Kalula

4.7K 271 3
                                        


Aku terbangun karena suara tangisan Rhea yang nyaring memecah keheningan kamar

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Aku terbangun karena suara tangisan Rhea yang nyaring memecah keheningan kamar. Rasanya baru saja aku memejamkan mata, tapi naluri sebagai ibu membuatku langsung siaga. Dengan hati-hati, aku melepaskan diri dari pelukan hangat Mas Radit yang masih terlelap-mungkin karena terlalu lelah setelah perjalanan jauh semalaman.

Menggendong Rhea yang masih menangis, aku bersandar di dinding dan menumpuk beberapa bantal di punggung untuk mencari posisi yang nyaman. Sambil mengusap punggungnya, aku membuka satu per satu kancing piama agar bisa segera menyusuinya.

Begitu bibir kecilnya menyentuh, Rhea langsung menyedot dengan rakus, seakan sangat lapar setelah tidur panjangnya. Aku mengusap pelan kepalanya yang mulai berkeringat, sesekali mengecup dahinya yang terasa hangat.

"Kenyang, Nak?" bisikku lembut setelah beberapa saat, melihat sedotannya mulai melambat.

Rhea menggeliat sedikit, lalu melepaskan isapannya. Aku mengangkatnya perlahan ke bahu, menepuk-nepuk punggung mungilnya hingga terdengar suara sendawa kecil. Senyumnya mulai mengembang, matanya yang tadi berlinang kini sudah cerah kembali.

Aku tersenyum, merasa lega. "Alhamdulillah, udah kenyang, ya?"

Kupindahkan Rhea ke pangkuanku dan mengusap pipinya yang chubby. Aku mengintip ke arah Mas Radit yang masih pulas di samping. Belum tega membangunkannya, jadi kuputuskan untuk membawa Rhea keluar kamar agar udara segar pagi ini bisa membuatnya lebih nyaman.

Saat aku membuka pintu kamar, aroma khas rumah masa kecil langsung menyergap-bau kayu, dan semilir angin pegunungan yang sejuk. Aku menarik napas panjang, bersyukur bisa kembali ke tempat ini setelah sekian lama.

Di ruang depan, Mama sudah duduk di kursi rotan. Bapak pasti sudah berangkat bekerja di kantor desa. Begitu melihatku keluar dengan Rhea di gendongan, senyumnya mengembang.

"Udah bangun, Nak? Sini, sini, Mama gendong cucu dulu," katanya sambil mengulurkan tangan.

Aku menyerahkan Rhea dengan senang hati, membiarkan Mama menikmati waktu bersama cucunya. Aku sendiri duduk di kursi di sebelahnya, mengamati bagaimana tangan Mama yang sudah berusia lebih dari setengah abad itu masih begitu lembut dan penuh kasih saat menimang Rhea.

"Masih ngantuk, Dek?" tanya Mama sambil tersenyum.

Aku menghela napas sambil meregangkan badan. "Dikit, Ma. Tapi udah lumayan seger sih kena udara pagi."

Mama tertawa kecil. "Udah sarapan dulu sana. Mama udah nyiapin nasi goreng sama telor goreng. Kamu ngga puasa kan?"

Perutku langsung berbunyi mendengar itu, dan aku tertawa kecil. "Wah, kayaknya Rhea juga harus siap-siap ditinggal makan nih."

Mama menggendong Rhea dengan ayunan lembut, sementara aku berdiri dan menuju dapur untuk menikmati sarapan pertama di kampung halaman yang untungnya saja tidak ada yang melihat.

Ramadhan Tale [ END ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang