Luka lama bahkan belum sembuh tapi kenapa luka baru terus tumbuh
"Lo bisa cepet dikit gak sih lelet banget"setelah pagi tadi Skala membangunkannya dengan paksa, kini Samudra tengah berada di mall bersama Skala, ia di paksa untuk membawa barang yang di beli Skala tanpa di bantu oleh siapapun.
Brukk
"SIALAN, LO BISA JALAN YANG BENER GA SIH, LO MAU GANTI KALO SAMPEK BARANG GUE RUSAK"teriak Samudra menghiraukan tatapan dari pengunjung yang lain.
"Maaf Abang Sam pusing"ucap Samudra wajahnya bahkan terlihat sudah sangat pucat tapi itu tak membuat Skala menghentikan kelakuannya untuk menyiksa Samudra.
"Gak usah lebay Lo anjing, pusing doang pakek drama"sarkas Skala
"Cepetan bawa, gue mau pulang"ucap Skala kemudian pergi meninggalkan Samudra yang masih terduduk di lantai.
Samudra dengan cepat mengambil barang belanjaan yang berceceran kemudian berjalan mengikuti Skala meskipun ia cukup kesusahan akibat dari langkah kaki Skala yang terlalu cepat.
"WOY SKA"panggilan tersebut berhasil menghentikan langkah cepat Skala dan juga Samudra.
"Ngapain?"tanya Skala
"Biasa, adek gue ngajakin jalan-jalan"ucap pemuda bernama Reno.
"Abang ayo beli es krim ayo"ucap seorang pemuda dengan menarik tangan Reno, ia adalah adik Reno, Rean namanya, umurnya sudah 9 tahun tapi emang sikapnya aja yang pada dasarnya masih kayak bocil, biasa kebanyakan di manja, Reno saja kadang dibuat frustasi dengan kelakuan adiknya seperti sekarang, sang adik terus memaksa untuk membeli es krim padahal ia tidak boleh makan es krim.
"Heh cil gak mau nyapa gue dulu"ucap Skala sambil melihat Rean.
"Abang Ska, ayo beli es krim"ucap Rean saat melihat Skala.
"Lu kan gak boleh makan es krim cil"ucap Skala lagi.
"Ih Abang Ska sama aja kayak Abang Reno nyebelin"ambek Rean karena permintaannya tak di turut.
"Dih si bocil ambekan"ucap Reno jengah melihat kelakuan sang adik.
"Biarin wlek"
"Gue tampol ya lu"ucap Reno dengan ancang-ancang seakan-akan ingin menampol Rean.
"Udah-udah gak usah berantem, sini sama Abang"ucap Skala kemudian menyuruh Rean untuk menaiki punggungnya.
"Yeyyyyy beli es krim"
"Norak amat lu cil"ucap Reno kepada sang adik yang saat ini sudah berada di punggung Sahabatnya.
"Wlek"ejek Rean kepada sang Abang.
Di belakang Samudra melihat semuanya, ada rasa iri ketika melihat perbedaan dari bagaimana cara Skala memperlakukan adik dari temannya dan memperlakukan dirinya, adik kandungnya.
Kini mereka berempat sudah berada di kedai es krim sesuai permintaan dari Rean.
"Eh gue lupa mau nanya, ini siapa Lo Ska"ucap Reno menatap ke arah Samudra.
"Anak pembokat gue dia"ucap Skala Santai dengan mengelus rambut Rean yang kini berada di pangkuannya, sedangkan Samudra, matanya tak bisa lepas dari pemandangan sang Abang yang tengah memangku Rean.
"Oh, salken gue Reno santai aja sama kita, ngomong aja jangan diam-diam Bae, gak usah takut sama Skala dia gak segalak keliatannya kok"ucap Reno yang mendapat plototan tak terima dari Skala.
"Percuma dia bisu"ucap Skala dingin.
Samudra langsung menundukkan kepalanya kala mendengar ucapan Skala, apakah harus sekasar itu, ia juga tahu kalo ia bisu, tak bisakah Skala tidak sedingin itu kepadanya.
"Eh eh sorry gue gak tau"ucap Reno memandang tak enak ke arah Samudra.
"Gak papa"ucap Samudra sambil tersenyum.
"Lo jangan gitu lah, jutek banget Lo kayaknya"ucap Reno kala menyadari nada dingin dari Sahabatnya, sedangkan Skala hanya menatap tak minat ke arah sahabatnya.
"Ngomong-ngomong Lo sakit ya pucet amat"ucap Rena kala menyadari wajah pucat dari Samudra.
"Gak papa kok" ucap Samudra dengan melambaikan kedua tangannya, tanda bahwa dia baik-baik saja.
"Tega amat Lo, anak orang sakit malah di ajakin ke mall"ucap Reno menatap ke arah Skala yang tengah menyuapi rean es krim.
"Bodo amat, lagian dia juga babu gue"ucap Skala santai.
Samudra hanya bisa menunduk kala mendengar ucapan sang Abang, ia hanya di anggap sebagai pembantu bukan adik ataupun keluarga.
•• SAMUDRA BERCERITA ••
30 menit berlalu saat ini Samudra dan Skala sudah berada di dalam mobil, sedari tadi Skala tak henti-hentinya mengumpat kala melihat beberapa pengendara yang mengendara dengan seenaknya.
"Turun Lo anjing"ucap Skala saat sudah sampai di depan Mension.
Samudra berjalan keluar dari mobil kemudian berjalan dengan tertatih ke dalam rumah dengan membawa barang belanjaan milik Skala.
"Cepetan kek anjing lelet banget lo dari tadi"ucap Skala kesal.
Saat mereka masuk terlihat anggota keluarga yang lain yang tengah melaksanakan makan siang di meja makan.
"Habis dari mana aja kok baru pulang"ucap Sonya saat melihat Skala yang berjalan menuju meja makan di ikuti Samudra di belakangnya.
"Habis dari mall mah, Abang di tinggalin"sahut Ken
"Dih orang tadi Abang di cariin gk ada kok ya udah di tinggal aja"ucap Skala santai kemudian berjalan duduk di depan sang Abang.
"Dih bilang aja gak mau ngajak Abang"
"Biarin"
"Skala jangan gitu sama Abangnya"ucap Stevan memperingati sang putra.
"Udah-udah kok jadi berantem sih, Ska mau makan apa hmm?"tanya sang Bunda.
"Apa aja deh terserah bunda"ucap Skala.
Sonya pun mulai mengambilkan makanan untuk Skala, tangannya dengan cekatan mengambil beberapa lauk yang di sukai oleh sang putra.
Sedangkan Samudra hanya memandang sendu ke arah pemandangan di depannya, rasanya ia ingin bergabung di meja makan bersama keluarganya, tapi ia sadar kalo ia tidak diterima di sana.
"Ngapain kamu masih berdiri di sana?"sinis Sonya mengalihkan pandangan yang lain.
"Bunda Sam boleh ikut makan sama kalian?"tulis Samudra pada notebooknya, selama ini samudra memang selalu membawa notebook kecil di sakunya, agar memudahkan dia untuk berbicara dengan orang lain.
"Kau ingin makan di sini?"tanya Sonya yang di angguki oleh Samudra.
Sonya langsung mengangkat piring berisi makanan miliknya kemudian dengan perlahan ia mulai menumpahkannya ke lantai.
"Kau mau makan kan?, itu makananmu cepat makan"ucap Sonya
Samudra dengan cepat menggeleng kala melihat makanan yang kini sudah berceceran di lantai.
Brukk
Sonya menyeret tubuh Samudra ke arah makanan yang berceceran di lantai, ia juga menekan kepala Samudra menyuruhnya untuk membuka mulut dan memakan makanan tersebut.
"BUKA MULUTMU, KAU MAU MAKAN KAN BUKA CEPAT"sentak Sonya dengan terus menjambak rambut Samudra menekannya ke arah makanan yang berceceran di lantai.
Samudra menggelengkan kepalanya, meskipun kepalanya sakit ia tetap menggelengkan kepalanya berusaha lepas dari cengkraman sang bunda, ia tak ingin memakan makanan kotor tersebut, sedangkan sang Ayah dan sang Abang hanya memandang datar ke arahnya.
"Enak Hem?"ucap Sonya kala melihat mulut Samudra yang kini sudah terisi makanan tersebut.
Dengan sekali sentakan Sonya melepaskan cengkramannya dari rambut hitam Samudra kemudian kembali ke meja makan untuk melanjutkan acara makannya yang sempat tertunda, Samudra sendiri sudah menangis tersedu-sedu karena perlakuan dari sang bunda.
"Samudra cuma mau makan sama kalian"lirih Samudra dalam hati
~notqueen1~
KAMU SEDANG MEMBACA
SAMUDRA BERCERITA || END
Teen FictionAndai Samudra bisa bicara, para penyelam takkan perlu menyelam untuk mengetahui isi didalamnya. Andai Samudra bisa bicara, Palung Mariana takkan menjadi misteri yang tak kunjung terpecahkan meski sudah lama. Andai Samudra bisa bicara, segitiga Bermu...
