📢 Extended part / Before Tale #partoframadhantale sudah tersedia di karyakarsa (link on bio).
[marriage life series 1]
Dulu, Ramadhan buat Rana cuma tentang bangun sahur, puasa, dan ngabuburit nunggu buka. Tapi tahun ini? Rasanya lebih kayak ujian...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Saat aku baru saja menidurkan Rhea untuk tidur siang, ponselku bergetar di atas meja. Kulihat layar, ada panggilan masuk dari Mama.
Aku menghela napas sebelum menggeser tombol hijau. "Assalamualaikum, Ma."
"Waalaikumsalam. Lagi apa, Nak?"
"Baru selesai nidurin Rhea," jawabku sambil merebahkan diri di samping putriku yang tertidur pulas.
"Oh, ya udah, Mama pelan aja ya ngomongnya, biar nggak bangunin cucu Mama," katanya dengan suara lembut. "Gimana kabarnya di sana? Kamu sama Radit baik-baik aja, kan?"
Aku diam sejenak. Biasanya aku akan langsung menjawab 'baik' tanpa pikir panjang, tapi kali ini rasanya sulit. Ada sesuatu yang mengganjal di dadaku.
"Mama..." suaraku lirih, seperti ragu untuk melanjutkan.
"Kenapa, Nak? Ada masalah?"
Aku menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. "Aku capek, Ma. Rasanya... aku menyesal dulu milih menikah muda. Harusnya aku fokus kuliah aja dulu, nggak usah repot-repot mikirin rumah tangga, ngurus anak, ngurus suami. Sekarang aku harus bagi waktu buat semua hal, dan aku ngerasa gagal."
Di ujung sana, Mama diam sejenak, mungkin sedang mencerna kata-kataku.
"Nak, nggak ada yang salah dengan keputusanmu menikah muda. Kalau kamu terus mikirin 'seandainya dulu begini, seandainya dulu begitu', kamu nggak akan pernah merasa tenang. Yang ada malah makin terbebani."
Aku menatap langit-langit, berusaha menahan air mata yang mulai menggenang. "Tapi Ma... aku ngerasa nggak siap. Aku nggak bisa jadi istri yang baik, aku nggak bisa jadi ibu yang baik. Aku bahkan masih struggling ngerjain skripsi, sementara rumah berantakan, Mas Radit pulang capek, dan aku... aku ngerasa nggak cukup buat semuanya."
"Adek... dengar ya, setiap rumah tangga itu pasti ada ujiannya. Mau nikah muda, mau nikah di usia matang, tetap aja ada tantangannya sendiri. Kamu pikir kalau kamu nikah nanti-nanti, semuanya bakal lebih mudah? Belum tentu, Nak."
Aku terdiam.
"Mungkin sekarang kamu lagi diuji. Tapi bukan berarti kamu salah pilih jalan. Allah nggak pernah kasih cobaan di luar batas kemampuan hamba-Nya. Kamu kuat, Rana. Mama tahu itu. Kamu harus ingat kenapa dulu kamu memilih jalan ini, dan bagaimana kamu bisa sampai di titik ini. Jangan fokus ke lelahnya aja."
Aku menggigit bibir. "Tapi Ma... aku sama Mas Radit lagi perang dingin. Aku kesel sama dia, tapi aku juga tahu dia capek. Aku nggak mau jadi istri yang egois, tapi aku juga ngerasa nggak dihargai."
"Itu wajar, Dek. Dalam rumah tangga, nggak mungkin suami istri nggak pernah ribut. Ada kalanya kalian lelah, ada kalanya kalian butuh jeda. Tapi jangan biarkan diam jadi kebiasaan. Rana, kamu istri, kamu juga punya hak untuk dimengerti. Begitu juga Radit. Kalian harus sama-sama belajar."