Mau beli takjil apa?

11K 487 6
                                        

Hari ini aku cukup hectic

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hari ini aku cukup hectic. Selain menjadi seorang ibu rumah tangga, aku juga bekerja sebagai freelance desainer grafis di sebuah perusahaan periklanan, sekaligus mahasiswa tingkat akhir. Ya, aku masih berkuliah di semester 8 dan tengah merasakan pusingnya memikirkan skripsi yang stuck di bab 4.

Hari ini aku memiliki beberapa deadline desain yang harus segera diselesaikan, belum lagi menemani Rhea bermain. Jika dibilang pusing, ya memang sangat pusing. Tapi sejak awal aku sudah menyanggupi dan setuju untuk menikah di tengah kesibukanku sebagai mahasiswa dan pekerja, maka aku harus bisa menerima semua risikonya. Salah satunya adalah membagi waktu antara Rhea, Mas Radit, pekerjaan, dan kuliah. Syukurnya, kampus sedang libur awal Ramadhan, jadi aku tidak perlu pergi ke kampus juga.

"Rhea, duduk dulu di sini ya, Mama ambilin makan," aku mendudukkan Rhea di baby chair. Sambil menunggu, aku mengambil bubur tim yang sudah aku buat sebelumnya, lalu meletakkan mainan tangan ke pangkuannya.

"Bismillah... buka mulutnya," aku menyuapi Rhea dengan pelan. Sejauh ini, Rhea menerima semua makanan buatanku dengan lahap. Setiap porsi yang aku berikan selalu habis tak tersisa. Tapi nanti saat memasuki fase GTM (Gerakan Tutup Mulut), sudah pasti bakal jadi tantangan tersendiri.

Rhea mencoba merebut sendok yang aku julurkan ke mulutnya, sontak aku tarik mundur. Menghadapi bayi yang mulai aktif dan penasaran dengan banyak hal memang butuh kesabaran. Bahkan aku, yang memiliki kesabaran setipis tisu, harus menahan emosi dan terus memupuknya.

"Nggak boleh sayang, Mama suapin aja ya? Nanti ada waktunya Rhea makan sendiri." Rhea tiba-tiba melempar mainannya ke lantai. Saat aku lengah mengambil mainannya, dia langsung menarik mangkuk bubur dan mengacak-acak isinya. Bubur tumpah ke meja, sebagian berpindah ke wajahnya, dan berceceran di lantai. Aku menghela napas panjang, menatap si bayi bulat yang malah cengengesan dengan muka penuh bubur. Mau marah, tapi wajahnya terlalu menggemaskan. Nggak mau marah, tapi tetap saja rasanya gemas.

"Ah, Mama mau marah nih sama Rhea. Mama capek loh buatnya, masa dibuang gitu aja?" ucapku dengan nada memelas, yang justru dibalas dengan tepukan tangan mungilnya ke wajahku, lengkap dengan bubur yang masih menempel. Sabar, Ran, sabar... Ini anak sendiri.

Aku segera mengambil pel dan mulai membersihkan kekacauan yang dibuat Rhea. Sementara itu, dia masih asyik melihat tangannya yang belepotan bubur, berulang kali membuka dan menutup telapak tangannya seakan penasaran dengan teksturnya. Tak lama, tangisan Rhea terdengar melengking. Aku segera menggendongnya untuk dibersihkan. Untungnya, dia memang belum mandi pagi ini.

⋆。˚🕊️˚。⋆

Setelah mandi, bayi satu itu tepar dengan pipi yang tergencet karena tidur menghadap samping. Mumpung Rhea tidur, aku segera menyelesaikan pekerjaanku. Jam kerjaku memang fleksibel, hanya saat Rhea tidur atau sedang bersama Papanya.

Tiga jam kemudian, setelah berhasil menyelesaikan desain, aku meregangkan badan. Baru saja ingin Netflix-an, alarm alami alias Rhea sudah berbunyi. Saat aku masuk kamar, dia sedang mengangkat kedua kakinya dan celingukan, lalu disusul tangisannya.

"Eh, sudah bangun? Haus ya?" Aku mengangkat Rhea ke pangkuan, melepaskan kancing bajuku, lalu mulai menyusuinya. Tangan kiriku menopang tubuhnya, sementara tangan kananku menggulir layar ponsel, melihat media sosial.

Selesai menyusui, aku menggendong Rhea keluar rumah menuju warung sayur. Biasanya aku belanja di supermarket atau menunggu tukang sayur lewat pagi-pagi. Tapi karena tadi terlalu sibuk, aku baru sempat belanja siang ini.

"Ada siapa ini? Si cantik Rhea!" Ibu penjual sayur menyapa Rhea sambil menyolek lengannya.

"Ada Rhea, Nek. Bu, sayur masih ada nggak ya?" Aku masuk ke dalam warung.

"Masih ada, tapi sudah nggak terlalu banyak. Tumben belanja siangan?"

"Iya, tadi pagi nggak sempat." Aku mulai memilah sayuran, mengambil satu ikat kangkung, sawi putih, jagung manis, dan tahu putih. Entah nanti mau dimasak apa, yang penting sudah ada stok.

Saat aku sibuk memilih, tangan mungil Rhea menarik-narik kerupuk yang bergelantungan di atas kepalanya. "Eh, nggak boleh sayang, Rhea belum boleh makan kerupuk!" Ibu penjual sayur hanya terkekeh melihat tingkah si gembul ini.

Dari warung sayur tadi aku langsung mengolahnya, biar sekalian capek. Selesai memasak untuk berbuka, tugas berikutnya adalah memandikan Rhea. Bayi itu sedang bermain di baby chair yang kuletakkan dekat meja makan agar tetap dalam pengawasanku.

Aku mengambil Rhea dan menggendongnya untuk menuju ke kamar. 

"Ayo mandi, Dek. Hih, sudah bau asem!" Aku menciumi lipatan leher Rhea. Aroma khas bayi ini candu banget! 

Seperti biasa, Rhea si musuh air langsung menangis saat dimandikan. Bahkan setelah berpakaian pun tangisannya masih terdengar. Orang yang tidak tahu mungkin mengira aku menyiksa anakku.

"Sudah dong, kan sudah selesai mandinya. Dingin ya?" Aku mengoleskan minyak telon dan skincare bayi ke tubuhnya. Ya, meski masih bayi, tetap harus skincare-an.

Saat hendak memakaikan bedak, pintu kamar terbuka. Mas Radit baru pulang kerja. "Assalamu'alaikum... Ada yang habis mandi, ya?" Dia hendak mencium Rhea, tapi segera kutahan.

"Bersih-bersih dulu! Kebiasaan banget habis dari RS langsung nyosor anaknya." Sebel banget kalau Mas Radit ketemu pacarnya (alias anaknya) tanpa ingat kalau seharian dia berada di rumah sakit penuh kuman. Aku bukan protektif berlebihan, tapi lebih baik mencegah, kan?

"Iya, lupa. Sebentar ya, cantik, Papa bersih-bersih dulu," katanya sambil melambaikan tangan ke Rhea, yang langsung menyambut dengan pekikan senang. Duh, drama banget sih anak dan bapak ini.

Sambil menunggu Mas Radit mandi, Rhea mulai menyusu lagi. Cara nyusunya nggak santai sama sekali, kaki kirinya nangkring di pinggangku, sementara tangannya sibuk ngacak-ngacak hidungku.

"Santai dong, Sist. Nggak ada yang mau ngambil juga," ucapku sambil menyeka keringat di dahinya.

Tak lama, Mas Radit keluar hanya dengan handuk melilit di pinggang. Aku mendengus, "Baju ambil sendiri ya, Mas. Si Bos belum puas ini."

"Iya. Kamu sudah masak buat buka?" Aku mengangguk.

"Mau beli takjil apa?" tanya Mas Radhit dengan tangannya yang berada di puncak kepala ku.

Aku menatapnya heran. "Loh, kebalik dong, aku yang harusnya nanya begitu. Aku kan nggak puasa, kamu mau takjil apa?"

"Nggak usah. Ice cream aku masih, kan?" Fyi, Mas Radit itu penggemar berat ice cream choco mint. Rasanya kayak odol! Aku aja cuma mau makan bagian coklatnya.

"Nggak tahu, kamu cek aja sendiri." Dia mengangguk lalu mengulurkan tangan ke Rhea, yang langsung disambut dengan senang hati. Yaelah, habis manis sepah dibuang nih, aku ditinggal berdua begitu aja! Dasar!

⋆。˚🕊️˚。⋆

Bersambung...

Ramadhan Tale [ END ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang