22. Hari-hari yang Sulit

1.8K 92 2
                                        



"Sam cuma mau istirahat"
~Samudra Anka~

    

Samudra tengah mengobati lukanya di bantu oleh Bi Minah, sesekali mendengarkan kata-kata penenang maupun saran dari sang Bibi.
    
"Den, Bibi mau ngomong sesuatu sama Aden"ucap Bi Minah.
    
"Kenapa?"tanya Samudra bingung.
    
Bi Minah menatap Samudra yang kini tengah menatapnya juga, sejenak ia merasa tak tega untuk mengatakannya tapi ia benar-benar harus mengatakannya sekarang.
    
"Den, Bibi mau pamit ya, Bibi mau pulang ke kampung"ucap sang Bibi
    
Deg
    
Samudra dapat merasakan detak jantungnya yang berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya saat mendengar apa yang di katakan Bi Minah, kenapa?, Papa Putra, Mama Sinta, Abang Aska, Gio, Lio mereka sudah meninggalkannya kenapa sang Bibi sekarang juga ingin meninggalkannya?.
    
"Kenapa?kenapa Bibi ninggalin Sam sendiri"ucap Samudra dengan nada bergetar.
    
"Aden Bibi juga gak mau ninggalin Aden disini sendiri, tapi masalahnya cucu Bibi di kampung sakit, jadi Bibi harus balik, Bibi juga udah tua, jadi Bibi bakalan berhenti sekalian"ucap Bi Minah, ah Samudra lupa, benar Bi Minah masih memiliki keluarga tidak sepertinya yang memiliki keluarga namun tak di anggap.
     
Samudra tau cucu Bi Minah, ia seumuran dengannya, jujur, ia iri, ia sudah menganggap Bi Minah sebagai neneknya sendiri selama ini.
    
Sebisa mungkin Samudra menahan airmatanya agar tidak turun, semua orang yang menyayanginya sekarang sudah pergi, pada akhirnya ia benar-benar sendiri, pada akhirnya ia di tinggalkan kembali.
    
"Maafin Bibi ya Aden, karena gak bisa terus sama Aden"air mata yang semula Samudra tahan kini sudah meluruh turun dari kedua pelupuk matanya, jujur ia takut, hal apalagi yang akan ia hadapi kedepannya, akan sesulit apalagi perjalanannya nanti, ia tidak tau.
    
"Gak papa gak perlu minta maaf, Sam ngerti kok, harusnya Sam yang minta maaf ke Bibi karena udah banyak repotin Bibi"ucap Samudra kepada Bi Minah.
    
"Gak, Aden gak pernah ngerepotin Bibi, Bibi malah seneng karena direpotin sama Aden"ucap sang Bibi dengan mengelus pelan kepala Samudra yang ada di pelukannya.

"Bibi jangan lupain Sam ya"ucap Samudra yang dial angguki oleh sang Bibi.
    
"Bibi gak bakalan lupain Aden"ucap sang Bibi
    
"Kalo gitu Bibi keluar dulu ya"ucap Bi Minah kemudian pergi meninggalkan Samudra.
    
Samudra berjalan ke arah balkon, kakinya membawanya duduk di kursi yang ada di balkon, menatap langit yang tampak gelap karena tertutup oleh awan mendung.
    
"Nenek, sekarang Bi Minah bakalan ninggalin Sam, Sam bakal sendirian lagi kayak waktu di tinggal Nenek"batin Samudra sambil memandang langit.
    
"Nenek pada akhirnya Samudra tetep sendirian, pada akhirnya Samudra tetap gak punya siapa-siapa"batin Samudra diakhiri dengan kekehan miris dibelakangnya.

•• SAMUDRA BERCERITA ••


    
Pagi ini Samudra terbangun dengan Bi Minah yang sudah tidak ada lagi di rumah ini, sedari kecil Nenek dan Bi Minah lah yang selalu menjaganya dengan sepenuh hati, jadi tak heran kalau kehilangan Bi Minah menjadi sesuatu hal yang cukup menyakitkan bagi Samudra.
    
"Pagi Bisu"sapa Saka kepada Samudra yang sudah datang terlebih dahulu.
    
Samudra hanya diam tak menjawab, moodnya hari ini benar-benar buruk, ia sedih, tapi juga marah, ia juga kecewa tapi ia tidak tau kepada siapa?.
    
Plak
    
"Sialan Lo bisu berani banget Lo gak jawab gue"ucap Saka kesal.
    
"Aku punya nama, nama aku Samudra bukan bisu"tulis Samudra kesal pada notebooknya.
    
Brakk
    
"NGELUNJAK YA LO, UDAH DI BAIKIN MALAH NGELUNJAK"teriak Saka kepalang kesal
    
"Sikat aja gak sih"ucap Delon yang sedari tadi hanya menyimak.
    
Samudra tak menghiraukan ucapan dari kedua teman sekelasnya itu, ia hanya tetap diam menatap ke arah luar jendela kelasnya.
    
Bughh
    
"Mampus Lo anjing"ucap Saka  setelah menghantam waja Samudra, sedangkan Samudra, ia hanya menatap Saka sekilas kemudian kembali menatap ke arah luar jendela.
    
"Anak Bisu kayak Lo emang gak pantes lahir"sarkas Saka di ikuti tawa dari seluruh teman kelasnya.

    

•• SAMUDRA BERCERITA ••

    

Samudra tengah menatap lampu hijau yang kini belum juga berganti menjadi warna merah, di tangannya terdapat beberapa air minum yang akan ia jual kepada pengendara mobil yang berhenti, Samudra juga sudah mengganti baju seragam yang ia pakai tadi.
    
"Huft Hari ini panas banget, Semangat Samudra ingat ini buat hadiah ayah"ucap Samudra memberi semangat pada dirinya.
    
Keringat membasahi tubuhnya tapi tak menjadikan semangat seorang Samudra surut, dengan tubuh rinkik itu ia berjalan menawarkan sebotol air kepada beberapa mobil yang berhenti maupun beberapa pejalan kaki.
    
Tes
    
Tes
    
Samudra dengan cepat menunduk kala merasakan darah menetes dari lubang hidungnya, ia berjalan ke salah satu tempat duduk yang ada di pinggir trotoar, tangannya mengambil beberapa tisu yang ada di dalam tasnya untuk menghentikan pendarahan dari hidungnya.
    
"Shhh, huftt tahan sebentar lagi"ucap Samudra kala merasakan sekujur tubuhnya yang terasa begitu sakit.




~notqueen_1~



SAMUDRA BERCERITA || ENDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang