Sekarang semuanya udah usai, semuanya udah selesai.
Sudah 2 jam berlalu dan akhirnya acara telah selesai, para tamu pun sudah pergi meninggalkan ruangan sejak 5 menit yang lalu, Samudra berjalan ke arah keluarganya, ia berniat untuk memberikan kado miliknya kepada sang Ayah.
"Ayah ini kado buat Ayah, selamat ulang tahun"ucap Samudra sambil memberikan kado yang sudah ia persiapkan untuk sang Ayah sedari kemarin.
Brukkk
Stevan melempar hadiah dari Samudra tanpa melihat isinya terlebih dahulu.
"Kenapa di buang?"ucap Samudra menatap nanar ke arah kado miliknya.
Bughh
Bughhh
"APA YANG KAU LAKUKAN DISINI, BUKANKAH SUDAH KU KATAKAN UNTUK TIDAK DATANG KEMARI"bentak Stevan, tak lupa beberapa pukulan yang ia berikan kepada sang putra.
"Sam cuma mau ngasih kado buat Ayah"ucap Samudra menunduk.
Bughhh
"KAU PIKIR AKU PEDULI"sarkas Stevan
"SAYA GAK BUTUH KADO DARI ANAK SIALAN SEPERTIMU"ucap Stevan,
•• SAMUDRA BERCERITA ••
Samudra menatap sang ayah dengan tatapan sendu, ia hanya ingin memberikan hadiah yang ia dapat dari hasil tabungan dan kerja kerasnya kepada sang Ayah, tapi apa yang ia dapatkan, pukulan, hinaan, lalu apa lagi?.
"Maafin Sam Ayah"ucap Samudra berusaha menahan Isak tangis.
"SIALAN KAU BENAR-BENAR MEMBUAT SUASANA HATIKU MENJADI BURUK"ucap Steven
"Sam cuma mau ngasih kado ke Ayah kenapa Ayah pukul Sam"ucap Samudra dengan mata yang sudah mengeluarkan air mata.
"Kalo Ayah gak suka Sam bisa cari kado lagi supaya Ayah suka"ucap Samudra lagi, tak tahu bahwa ucapan dari sang Ayah selanjutnya akan begitu menyakitkan baginya.
"Kamu mau tau apa yang saya suka?"tanya Stevan dengan mencengkram erat rahang milik Samudra.
"Sakit"
"Kamu ingin tahu kan apa kado yang paling saya inginkan, berita kematianmu"ucapan terakhir dari Stevan benar-benar menghancurkan seorang Samudra Anka.
Bagaimana seorang Ayah yang mengharapkan kematian putranya sendiri, kenyataan itu seolah membuat hati Samudra hancur berkeping-keping.
"Jadi bagaimana kalau saya tunggu berita kematianmu"ucap Stevan.
Samudra hanya diam, tapi tidak dengan kedua matanya yang tak berhenti mengeluarkan air mata.
"Lo denger kan apa yang Ayah bilang, mending Lo mati aja deh daripada jadi beban doang"ucap Skala santai.
"Mati kayaknya pantes juga buat orang cacat kayak Lo"tambah Ken
"Saya menyesal melahirkan kamu, dan apa yang dikatakan suami saya itu benar lebih baik kamu mati"ucap Sonya dingin.
Setelah mengatakan hal tersebut mereka pergi meninggalkan Samudra yang masih terdiam dengan posisi yang sama.
Hahahah, bagaimana ini, teman-temannya sudah mengharapkan kematiannya, keluarganya pun sekarang juga mengharapkan kematiannya, lalu apakah ia harus menuruti apa yang mereka inginkan.
Padahal tanpa mereka mengharapkan kematiannya pun sisa waktunya tinggal 40 hari lagi, apa selama itu menunggu waktu 40 hari?, atau apa mereka setidak sabar itu untuk menunggu hari kematiannya?.
Ia pasti akan mati tanpa mereka minta, dengan penyakit yang bersarang di tubuhnya ini apa kalian pikir ia akan bisa bertahan.
"Kado Ayah sulit banget ya hehe"ucap Samudra terkekeh getir.
Apakah salah jika selama ini ia mengharapkan kasih sayang dari keluarganya?, ia pikir suatu saat nanti keluarganya akan kembali lagi menyayanginya seperti saat ia masih kecil tapi sekarang apa?, keluarganya malah mengharapkan kematiannya, dengan entengnya mereka mengatakan kalo mereka ingin melihatnya mati.
"Sesek banget Sampek rasanya Sam gak bisa nafas lagi"batin Samudra kala merasakan rasa sesak yang begitu menghimpit dadanya seakan ada batu besar yang baru saja menimpa dadanya.
Padahal dulu mereka begitu menyayanginya, apakah mereka tidak ingat, apakah begitu mudah untuk melupakannya.
"Tuhan jika bisa, Sam mau puter waktu lagi, Sam mau pergi ke hari dimana Ayah, Bunda sama Abang sayang sama Sam"batin Samudra menatap sendu ke arah lantai.
Bukankah ini terlalu berlebihan, bukankah mereka semua keterlaluan, bagaimanapun ia masih manusia, apakah pantas ia diperlakukan seperti ini, apa kesalahannya?,kenapa? Ia sudah lelah, mentalnya sudah tidak bisa lagi menerima.
Bukankah Tuhan selalu adil, lalu apa yang terjadi padanya?, ia hanya mengharapkan kebahagiaan tapi yang datang kenapa selalu penderitaan.
Apa ia lahir hanya untuk menderita?, apa tak ada sedikitpun kebahagiaan untuknya?, apakah semua usahanya selama ini hanya sia-sia saja?.
Rasanya banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang terlintas di pikiran Samudra yang tengah kacau ini, bukankah dulu ia pernah mendengar dari Sinta bahwa seorang Anak adalah Anugrah dari Tuhan.
Lalu, apakah ia bukan anugrah?, kenapa ia di anggap sebagai pembawa sial?, dimanapun ia berada kenapa kehadirannya selalu di tolak?.
"Nenek, Ayah, Bunda sama Abang nyuruh Sam buat nyusul Nenek"lirih Samudra dengan air mata yang tak berhenti keluar.
•• SAMUDRA BERCERITA ••
Dengan sekuat tenaga Samudra berjalan ke arah Kado miliknya yang di buang oleh sang Ayah, air matanya semakin deras kala ingatan tentang ucapan sang ayah tadi kembali terngiang di telinganya.
Seolah dunianya kini telah runtuh, dunianya terasa gelap gulita, Samudra berjalan meninggalkan gedung dengan pikiran yang berkecamuk.
Ia hanya melangkah mengikuti kemana kakinya akan membawanya, ia tak punya tenaga lagi untuk sekedar memikirkan apa yang baru saja terjadi padanya.
Semua terjadi terlalu cepat sampai ia tak ingin merasa bahwa yang terjadi tadi itu adalah nyata, Siapapun tolong bangunkan ia, mimpinya terlalu buruk sekarang.
"Sekarang semua udah selesai kan?"tanya Samudra entah pada siapa.
~notqueen_1~
KAMU SEDANG MEMBACA
SAMUDRA BERCERITA || END
Teen FictionAndai Samudra bisa bicara, para penyelam takkan perlu menyelam untuk mengetahui isi didalamnya. Andai Samudra bisa bicara, Palung Mariana takkan menjadi misteri yang tak kunjung terpecahkan meski sudah lama. Andai Samudra bisa bicara, segitiga Bermu...
