Mencoba biasa walau luka tak pernah berhenti menghampirinya
Bel pulang sekolah berbunyi, pertanda bahwa pembelajaran telah selesai dilakukan, semua murid mulai berhampuran keluar untuk pulang atau sekedar berkumpul bersama teman, Samudra keluar dari kelas berjalan dengan tertatih-tatih menuju ke arah parkiran.
Huftt
Wajah samudra berubah sendu saat melihat Skala yang melewatinya begitu saja dengan motor sportnya tanpa memperdulikan ia yang berada di dekatnya.
"Semangat Samudra"batin samudra menyemangati dirinya sendiri.
Ia mulai membawa kakinya melangkah, menyusuri jalanan kota yang terlihat begitu ramai akan pengendara yang berlalu lalang dijalan, kakinya berhenti melangkah saat sampai di sebuah cafe yang lumayan jauh dari sekolahnya tetapi lumayan dekat dari rumahnya.
"Maaf kak Sam telat"ucap Samudra dengan Bahasa isyarat kepada seorang perempuan yang bernama Dinda.
"BISA GAK SIH DATANG CEPET DIKIT, LO KIRA INI CAFE PUNYA NENEK MOYANG LO"sarkas Dinda kepada Samudra yang baru saja datang.
"Maaf kak kaki Sam sakit jadinya telat"tulis Samudra di notebooknya agar Dinda mengerti apa yang ia ucapkan.
"MAU KAKI LO SAKIT KEK, PATAH KEK, GUE GAK PEDULI TOLOL, BISA GAK SIH BERGUNA DIKIT, APA SELAIN BISU LO SEKARANG MAU MERANGKAP JADI LUMPUH JUGA"bentak Dinda
"Kenapa sih Din?"tanya salah satu karyawan lain bernama Ayu, Ayu tadi bergegas ke belakang saat mendengar suara teriakan dari temannya itu.
"Ya Lo mikir aja, masak si bisu ini telat muluk, dikira kita gak butuh gantian apa?"sarkas Dinda, sedangkan Samudra hanya bisa menunduk mendengar ucapan sang Senior, karena itu memang benar, tapi ia juga bersumpah kalo itu bukan sengaja ia lakukan.
"Lo selain bisu nyusahin juga ya ternyata?, kenapa juga Lo diterima, nambah-nambahin beban aja"sinis ayu kepalang kesal dengan Samudra yang sudah sering terlambat ataupun tidak masuk kerja tanpa izin.
"Ganti baju Lo sana"ucap Dinda
"Sialan banget udah bisu nyusahin lagi"maki ayu
Samudra mendengarnya, mendengar semua makian yang dilayangkan untuknya tapi ia tidak bisa membantah karena nyatanya yang dikatakan mereka itu benar.
Samudra bergegas mengganti bajunya dan membantu melayani beberapa pelanggan yang datang baik untuk sekedar nongkrong dengan teman, pacar atau pun hanya duduk sendirian saja.
"Nih anterin ke meja nomer 7"ucap Ayu yang dijawab anggukan oleh Samudra.
Samudra pun bergegas mengantarkan pesanan ke meja nomer 7, Saat akan sampai ke meja nomer tuju tiba-tiba.
Pyarrr
Seorang wanita paru baya tiba-tiba datang dan menabraknya menyebabkan minuman yang tadi ia bawah tumpah mengenai bajunya, sedangkan gelasnya sudah pecah berceceran di lantai.
"KAMU BISA KERJA GAK SIH"suara triakan berhasil mengalihkan perhatian orang-orang yang ada di dalam cafe.
Terlihat Samudra yang tengah menunduk dengan seorang wanita yang terlihat tengah memakinya, Samudra menatap takut ke arah wanita di depannya, ia tahu kalo ia tidak salah tapi ia yakin kalo ia akan tetap di marahi.
"KAMU TAHU BERAPA HARGA BAJU SAYA HA?"ucap wanita paru baya tersebut dengan menunjuk ke arah Dress putih yang saat ini terdapat noda kecoklatan di atasnya.
"Maaf Samudra gak sengaja"ucap Samudra semakin menundukkan kepalanya kala wanita itu terus menyentak tajam ke arahnya.
"Oh bisu, pantas kamu gak bisa bekerja dengan benar"sinis wanita tersebut memandang rendah ke arah Samudra, ketika melihat Samudra yang berbicara menggunakan bahasa isyarat.
Lagi-lagi kekurangannya di jadikan alasan, apa salahnya? wanita itu yang menabraknya, tapi kenapa malah membentak-bentaknya, apalagi ketika wanita itu juga mengikut sertakan kekurangannya, apakah mereka tak pernah memikirkan perasaannya?, orang cacat sepertinya juga punya hati.
"DIMANA MENEJERMU, PANGGIL DIA KESINI"suruh wanita paru baya tersebut kepada salah satu karyawan yang ada di sana, yang langsung dilakukan oleh karyawan tersebut.
"Nyonya, tolong maafkan saya, tolong maafkan saya nyonya"ucap samudra menggeleng panik saat sang wanita paru baya yang ada di depannya berteriak memanggil menejer cafe tempat ia bekerja.
"Ada apa ini?"ucap seorang pria yang baru saja datang.
"Jadi kamu menejernya, dengar, tolong katakan pada si bisu ini untuk bekerja dengan benar, lihat apa yang ia lakukan dengan pakaianku"ucap wanita tersebut.
"Maafkan kami nyonya, kami akan Menganti pakaian anda" balas menejer sopan.
"Tidak perlu, orang rendahan seperti kalian tak kan mampu mengganti pakaianku"ucap wanita tersebut kemudian pergi meninggalkan cafe tersebut.
Huftt
"Samudra kali ini saya maafkan kamu, tapi jika kamu mengulanginya saya pastikan kamu akan dipecat"tegas sang menejer.
"Lebih baik sekarang kamu pergi dari sini, kamu bisa kembali bekerja besok"ucap sang menejer, Samudra hanya bisa menuruti ucapan dari sang menejer.
"Kenapa gak sekalian di pecat aja sih, nyusahin muluk kerjaannya"sinis Dinda, sedangkan Samudra hanya diam kemudian pergi untuk mengganti pakaian kerjanya.
•• SAMUDRA BERCERITA ••
Samudra lagi-lagi berjalan menyusuri trotoar yang kini terlihat sepi padahal hari belum terlalu malam, helaan nafas terdengar dari mulutnya kala ia mengingat bagaimana ia melalui hari ini, sungguh harinya selalu terasa berat, bahkan saat tidur pun Samudra tak pernah dibiarkan tenang, Kadang Samudra bahkan bingung, entah harus bagaimana lagi ia menjalani hari-harinya itu.
"Gak papa, Sam udah hebat hari ini"ucap samudra berusaha menghibur dirinya sendiri, walau nyatanya kata hiburan sudah terlalu basi untuk dirinya, rasanya sampai kata-kata tersebut sudah tak memiliki arti lagi.
Saat sampai di depan rumah, Samudra terdiam memandang rumah yang saat ini menjadi tempat tinggalnya, rumah yang bahkan ia tak bisa merasakan kehangatan bahkan sedikitpun.
Prangg
Sebuah gelas melayang tepat mengarah pada kepala Samudra, pusing, itulah yang Samudra rasakan saat ini, dalam keadaan pusingnya ia masih bisa melihat darah yang terus menetes dari kepalanya dan juga kedua orang tuanya yang menatapnya tajam.
"DARIMANA SAJA KAMU HA, SUDAH BERANI KAMU KELAYAPAN"bentak sang ayah tanpa peduli keadaan samudra yang jauh dari kata baik, belum sembuh luka tadi pagi tapi sekarang sudah ada luka baru di kepalanya.
"Ayah"batin Samudra menatap stevan yang kini menatapnya tajam, di sampingnya juga ada Sonya yang hanya menatap jengah tanpa rasa kasihan sedikitpun.
"SINI KAMU"bentak Sonya.
Tanpa menunggu jawaban dari Samudra Sonya langsung menarik rambut sang putra, menyeretnya ke arah gudang, tanpa peduli akan raut samudra yang tengah kesakitan, tanpa peduli darah yang keluar semakin deras bahkan mengenai tangannya yang tengah menarik rambut sang putra.
Ingin rasanya Samudra berteriak mengatakan sakit, tapi percuma, ia bisu tak akan ada yang bisa mendengar walaupun ia berteriak sekeras apapun.
"Sakit" batin samudra menatap darah yang terus mengalir menetes ke lantai rumahnya.
Brughh
Sonya melempar tubuh Samudra begitu saja ke lantai gudang, matanya menatap jijik ke arah Samudra yang sialnya adalah putranya sendiri.
"Ayah jangan sakit"ucap Samudra saat melihat sang ayah yang sudah berada di depannya, memegang sebuah cambuk yang siap ia layangkan kepadanya.
Stevan tak peduli, ia dengan keras melayangkan cambukan ke arah Samudra, mengabaikan tubuh rinkik itu yang mungkin bisa hantur kapan saja.
Ctarrr
Ctarrr
"Ayah sakit hiks, ayah Jangan sakit"ucapan itu hanya bisa ia dengar sendiri, sekujur tubuhnya sakit, hatinya juga berdenyut sakit, ayahnya, superhironya, pahlawannya, memukulinya, sedangkan sang Bunda, cinta pertamanya, wanita yang paling ia sayangi, hanya menatapnya datar tanpa minat.
Ctarrr
Ctarr
"DASAR ANAK SIALAN"maki sang Ayah kepada Samudra yang saat ini sudah tergeletak tidak berdaya.
Seakan tak cukup dengan pukulan, tendangan pun juga Samudra dapatkan dari sang Ayah, rasanya tubuh Samudra benar-benar remuk sekarang.
"DASAR BISU"sentak sang ayah sebelum akhirnya pergi dengan satu tendangan terakhir pada bagian dada Samudra, sedangkan Samudra sudah tergeletak takberdaya, darah berceceran dimana-mana, mata sayu itupun kini hanya bisa mengeluarkan cairan bening sebelum akhirnya kegelapan merenggut kesadarannya, lelah hanya itu kata yang bisa mendeskripsikan keadaan Samudra saat ini.
~notqueen~
KAMU SEDANG MEMBACA
SAMUDRA BERCERITA || END
Teen FictionAndai Samudra bisa bicara, para penyelam takkan perlu menyelam untuk mengetahui isi didalamnya. Andai Samudra bisa bicara, Palung Mariana takkan menjadi misteri yang tak kunjung terpecahkan meski sudah lama. Andai Samudra bisa bicara, segitiga Bermu...
