Welcome home, Mama Rana

5K 298 2
                                        


Pukul 04

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Pukul 04.55 kami sudah keluar dari Tol terakhir yang kemudian akan di lanjutkan perjalanan melewati jalanan umum. Estimasi sampai rumah 45 menit - 1 jam. Tangan ku sudah sangat pegal menopang badan Rhea, ya sebenarnya seluruh badan sih. Apalagi Mas Radit yang dari habis sahur tadi nyetir non stop dengan menahan kantuk. 

Kalau di hari hari biasa, perjalanan dari Jakarta ke kampung hanya memakan waktu paling lama 5-6 jam. Namun karena sudah banyak pemudik lain jadi waktu perjalanan memakan waktu lebih lama karena terdapat kemacetan di beberapa titik. Dulu waktu semasa masih nge kos, aku selalu memilih pulang pergi menggunakan kereta. Selain karena lebih cepat dibanding dengan mobil dan bus, menurutku ongkosnya juga lebih murah. 

Rhea masih tidur dengan menemplok di dada ku, pipinya yang tembam tergencet dan mulut mungilnya mengeluarkan dengkuran halus. 

Akhirnya, setelah menempuh perjalanan panjang, aku tiba di desaku tercinta—sebuah desa yang terletak di kaki Gunung Slamet. Suasana asri langsung menyambutku, dengan hamparan sawah hijau, aliran sungai yang jernih, serta pepohonan rindang yang menyejukkan. Meskipun berada di kaki gunung, desaku sudah cukup maju. Beberapa minimarket, kafe, toko besar, dan pusat kuliner dapat ditemukan di kecamatan yang berjarak sekitar 10 menit dari rumah jika ditempuh dengan sepeda motor.

"Alhamdulillah, akhirnya sampe juga." ucap ku lega sambil membenarkan posisi tidur Rhea di gendongan ku dan bersiap untuk turun dari mobil. 

Udara segar langsung menyambutku begitu aku turun dari mobil. Hembusan angin pagi membawa aroma khas tanah dan pepohonan yang rimbun, memberikan sensasi yang begitu menenangkan. Cahaya matahari yang mulai terbit terasa hangat menyapu kulitku, menambah kenyamanan setelah perjalanan panjang semalam.

Dengan satu tangan menggendong Rhea yang masih terlelap dan tangan satunya menenteng sling bag serta mencangklokkan diaper bag di bahu, aku mulai mengedarkan pandangan ke sekeliling rumah. Rasanya seperti mengabsen setiap sudut yang dulu begitu akrab—teras dengan kursi kayu favorit Ayah, pohon mangga di samping rumah yang dulu sering kupanjat, dan suara gemericik air dari kolam ikan hias di depan rumah.

Desa ini mungkin tak banyak berubah, tapi perasaanku kini berbeda. Aku kembali ke rumah ini sebagai seorang istri dan ibu, bukan lagi sebagai anak gadis yang pulang untuk bersantai menikmati liburan.

"Alhamdulillah, Ya Allah, anak putu ku teko!" seru Mama begitu melihat kami dari balik pintu. Wajahnya berseri-seri, tangannya terbuka lebar siap menyambut.

(Alhamdulillah, Ya Allah, anak cucu ku datang!)

Aku menghampiri beliau dengan perasaan haru yang sulit kuungkapkan. Betapa rindunya aku pada pelukan hangat seorang ibu.

"Assalamu'alaikum, Ma," ucapku lirih sebelum memeluknya erat.

"Wa'alaikumussalam, Nak. Alhamdulillah, akhirnya sampai juga. Perjalanan lancar?" tanyanya sambil mengelus punggungku.

Ramadhan Tale [ END ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang