23. Kenyataan

1.9K 97 6
                                        


Spesial up

karena Hati author lagi bahagia😂🙏😂

Up random sesuai mood😅







Nyatanya rasa sakit terus datang tanpa pernah usai

    


Darah akhirnya berhenti meski perlu waktu yang lama, Samudra kembali berdiri untuk melanjutkan melakukan pekerjaan yang sempat tertunda tadi.
    
Samudra berjalan ke arah mobil putih kemudian mengetuk kaca mobil tersebut untuk menawarkan air di tangannya, Samudra terkejut kala melihat kaca mobil terbuka.
    
"Apa yang kau lakukan di sini anak sialan"ucap Sonya, ia dia Sonya, Bundanya, wanita yang telah melahirkannya, sejenak Sonya juga terkejut kala melihat Samudra, apalagi saat melihat apa yang ia lakukan sekarang.
    
"Bu-bunda Sam c-cuma ma"ucap Samudra terhenti kala mendengar ucapan Sonya.
    
"Masuk sekarang"sentak Sonya, sedangkan Samudra hanya terdiam menunduk tak tau harus mengatakan apa.
    
"CEPAT MASUK SIALAN"teriak Sonya tanpa memperdulikan orang sekitar yang kini menatapnya.
    
Samudra segera menuruti perintah sang Bunda, sebelum pergi Samudra juga menyampatkan diri untuk kembali dan mengambil tas miliknya yang tergeletak di pinggir trotoar.
    
Sepanjang perjalan baik Sonya maupun Samudra keduanya hanya diam, dengan Sonya yang sibuk dengan handphonenya dan ia yang sibuk memandang ke arah jendela, menikmati pemandangan gedung-gedung yang menjulang tinggi.

•• SAMUDRA BERCERITA ••

    

Mobil berhenti tepat di depan rumah berlantai dua, Sonya bergegas berjalan ke arah Samudra, dengan kasar Sonya menyeret Samudra untuk memasuki rumah.
    
Brukk
   
"DASAR ANAK SIALAN, BELUM CUKUP KAU MEMBUAT KAMI MALU SEKARANG KAU INGIN SEMAKIN MEMPERMALUKAN KAMI HA"bentak Sonya tak lupa dengan tangan yang ia gunakan untuk menunjuk ke arah Samudra.
    
"Bunda gak gitu, Sam cuma ma--"belum sempat Samudra menyelesaikan ucapannya Sonya lebih dulu  melempar Samudra menggunakan sebuah Vas bunga yang berada di meja ruang tamu.
     
Arghhh

    
"KAMU BENAR-BENAR ANAK SIALAN, KENAPA SAYA HARUS NGELAHIRIN KAMU HA?, MENYUSAHKAN SAJA BISANYA"sarkas Sonya kepalang kesal.
    
Samudra hanya tetap diam, meski darah mengalir di dahinya, tubuhnya sudah terbiasa menerima segala rasa sakit.
    
"Bunda Sam juga gak pernah minta buat lahir, Sam juga gak pernah mau bikin Bunda, Ayah sama Abang malu"batin Samudra dengan tangan yang terkepal erat, menahan segala rasa sakit yang ia terima.
    
"KAMU TAHU, GARA-GARA KAMU, SUAMI SAYA HARUS MEMBUAT BANYAK KEBOHONGAN HANYA UNTUK MENUTUPI KECACATANMU, DAN KAMU MALAH MELAKUKAN HAL SEENAKNYA"
    
"Bunda, hati Sam sakit, jangan ngomong gitu lagi, Bunda boleh pukul Sam tapi jangan ngomong gitu Sam mohon"tulis Samudra pada sebuah kertas.
    
"KAU PIKIR SAYA PEDULI?"ucap Sonya tajam.
    
"HARUSNYA KAU BERSYUKUR, KAU SUDAH DI BERI MAKAN DAN DI BIARKAN SEKOLAH, DASAR ANAK TAK TAU DIRI"
    
Telinga Samudra rasanya berdengung ketika mendengar segala makian dari sang Bunda, apakah Bundanya tak memikirkan perasaannya, bagaimanapun ia, ia tetap putranya kan?, ia tetap darah dagingnya.
    
"Maafin Sam Bunda"
    
"Bunda kenapa sih teriak-teriak?"ucap Ken yang baru datang, tadi saat ia akan masuk ke dalam rumah ia mendengar suara sang Bundanya yang sedang berteriak-teriak.
    
"APA LAGI KALO BUKAN GARA-GARA ANAK SIALAN IN"teriak Sonya dengan menunjuk ke arah Samudra yang terduduk di lantai, tak lupa dengan dahi yang kini sudah di aliri darah.
    
"Lo emang kalo gak nyusahin ya biang masalah ya"ucap Ken menatap tajam ke arah Samudra.
    
"Udah, Bunda naik aja ke atas biar Ken yang urus, anak gak tau diri ini"ucap Ken kepada sang Bunda.
    
Sonya pun langsung menuruti ucapan sang sulung, sedangkan Ken kembali menatap tajam ke arah Samudra yang kini masih terduduk di hadapannya.
    
"Sini Lo"ucap Ken kemudian menarik tangan Ken dengan kasar.
    
Brukkk
    
"Malam ini Lo tidur di sini, jangan harap buat dapet makan malam"ucap Ken setelah mengurung Samudra di gudang belakang.
    
"Abang jangan, jangan tinggalin Sam hikss Sam takut gelap"ucap Samudra menatap gudang yang kini terlihat gelap dan menyeramkan, dulu masih ada sedikit cahaya dari lampu tapi sekarang sepertinya lampunya telah padam, jadi sekarang hanya kegelapan yang bisa Samudra lihat di dalam gudang.
     
Samudra menahan kaki sang Abang agar tidak meninggalkannya, ia takut gelap, ia tak suka gelap, gelap membuatnya panik.
    
"LEPAS ANJING"
    
Brukk
    
Ken menendang tubuh Samudra hingga terlempar menabrak dinding, dia tak peduli bahkan ia merasa risih saat berada di dekat Samudra.
    
Ken pergi meninggalkan Samudra yang terduduk dengan menelungkup kan kepalanya, kepala yang sedari tadi berdenyut sakit akibat luka yang di dapatnya tadi kini malah semakin berdenyut pusing.
    
Samudra mengangkat lengan panjang dari Hoodienya, hal pertama yang ia lihat adalah lebam keunguan yang semakin memenuhi kulit putihnya,
Ia bahkan sampai tidak bisa membedakan antara lebam yang ia dapat dari pukulan dan lebam yang ia dapat dari penyakitnya.
    
Apa kesalahannya sampai mendapatkan ujian yang seberat ini?
    
Ia juga ingin istirahat.
    
Ia juga ingin mendapatkan ketenangan.
    
"Abang Aka takut gelap"
   
Aka adalah panggilan yang dulu dipakai oleh keluarganya untuk memanggilnya, Abang Ken, Bang Ska dan si bungsu Aka, tapi sekarang panggilan itu sudah tak berguna lagi, kadang Samudra rindu panggilan tersebut, tapi ia bisa apa?.

•• SAMUDRA BERCERITA ••

   

Seorang anak kecil kini tengah meringkuk sambil menutup kedua telinganya kala mendengar suara petir yang begitu keras.
   
"Aka takut"
    
Pintu terbuka menampakan seorang pria paru baya yang kini tengah berjalan menghampiri putra bungsunya.
    
"Sttt gak papa Ayah di sini, masak jagoan ayah takut sih"ucap Stevan dengan mengelus surai hitam milik Samudra kecil.
    
"Sini tidur ayah temenin"samudra kecil langsung menghambur ke pelukan sang ayah, tangannya menggenggam erat kemeja sang ayah seakan takut untuk di tinggalkan.
    
"Sttt tidur ya, Ayah temenin"ucap Ayah dengan mengelus surai Samudra yang berbaring di pelukannya.
    
Jderrrr
    
Suara petir yang kuat diikuti listrik yang padam semakin membuat Samudra terkejut karenanya, sedangkan Stevan ia dapat merasakan tubuh putranya yang menegang ketakutan di pelukannya.
    
"Sttt tidur ya ayah bakal selalu nemenin Aka"ucap sang Ayah.
    

•• SAMUDRA BERCERITA ••

     

"Ayah Aka takut, Ayah dimana?"rintih Samudra dalam hati.
    
Dulu ia kira kata-kata yang Ayahnya itu ucapkan akan bertahan selamanya tapi ternyata itu hanya bertahan untuk sementara.

"Ayah Aka mau Ayah"



~notqueen~

SAMUDRA BERCERITA || ENDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang