📢 Extended part / Before Tale #partoframadhantale sudah tersedia di karyakarsa (link on bio).
[marriage life series 1]
Dulu, Ramadhan buat Rana cuma tentang bangun sahur, puasa, dan ngabuburit nunggu buka. Tapi tahun ini? Rasanya lebih kayak ujian...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Setelah mencuci muka, aku langsung menuju dapur. Aroma khas Lebaran sudah memenuhi seluruh rumah—wangi opor ayam, rendang, dan ketupat yang siap disajikan. Mama tengah sibuk di depan kompor, mengaduk kuah opor dengan penuh perhatian, sementara Mbak Lia duduk di kursi dekat meja makan, sesekali mengecek kukis Lebaran yang tersusun rapi di dalam toples.
"Kamu udah bangun, Dek?" tanya Mama sambil melirik ke arahku.
Aku mengangguk. "Iya, Ma. Mau bantu apa?"
Mama tersenyum. "Bantu panasin opor, ya. Tadi udah matang, tapi biar hangat pas nanti dimakan."
Aku segera mengambil sendok kayu dan mengaduk pelan kuah opor yang mengental dengan aroma rempahnya yang kuat.
Aku terkekeh kecil. "Biasanya dia yang bangunin aku, tapi hari ini kayaknya kebalik."
Mama tertawa pelan. "Bangunin aja kalau gitu, biar bisa siap-siap."
Aku mengangguk dan setelah memastikan opor sudah cukup panas, aku bergegas kembali ke kamar.
Di dalam, Mas Radit masih tergulung dalam selimut, wajahnya terlihat begitu damai dalam tidurnya. Aku duduk di sisi tempat tidur, lalu menepuk lengannya pelan.
"Mas," bisikku. "Bangun, udah hampir subuh."
Mas Radit mengerang pelan, lalu menggeliat sebelum akhirnya membuka satu matanya. "Udah subuh?" tanyanya dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.
"Belum, tapi sebentar lagi. Ayo bangun, nanti kesiangan salat Ied."
Ia menarik napas dalam, lalu mengembuskannya perlahan sebelum akhirnya duduk. Matanya masih menyisakan kantuk, tapi ia tersenyum kecil padaku.
"Kamu udah siap-siap?" tanyanya.
Aku menggeleng. "Baru panasin opor. Aku juga belum mandi."
Mas Radit mengangguk, lalu mengusap wajahnya. "Oke, aku mandi duluan, ya."
Aku membiarkannya pergi ke kamar mandi, lalu menoleh ke sisi tempat tidur di mana Rhea masih tertidur pulas. Aku tersenyum dan mengelus rambutnya lembut.
Sebentar lagi, pagi ini akan semakin sibuk. Tapi untuk sekarang, aku menikmati momen-momen tenang ini sebelum akhirnya rumah kembali dipenuhi gelak tawa dan kehangatan keluarga.
....
"Cup cup... Dingin ya?" ucapku sambil mengangkat tubuh Rhea yang berbalut handuk tebal setelah aku mandikan. Dia meringkuk dalam pelukanku, tangannya yang mungil menggenggam ujung handuk seakan mencari kehangatan.