📢 Extended part / Before Tale #partoframadhantale sudah tersedia di karyakarsa (link on bio).
[marriage life series 1]
Dulu, Ramadhan buat Rana cuma tentang bangun sahur, puasa, dan ngabuburit nunggu buka. Tapi tahun ini? Rasanya lebih kayak ujian...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pukul sembilan malam, suara pintu depan terbuka, diikuti langkah kaki yang terdengar sedikit berat. Aku yang sedang duduk di lantai ruang tamu, sambil melipat cucian, hanya menoleh sekilas ke arah Mas Radit yang baru pulang.
Dia tampak lelah, melepas sepatu dengan gerakan malas, lalu menggantungkan tasnya di dekat pintu. Aku berusaha tersenyum, tapi sebelum sempat menyapa, aku melihat matanya menyapu keadaan rumah.
Ruang tamu berantakan. Ada mainan Rhea yang berserakan di lantai, tumpukan baju yang masih belum selesai aku lipat, dan dapur yang belum sempat aku bereskan setelah masak tadi.
Mas Radit menghela napas panjang. "Rumah kok gini amat?"
Aku mengerjapkan mata, sedikit kaget dengan nada suaranya yang terdengar kesal. "Ya, aku baru selesai mandiin Rhea, terus tadi dia rewel. Belum sempat beresin semua," jelasku, berusaha tetap tenang.
Mas Radit berjalan ke dapur dan sepertinya melihat piring-piring yang masih menumpuk di wastafel. "Kamu seharian di rumah, kan? Kok masih sempat berantakan gini?"
Aku langsung merasa panas. Aku tahu dia capek, tapi aku juga sama capeknya. Seharian ini aku bolak-balik mengurus rumah, Rhea, dan juga revisi skripsi yang belum kelar.
"Maksud kamu apa?" suaraku naik sedikit.
"Bukan maksud apa-apa, cuma... ya setidaknya kan bisa diberesin sedikit. Aku pulang kerja capek, rumah berantakan begini, tambah pusing."
Aku menggigit bibir, menahan rasa sesak di dada. "Aku juga capek, Mas. Rhea rewel, aku harus ngerjain revisi, nyiapin makan, semuanya sendiri. Aku juga butuh istirahat."
Mas Radit mengusap wajahnya. "Aku nggak bilang kamu nggak capek, tapi... ya, seenggaknya lebih rapi dikit lah. Aku pulang tuh pengennya rumah udah enak dilihat, bukan kayak kapal pecah gini."
Aku merasa seperti dihantam sesuatu. Dia nggak ngerti seberapa keras aku berusaha hari ini. Seberapa banyak yang sudah aku kerjakan, tapi yang dia lihat cuma berantakannya rumah.
"Jadi, menurut kamu aku ngapain aja seharian?" tanyaku, suaraku mulai bergetar.
Mas Radit mendesah. "Rana, aku nggak mau ribut. Aku cuma bilang..."
"Nggak mau ribut, tapi nada kamu nyalahin aku," potongku cepat. "Aku udah usaha, Mas. Aku udah nyoba ngerjain semuanya. Kalau aku bisa bagi badan jadi dua, aku bakal lakuin. Tapi aku cuma punya satu badan, satu kepala, dan aku juga butuh istirahat!"
Mas Radit mengusap wajahnya sekali lagi, kali ini lebih lama. Dia tidak langsung menjawab, tapi aku bisa melihat raut wajahnya yang juga frustasi.
Malam ini terasa lebih berat dari biasanya. Kami sama-sama capek, sama-sama sensitif, dan sama-sama nggak ingin mengalah.
Dan aku tahu, ini belum selesai.
Aku menarik napas dalam, berusaha meredakan emosi yang sudah hampir memuncak. Di hadapanku, Mas Radit juga terlihat sama lelahnya. Tapi aku nggak bisa begitu saja mengabaikan perasaan ini.
"Mas, aku tahu kamu capek. Aku juga. Aku nggak minta kamu bantuin semuanya, tapi setidaknya ngerti lah." Suaraku bergetar, tapi aku tetap mencoba mengontrol nada agar tidak terdengar terlalu marah.
Mas Radit menatapku, matanya menyiratkan sesuatu yang sulit aku tebak. "Aku ngerti, Rana. Aku tahu kamu juga sibuk. Tapi aku juga butuh pulang ke rumah yang nyaman. Aku nggak nyalahin kamu, aku cuma... aku juga lagi banyak pikiran."
Aku ingin membalasnya lagi, ingin bilang kalau aku juga punya banyak pikiran—tentang revisi skripsi, tentang Rhea, tentang rumah yang harus tetap berjalan meskipun aku kelelahan. Tapi suaraku tertahan.
Rhea tiba-tiba menggeliat dalam tidurnya yang berada di samping ku.
Aku menghela napas, menunduk dan meraih Rhea ke dalam gendongan. Perlahan, aku mengusap punggungnya, mencari ketenangan dalam detak jantungnya yang lembut.
Mas Radit masih berdiri di tempatnya, tidak bergerak, tapi aku bisa melihat bahunya sedikit mengendur.
"Aku nggak mau ribut, Ran," ucapnya akhirnya, suaranya lebih tenang dari sebelumnya.
"Aku juga nggak," jawabku pelan. "Tapi aku juga nggak mau terus-terusan dipandang kayak aku nggak ngapa-ngapain di rumah."
Dia menatapku beberapa saat, lalu akhirnya berjalan mendekat dan duduk di sampingku. Tidak ada kata-kata, hanya diam yang panjang. Tapi di tengah diam itu, aku bisa merasakan sesuatu sedikit berubah.
Mungkin kami masih sama-sama lelah. Mungkin kami masih sama-sama butuh waktu untuk meredakan emosi ini. Tapi setidaknya, malam ini, kami masih di sini. Masih saling ada, meskipun dengan hati yang sedikit luka.
⋆。˚🕊️˚。⋆
Bangun sahur lebih awal aku niat kan untuk memberesi rumah yang menyulut ketegangan kami semalam. Tetapi, ketika menginjakkan kaki di ruang tengah semua nya sudah rapi. Bahkan baju baju yang semalam sudah ku lipat dan kutinggalkan di sofa sudah tidak ada. Mungkin Mas Radit yang membereskannya. Meski begitu, aku tetap memilih mendiami Mas Radit karena masih kesal saja sama omongannya semalam.
Paginya, suasana rumah terasa berbeda. Bukan dalam arti yang baik.
Biasanya, setiap pagi sebelum berangkat, Mas Radit akan mencium keningku atau sekadar mengusap kepala Rhea sambil bercanda. Tapi pagi ini, dia hanya sibuk sendiri. Selesai sahur, dia langsung ke kamar mandi, lalu berganti pakaian dan mengambil tas tanpa banyak bicara.
Aku juga nggak mencoba membuka percakapan. Ada sesuatu di dalam diriku yang masih enggan untuk berbicara lebih dulu.
Saat dia keluar kamar, aku sedang menyuapi Rhea di meja makan. Aku tahu dia berdiri di ambang pintu, biasanya dia akan berpamitan, tapi kali ini tidak ada suara. Aku tetap fokus ke Rhea, tidak menoleh sedikit pun.
Beberapa detik berlalu, lalu akhirnya aku mendengar suara langkah kaki menjauh.
Brak.
Pintu depan tertutup.
Aku menunduk, merasakan sesuatu mencubit hatiku. Perasaan nggak nyaman itu terus membebani dadaku, tapi di saat yang sama, egoku masih terlalu tinggi untuk sekadar mengejarnya dan berkata, Kita baik-baik aja, kan?
Rhea menatapku dengan mata bulatnya yang polos. "Haaahh? "
Aku tersenyum kecil, meskipun rasanya hambar. "Iya, Sayang?"
"Haaahhh?" tanyanya, mungkin dia ingin mengatakan sesuatu tetapi dengan bahasa bayi nya itu.
Aku menelan ludah, lalu mengusap pipi Rhea dengan lembut. "Kenapa, Sayang."
Tapi hatiku bertanya-tanya, apakah yang dia tinggalkan pagi ini hanya sekadar rumah, atau ada sesuatu yang lebih dari itu? Sesuatu yang belum selesai. Sesuatu yang masih menggantung di antara kami.