Makasih ya, sudah sabar seharian

6.6K 349 1
                                        

Hasil dari ke-rewel-an Rhea seharian kemarin, aku bangun dengan kepala nyut-nyutan dan tangan yang luar biasa pegal

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hasil dari ke-rewel-an Rhea seharian kemarin, aku bangun dengan kepala nyut-nyutan dan tangan yang luar biasa pegal. Menyiapkan menu sahur dengan badan yang loyo dan tak bersemangat alhasil hanya satu mangkuk tumisan sederhana dan ayam goreng yang sudah kuungkap jauh-jauh hari yang menjadi lauk sahur hari ini.

Tetapi, alhamdulillah-nya hari ini sepertinya mood Rhea sudah kembali membaik. Entah apa yang dia rasa kemarin sehingga mengakibatkan mood-nya yang turun. Terkadang, aku juga capek harus menebak apa yang dia rasa dan apa yang dia mau. Tapi itulah seninya menjadi ibu bukan?

"Papa kerja dulu, Yeya sama Mama ya nak. Nurut ya sayang." Sekarang acara pamit kerja pun memiliki durasi yang lebih lama.

"Iya Papa, hati-hati di jalan. Semangat kerja-nya." Ucapku seakan mewakili Rhea.

"Berangkat dulu ya." Nah kan giliran pamitan ke istrinya singkat, padat, dan jelas. Kemana perginya kata sayang tadi, huftt.

"Iya hati-hati, jangan ngebut santai aja."

Aku menyalami tangan Mas Radit. Aku menunggu sampai mobil Mas Radit hilang dari pandangan mata baru kembali masuk ke dalam rumah.

"Makan dulu yuk, abis itu kita mandi." Aku mendudukkan Rhea di baby chair lalu mengambil semangkuk kecil berisi bubur hati ayam yang kubuat sendiri.

Menyuapi Rhea merupakan salah satu hal yang cukup challenging bagiku sebagai ibu pemula. Bagaimana setiap harinya aku harus menganalisa apakah Rhea suka dengan menu ini, apakah Rhea suka dengan teksturnya, apakah Rhea bosan dengan menu yang berulang, dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang agak susah untuk menyimpulkannya.

Alhamdulillah-nya, dari awal MPASI sampai sekarang Rhea belum memasuki fase GTM yang membuat para ibu di luaran sana stres. Terkecuali jika memang dia sedang tidak enak badan atau mood-nya sedang terombang-ambing seperti kemarin. Tetapi selepas itu nafsu makannya akan kembali membaik, terlihat dari seberapa gempal tubuhnya sekarang.

Setelah menghabiskan semangkuk bubur, sekarang tinggal mandi. Sama seperti bayi pada biasanya yang akan menangis ketika mandi, hal itu juga terjadi pada Rhea. Ya sewajarnya anak bayi. "Sabar sayang, dingin ya?" Aku membalurkan minyak telon ke tubuh Rhea sebelum memakaikan baju.

"Iya... Ini sebentar lagi selesai nak."

"Siapa ini yang wangi sekali abis mandi?"

"Rhea ya? Iya nak?"

Aku mengambil lotion di tangan dan kubalurkan ke tubuh lembut Rhea, setelahnya aku mulai memakaikan setelan hangat berwarna ungu muda.

⋆。˚🕊️˚。⋆

"Papa pulang!" seru seseorang dari arah luar saat aku tengah menyusui Rhea di sofa ruang keluarga.

Rhea melepas kulumannya pada makanan favoritnya itu, mendongak dengan senyum centil ke arah papa-nya.

"Udah? Nennya udahan nih?" tanyaku ke arah Rhea yang sudah merentangkan tangannya meminta digendong papanya.

"Anak siapa ini sudah wangi sekali?" ucap Mas Radit sembari mencium dengan brutal pipi anaknya.

"Anak tetangga." Gumamku sambil mengambil alih tas kerja yang ada di genggamannya.

Mas Radit melirikku setelah mendengar gumamanku tadi. Ya lagian, masih tanya aja itu anak siapa. Aku tahu sih, maksud pertanyaan itu nggak secara literal tapi semacam godaan.

"Mending kamu mandi deh Mas, baunya sampai kesini soalnya," seruku jahil.

Mas Radit memandang sinis ke arahku setelah mendengar perkataanku barusan.

"Ck, emang minta di ketekin Mama kamu ini, dek," gerutu Mas Radit yang justru kubalas dengan memeletkan lidah untuk mengejeknya.

"Ya lagian kamu, udah tau baru pulang dari rumah sakit gitu langsung gendong anak."

"Ayo adek sama Mama dulu," lanjutku sambil mengambil alih Rhea dari Mas Radit.

"Aaakkk! Atatataa!" Rhea memberontak dari gendonganku, dengan bibir yang membik-mbik siap untuk menangis karena dipisahkan secara paksa dari Papa-nya.

"Eh dek, itu apaan ya? Yuk lihat sama Mama yuk?"

Keluar dari kamar setelah mengambilkan baju dan celana untuk Mas Radit, aku langsung menuju ke arah dapur. Aku melirik ke arah jam yang terpasang di dinding, jarum panjang berada di angka 4. Untung aku sudah ngungkep ayam tadi, jadi tinggal goreng dan menambahkan tumisan sayur aja.

Aku mulai memotong beberapa pakcoy untuk ditumis yang akan dicampur dengan udang juga. Sambil menggendong Rhea, aku mondar-mandir di dapur. Sebenarnya lumayan bikin pundak pegal sih, tapi mau gimana lagi daripada ini anak ngereog lagi.

Saat akan mulai menumis perbawangan, Rhea yang dari tadi anteng di gendongan tiba-tiba aja mulai mengulet dan ketawa-ketawa menghadap ke belakang. Dek, jangan bikin Mama merinding disko begini dong!

Aku menoleh ke arah belakang, rupanya badut kesayangan Rhea udah selesai mandi. Upps.

"Ayok sama Papa, kasihan Mama masak sambil gendong kamu yang gembul begini." Rhea kembali ke gendongan sang ayah.

Aduh jadi merasa bersalah abis ngatain badutnya Rhea tadi, hehehe.

Setelah Rhea sama Mas Radit, aku kembali melanjutkan acara memasakku. Memang waktu masih cukup lama untuk buka puasa. Tapi kan kalau masakan sudah selesai semua kan jadi enak kalau mau nyantai atau ngabuburit keluar yekaan.

⋆。˚🕊️˚。⋆

Setelah sholat tarawih, suasana rumah mulai lebih tenang. Aku duduk di sofa sambil meluruskan kaki yang terasa pegal, sementara Rhea sudah tertidur di gendongan Mas Radit. Entah apa yang dibisikkannya tadi, mungkin dongeng-dongeng yang hanya bisa dipahami oleh bayi.

"Capek ya, sayang?" tanya Mas Radit pelan.

Aku mengangguk kecil sambil menyandarkan kepala di bahunya. "Lumayan. Tapi yang penting Yeya udah nggak rewel lagi."

Mas Radit tersenyum, lalu mencium keningku sekilas. "Makasih ya, sudah sabar seharian."

Aku hanya tersenyum kecil. Saat-saat seperti ini membuat semua kelelahan terasa terbayarkan. Dan dalam hati, aku bersyukur. Untuk hari ini, untuk keluarga kecil ini, dan untuk semua momen sederhana yang begitu berharga.

⋆。˚🕊️˚。⋆

Bersambung...

Ramadhan Tale [ END ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang