Malam Takbiran

4.3K 238 0
                                        

Setelah berbuka, kami semua berkumpul di teras depan rumah

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Setelah berbuka, kami semua berkumpul di teras depan rumah. Suasana malam ini begitu ramai, dipenuhi canda tawa keluarga besar yang juga mudik. Dingin malam sama sekali tak menghalangi kehangatan yang terasa di antara kami.

Aku duduk di kursi panjang, memangku Rhea yang tengah melonjak-lonjak dengan penuh semangat. Malam ini, penampilannya benar-benar menggemaskan. Ia mengenakan jumpsuit yang dilapisi jaket berbulu berbentuk beruang berwarna putih, ditambah jilbab biru kecil yang melindungi kepalanya dari udara dingin.

Di sebelahku, Kanaya, Mbak Lia, dan Inez—adik sepupuku yang baru saja sampai di kampung—tengah asyik mengobrol. Sesekali mereka tertawa kecil saat membicarakan berbagai hal, mulai dari pengalaman perjalanan mudik hingga kejadian-kejadian lucu di keluarga.

Sementara itu, di halaman depan, Mas Radit, Mas Fajar, Dika, dan Juno sedang sibuk menyiapkan berbagai macam petasan. Aku memperhatikan mereka dengan sedikit was-was, terutama karena Rhea tampak sangat tertarik dengan suara-suara riuh yang datang dari arah mereka.

"Kak Rana, ini Rhea mau ikut main petasan kayaknya," kata Kanaya sambil tertawa, melihat bagaimana anakku terus menatap ke arah para lelaki itu dengan mata berbinar.

Aku ikut tertawa kecil. "Wah, belum boleh, Sayang. Nanti aja kalau udah besar, ya," ucapku sambil mencubit lembut pipi Rhea yang bulat.

Dari kejauhan, Mas Radit melirik ke arah kami. "Sayang, Rhea mau ke sini nggak? Aku gendongin biar lihat lebih dekat."

Aku langsung menggeleng. "Nggak ah, Mas. Rhea masih terlalu kecil buat lihat petasan dari dekat. Aku aja yang nonton dari sini."

Mas Radit hanya tertawa kecil sebelum kembali sibuk dengan urusannya.

Tiba-tiba, suara ledakan kecil terdengar, membuat semua orang di teras menoleh. Petasan pertama telah dinyalakan, dan langit malam pun mulai dihiasi kilatan warna-warni.

"Waaah, bagus banget!" seru Inez dengan antusias.

Aku melirik Rhea yang tampak terpukau, tapi juga sedikit kaget. Tangannya mencengkeram bajuku erat, matanya berkedip-kedip seolah sedang mencoba memahami apa yang baru saja terjadi.

"Kaget, ya, Sayang?" Aku mengusap punggungnya dengan lembut, memastikan ia tetap merasa nyaman.

Di sampingku, Mbak Lia tertawa kecil. "Dulu waktu Lula pertama kali lihat petasan juga kayak gitu, bingung antara excited sama takut."

"Lula, jangan dekat dekat Ayah. Sini sama Bunda aja duduk." Kalula terlihat enggan untuk menuruti perkataan Bundanya. Alhasil dia di tarik sama Kakung nya buat agak munduran.

Aku ikut tertawa, sementara suara petasan terus mewarnai malam.

Langit malam semakin meriah dengan berbagai letupan petasan yang menyala beriringan. Kilatan warna-warni menghiasi gelapnya malam, memantulkan cahaya di wajah-wajah yang sedang tersenyum bahagia.

Ramadhan Tale [ END ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang