21. 50 Days

2K 95 4
                                        



Pada akhirnya takdir selalu menang




•• SAMUDRA BERCERITA ••

    

4 hari sudah berlalu akhirnya Samudra diperbolehkan untuk pulang ke rumah, hari ini ia di jemput oleh Pak Rudi, sedari perjalan Samudra sudah menguatkan hatinya untuk melihat pemandangan menyesakkan seperti apa lagi yang akan ia alami.
    
Benar saja saat memasuki rumah yang ia lihat adalah rumah yang terlihat sepi, hanya ada pembantu saja, tak ada satu anggota keluargapun yang menyambutnya, padahal sudah 1 Minggu lebih ia di rumah sakit tapi tak ada satupun dari mereka yang menanyakan keadaannya.
    
Sekarang Samudra hanya ingin menjalani kehidupan sesuai yang ia inginkan, Samudra masuk ke dalam kamar, matanya menatap ke arah kalender yang ada di meja naskah, 50 hari dan 4 hari sudah terbuang sia-sia di rumah sakit, artinya ia hanya memiliki waktu sekitar 46 hari lagi.
    
Tatapan Samudra jatuh ke salah satu tanggal yang ada di sana, hari ulangtahun Ayahnya tinggal beberapa hari lagi.
    
Samudra berjalan ke arah lemari, tangannya mengambil kaleng yang ia simpan di lemari baju paling bawah, Samudra menatap beberapa lembar uang yang ia miliki, ia ingin membelikan sang ayah sebuah sepatu tapi sepertinya uangnya belum cukup.
    
Selama ini sepatu yang di pakai sang Ayah harganya sangat mahal, dan Samudra ingin membelikan Ayahnya sepatu yang tidak terlalu mahal tapi juga tidak terlalu murah agar sang ayah tak malu saat memakainya.
    
"Uangnya kurang , apa aku harus nyari pekerjaan lagi biar dapet uang"batin Samudra menatap ke arah lembaran uang di tangannya.
    

•• SAMUDRA BERCERITA ••

    

samudra berjalan dengan beberapa air di tangannya, ia memutuskan untuk berjualan air  di lampu merah setiap pulang sekolah, untuk sekarang hanya pekerjaan itu yang bisa Samudra lakukan, tempat lain tidak mau menerimanya karena ia cacat atu bisu.
     
Hari sudah mulai sore Samudra memutuskan untuk menyelesaikan pekerjaannya setelah menyetorkan uang kepada pria yang memberinya pekerjaan.
    
Sebelum pulang hari ini Samudra menyempatkan diri untuk datang ke panti asuhan, dulu ia sering datang kesini bersama sang Nenek, bahkan saat Neneknya telah tiada ia tetap datang kesini, tapi akhir-akhir ini ia menjadi jarang datang dikarenakan banyak sekali masalah yang menghampirinya.
    
"Eh nak Samudra, udah lama gak kesini"ucap ibu Ana pengasuh panti Asuhan
    
"Iya Sam agak sibuk soalnya, anak-anak baik kan Bu?"tanya Samudra kepada sang ibu panti.
    
"Baik kok, kabar kamu gimana baik kan?"tanya ibu Ana.
    
"Baik kok Bu"ucap samudra dengan nada getir.
    
"Sam mau lihat adek-adek dulu ya Bu"ucap Samudra yang di angguki oleh ibu Ana.
    
Samudra berjalan ke arah taman dimana tempat anak-anak biasa bermain.
    
"KAK SAM" teriak anak-anak kala melihat Samudra.
    
"Kakak kok gak pernah kesini sih"ucap seorang anak perempuan dengan rambut yang dikepang dua.
     
"Kakak lagi banyak tugas makanya gak bisa datang ke sini"tulis Samudra pada notebooknya.
    
"AYO KITA MAIN"teriak para anak-anak, sedangkan Samudra hanya tertawa saat mendengar ucapan dari para anak-anak kecil tersebut.

•• SAMUDRA BERCERITA ••

    

Hari sekarang sudah malam, Samudra kini sudah sampai di rumahnya setelah menghabiskan waktu dengan anak-anak panti asuhan.
    
Di rumah Samudra kini tengah mengerjakan beberapa tugas sekolahnya.
    
Cklek
    
Suara pintu terbuka mengalihkan pandangan Samudra dari buku-buku tebal yang ada di hadapannya, terlihat sang Ayah yang kini tengah berdiri di depan pintu kamarnya.
    
Plak
    
Satu tamparan mendarat ke pipi Samudra, rasa panas nan perih mulai menjalar ke seluruh wajahnya meninggalkan bekas merah pada bagian pipinya.
    
"DASAR ANAK SIALAN, KEMANA SAJA KAU HA?"bentak sang Ayah mengagetkan Samudra.
    
"Ayah tadi Sam--"belum selesai Samudra bericap dengan bahasa isyaratnya sang Ayah langsung menyeretnya ke arah kamar mandi.
    
Byurrr
    
Dengan sekali lemparan tubuh Samudra kini sudah terlempar ke arah bak mandi yang sudah terisi dengan air penuh.
    
"APA UANG YANG KU BERIKAN TAK CUKUP HA, APA SEKARANG KAU PERGI KE BAR UNTU MENJUAL TUBUHMU ITU"ucap Stevan yang dihadiahi gelengan kuat oleh Samudra.
    
Dengan perlahan Stevan mulai melepaskan ikat pinggang yang dipakainya.
    
Ctarrr
    
Ctarrr
    
Cambukan terus di layangkan Stevan tak peduli tubuh yang di cambuk kini telah berlumuran darah, Samudra hanya diam dengan air mata yang mengalir di pipinya.
    
"Ayah sakit Ayah hikss"ucapan itu hanya Samudra yang bisa mendengarnya, kenapa tuhan?, kenapa ia harus bisu?, ia ingin seperti anak-anak lainnya?.
    
Stevan hanya menatap ke arah tubuh yang kini meringkuk kesakitan karena cambukannya, apakah ia lupa, putra yang kini sedang ia cambuk dulu adalah putra yang paling ia nanti-nantikan kehadirannya, putra yang paling ia jaga semasa kecil, putra yang tak ia biarkan terluka dulu tapi kini ia malah menjadi penyebab luka paling dalamnya.
    
"Ayah"batin Samudra lirih.
    
Samudra menatap sang Ayah dengan tatapan sendu, menatap orang yang selalu menjadi idolanya, superhironya, pahlawannya, bahkan bagi Samudra Ayahnya adalah Ayah yang terbaik meski bukan untuknya, tapi setidaknya ayahnya menjadi Ayah yang terbaik bagi kedua Abangnya.
    
Stevan pergi meninggalkan Samudra yang tergeletak di lantai kamar mandi, hatinya hancur berkeping-keping tapi dengan sekuat tenaga Samudra kembali menata hatinya meski akhirnya selalu sama.
    
"Maafin Samudra karena udah bikin Ayah malu dan bikin Ayah benci sama Samudra"ucap Samudra.





~notqueen_1~

SAMUDRA BERCERITA || ENDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang