13. Abang Lagi

1.9K 94 3
                                        


"Dunia lucu ya?"
~Samudra Anka~

    
"Abang maafin Sam Abang Sam gak bakal ulangi lagi" Samudra berlutut memohon ampunan kepada sang Abang.
    
"Belum cukup Lo permaluin keluarga karena kecacatan Lo itu sekarang Lo mau semakin permaluin keluarga dengan jadi jalang iya?"sentak Skala.
    
"Abang enggak hiks enggak maafin Sam"ucap Samudra lagi
    
Ken yang sudah tak tahan langsung mengambil sebuah tongkat kemudian memukulkannya ke tubuh Sang adik bungsu yang tengah memohon di hadapannya.
    
"Arghhh Abang stop akit hiks"Samudra menangis berusaha melindungi tubuhnya dari pukulan sang Abang, ia ingin berteriak kala merasakan tongkat yang dengan keras membentur tubuhnya.
    
"Abang sakit hikss maafin Sam"lirihan tersebut
terus Samudra ucapkan dalam hati berharap kedua Abangnya akan mendengarnya meski itu mustahil.
    
Seakan tak puas dengan apa yang Ken lakukan, Skalapun juga ikut mengambil tongkat kemudian memukul Samudra dengan sekuat tenaga, tanpa memikirkan bahwa tubuh rinkik itu bisa hancur karena pukulan mereka.
   
"Mati aja Lo sialan"umpat Skala kemudian melempar tongkat yang ada di tangannya di ikuti Ken setelah puas memukuli Samudra.
    
Ken dan Skala kemudian pergi meninggalkan Samudra di gudang, tak lupa mereka juga mengunci pintu gudang.
    
"Sakit tuhan hiks"ucap Samudra dengan memukul dadanya yang terasa sesak.
    
Sekali lagi ia di patahkan oleh kenyataan, ia ingat bagaimana ia berharap ingin memiliki keluarga bahagia seperti yang ia rasakan kemarin saat di rumah putra.
    
"Tuhan Samudra lelah, Sam mohon tolong jemput Sam"batin Samudra sebelum kegelapan mulai merenggut kesadarannya.

•• SAMUDRA BERCERITA ••


Paginya kini Samudra telah di bebaskan dari gudang, hari ini ia memutuskan ketoko bunga untuk membeli seikat bunga mawar merah.

"Ada yang bisa saya bantu kak"ucap pelayan toko bunga.
Samudra dengan cepat menunjuk ke arah bunga mawar yang dipajang di etalase bersama bunga yang lain.

"Oh kakak mau bunga mawar?"tanya pelayan toko yang di jawabi anggukan oleh Samudra.

"Bentar ya kak"ucap pelayan tersebut kemudian mulai menyiapkan pesanan dari Samudra.

Setelah mendapatkan apa yang di inginkan, Samudra mulai berjalan menuju halte bus meski harus berjalan dengan tertatih-tatih.
Samudra kini telah masuk ke sebuah tempat pemakaman, kakinya membawanya melangkah ke arah salah satu makam yang terlihat sudah lama tapi masih bersih dan terawat.

"Nenek Samudra Dateng"ucap Samudra saat sampai di Samping makam Sang Nenek.

"Nenek baik-baik aja kan, Sam rindu Nenek"ucap Samudra dengan air mata yang terus meluncur dari mata hazelnya.

Dulu sang Nenek adalah satu-satunya orang yang menyayanginya dalam keluarganya, ia begitu menyayangi sang Nenek, tapi 4 tahun lalu saat sang Nenek meninggal, ia seperti kehilangan arah, ia seperti kehilangan penopang hidupnya.
    
"Nenek hari ini Sam bawain bunga kesukaan Nenek, maafin Sam karena baru kesini"
  
"Nenek, Nenek kapan mau jemput Sam, Sam udah gak kuat, Sam mau sama Nenek aja"ucap Samudra dengan air mata yang tak berhenti keluar dari kedua matanya
    
"Mereka jahat, tapi Samudra sayang sama mereka"
    
"Samudra cuma mau kayak dulu lagi, Samudra cuma mau Ayah sama Bunda sayang sama Sam, Samudra cuma mau Abang gak benci sama Sam"ucap Samudra dengan memeluk nisan sang Nenek mengabaikan pakaiannya yang kotor akibat terkena tanah.
    
"Samudra mau di sini aja sama Nenek"

•• SAMUDRA BERCERITA ••

    
Samudra berlari dengan tergesa-gesa di rumah sakit saat mendapatkan kabar dari sang Bibi bahwa penyakit Neneknya kambuh dan harus dibawa ke rumah sakit.
    
"Bibi Nenek baik-baik aja kan?"tanya Samudra kepada sang Bibi saat sampai di ruangan yang diberitahukan sang Bibi.
   
"Lebih baik tuan muda masuk sendiri dan melihat keadaan nyonya besar"ucap Bibi dengan menundukkan kepalanya.
    
Samudra bergegas masuk ke ruangan saat mendengar ucapan sang Bibi, saat membuka pintu ia bisa melihat seluruh anggota keluarganya yang tengah menangis dan seseorang yang tengah berbaring dengan sekujur tubuh ditutupi kain putih.
    
Samudra dengan perlahan membuka kain putih yang menutupi wajah itu, ia langsung terduduk di lantai kala melihat wajah sang Nenek yang terlihat pucat dan dingin.
    
"Nenek bangun, jangan tinggalin Sam"lirih Samudra setelah sadar dari keterkejutannya, ia dengan cepat memeluk tubuh kaku sang Nenek
    
"Bawa dia pergi"
     
Samudra memberontak kala dua orang bodyguard suruhan Ayahnya menyeretnya untuk menjauh dari mayat sang Nenek.
     

•• SAMUDRA BERCERITA ••

    

"Kalo Sam nyusul Nenek, Nenek gak bakal marah kan sama Sam"batin Samudra lirih.
    
Samudra memutuskan untuk tetap berada di makam sang Nenek, sesekali menceritakan tentang apa saja yang sudah terjadi, Samudra bahkan tak sadar kalo kini hari sudah mulai sore.
    
"Sam pulang dulu ya, makasih karena Nenek udah mau dengerin cerita Sam"ucap Samudra kemudian kembali memeluk batu nisan sang nenek sebelum akhirnya mulai berdiri dan meninggalkan pemakaman.
    
Samudra tak memperdulikan bagaimana orang-orang kini memandangnya dengan tatapan aneh, bajunya yang kotor dengan tanah, kakinya yang berjalan tanpa alas kaki, mata yang terlihat sembab dan juga lebam lebam yang menghiasi tubuhnya seakan menjadi daya tarik tersendiri bagi orang lain.
    
"Ihhh ada orang gila"ucap seorang anak kecil dengan menatap ke arah Samudra.
    
"Heh gak boleh gitu, maafin anak saya ya mas"ucap wanita paru baya yang sepertinya merupakan ibu dari anak kecil tersebut.
    
Samudra tak menjawab apapun, ia hanya terus berjalan, ia ingin pula walau ia tahu apa yang akan ia dapatkan kalo ia pulang tapi ia tetap pulang, karena nyatanya sesakit apapun rumah itu tetap rumahnya.




~notqueen_1~



SAMUDRA BERCERITA || ENDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang