat ia membuka pintu Samudra dapat melihat keadaan rumah yang terlihat sepi, kakinya ingin melangkah ke arah kamarnya tapi terhenti kala mendapati suara tawa yang berasal dari arah taman.
Pemandangan didepannya seakan membuat rasa sesak menghantam dadanya, seakan-akan ada batu besar yang kini menghimpit dadanya, keluarganya saat ini sedang mengadakan pesta Barbeque di taman Samping.
"Sam pulang"batin Samudra tanpa diketahui siapapun.
Samudra berjalan ke arah kamarnya dengan langkah gontai, dirumah sakit ia sendirian, saat ia pulang ia kembali melihat hal yang membuatnya sesak.
"Semangat Samudra"ucap Samudra memberi semangat kepada dirinya sendiri.
Nyatanya kata Semangat sudah terlalu basi untuknya, kata bahwa nanti ia akan bahagia, kini sudah terasa hambar baginya, ia sudah terlalu sering menelan kata semangat yang tak pernah memiliki hasil.
"Samudra kangen sama Nenek"ucap Samudra sambil menatap ke arah langit, berharap sang Nenek akan mendengar segala keluh kesahnya.
Jika kalian bertanya kemana sang kakek, sang kakek juga sudah menyusul sang nenek 1 tahun yang lalu, Sang kakek tak terlalu menyukainya, ia malah menyalahkannya atas kematian sang istri.
Samudra seringkali terpuruk, saat ia terpuruk yang ia lakukan selalu sama, duduk di balkon memandang langit malam, membiarkan angin malam yang dingin menerpanya atau pergi ke pantai memandang hamparan laut yang selalu dapat membuatnya tenang.
Ia tak pernah menyakiti dirinya karena nyatanya fisik maupun mentalnya sudah lebih sakit, jadi untuk apa ia melukai dirinya sendiri?.
•• SAMUDRA BERCERITA ••
Matahari mulai menampakkan dirinya, membiarkan cahayanya menyebar menerangi bumi, Samudra kini telah terbangun dengan perasaan yang lebih baik dari pada semalam.
Ia bergegas untuk bersiap-siap ke sekolah memakai seragam sekolahnya tapi yang membedakan kali ini ia memakai Hoodie untuk menutupi lebam-lebam di tubuhnya, ia rindu sekolah tapi tak ingin sekolah, ia takut di Bully, bertahun-tahun ia selalu di bully nyatanya ia masih takut ketika ada yang mengatainya dengan kata-kata cacat atupun bisu, belum lagi pukulan yang ia dapat saat di bully.
Rasanya mentalnya benar-benar diuji, di sekolah ia mendapatkan Bullyan di luar ia dihindari bahkan di tatap rendah, di rumah ia masih harus menanggung segala caci makian yang ia dapat dari keluarganya.
Hari ini seperti biasa ia berangkat dengan berjalan kaki, sesekali menikmati pemandangan jalan yang terlihat begitu ramai akan pengendara yang berlalu-lalang, maupun pejalan kaki.
"WOY BISU"samudra menengok kala mendengar seseorang memanggilnya.
"Jalan kaki nih, mau di boncengin gak nih"ucap Dimas.
"Hati-hati ntar Lo ketularan bisunya lagi"sahut kevin, gelak tawa terdengar dari keempat pemuda tersebut.
"Gak papa Sam bisa jalan kok"tulis Samudra pada notebooknya.
"Kalaupun Lo mau juga gue yang gak mau boncengin Lo, ya gak?"ucap Dimas lagi.
"Yo'i sih, mana mau kita boncengin orang bisu kek dia"tambah Bima sinis.
Samudra hanya bisa menunduk berusaha menahan segala rasa amarah yang ia rasakan, tangannya terkepal kuat dadanya juga naik turun berusaha menahan emosi.
"Yah marah, yah baperan"ucap Radit ketika melihat Samudra yang terlihat sedang menahan amarah.
Ketika bercanda itulah yang selalu orang katakan, mereka akan mengatakan hal-hal yang merendahkan atau menyinggung orang lain tapi ketika orang itu marah atau tersinggung maka mereka akan menutupi kesalahannya dengan cara berkata yah baperan.
"Dahlah yok lanjut, tinggalin aja si bisu ini"ucap Kevin kemudian mendorong Samudra sampai terduduk di trotoar.
Brummmm brummm
Samudra hanya memandang ke empat punggung pemuda tadi dengan tatapan pasrah, ia tak melawan sedikitpun saat di bully, dulu saat di bully ia pernah melawan tapi hasilnya ia malah semakin di bully habis-habisan jadi sekarang ia lebih memilih untuk diam saja.
"Hufttt sabar"ucap samudra
Samudra berhenti di depan gerbang sekolah yang sudah tertutup.
"Pak tolong bukain gerbangnya"tulis Samudra pada notebooknya.
Sang security yang melihat hal tersebut hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan, tanda bahwa ia menolak permintaan tolong dari Samudra.
"Maaf dek tapi ini udah jam 7 lebih, adek kalo mau masuk ijin dulu sama gurunya"ucap sang Security kepada Samudra yang hanya bisa menghela nafas mendengar hal tersebut.
"Pak Samudra mohon sekali aja"mohon Samudra kepada sang security.
"Ada apa ini?"Samudra menundukkan kepalanya kala mendengar suara guru.
"Eh ini pak ada yang telat"ucap Securityk
"Biarkan ia masuk"ucap Pak Adam dengan menatap tajam ke arah Samudra.
"Maaf pak Samudra tadi ada sedikit masalah di jalan jadi San telat"ucap Samudra
Sedangkan Pak Adam hanya menatap dingin murid di depannya, siapa yang tidak kenal dengan pemuda di hadapannya ini, murid yang terkenal pintar tapi sayang ia memiliki kecacatan yaitu tidak bisa bicara.
"Saya tak peduli itu bukan urusan saya"ucap Pak Adam
"Sekarang kamu pergi ke lapangan hormat kepada bendera sampai nanti bell istirahat"tambah Pak Adam lagi.
Samudra hanya bisa mengangguk, dengan langkah gontai ia mulai berjalan menuju ke arah lapangan untuk melaksanakan hukumannya.
Baru setengah jam Samudra berdiri tapi rasa panas sudah sangat menyiksanya, belum lagi kaki dan tangannya yang sudah terasa keram membuat hukumannya terasa lebih sulit untuk dilakukan.
"Panas banget"ucap Samudra dengan menahan pusing yang sudah mulai terasa menyerang kepalanya.
~notqueen_1~
KAMU SEDANG MEMBACA
SAMUDRA BERCERITA || END
JugendliteraturAndai Samudra bisa bicara, para penyelam takkan perlu menyelam untuk mengetahui isi didalamnya. Andai Samudra bisa bicara, Palung Mariana takkan menjadi misteri yang tak kunjung terpecahkan meski sudah lama. Andai Samudra bisa bicara, segitiga Bermu...
