Yeya kenapa sih? Lagi galauin siapa

6.6K 387 2
                                        

Hari ini entah kenapa Rhea sedang lumayan rewel

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hari ini entah kenapa Rhea sedang lumayan rewel. Maunya nempel terus sama aku, nggak mau turun dari gendongan, nggak mau main, dan susah makan. Alhasil, aku pun jadi susah gerak karena harus terus-menerus menggendongnya. Kayak takut ditinggal pergi aja ini anak, padahal emaknya cuma di rumah.

Pagi tadi Mas Radit berangkat ke Bandung untuk mengisi seminar. Kemungkinan dia bakal pulang lebih larut dari biasanya.

"Rhea mau apa sih, Sayang?" tanyaku sambil mengusap pelipisnya. Rhea duduk di pangkuanku, menolak bubur yang berkali-kali kucoba suapkan.

"Rhea nggak demam kok, badannya nggak enak ya? Atau gimana?" Aku tahu sih, nanya gini nggak ada gunanya. Dia mana bisa jawab juga.

"Mamam ya, Nak? Dari pagi cuma makan sedikit, lho. Nggak lapar?" Sekali lagi aku mencoba menyuapkan buburnya, dan sekali lagi dia menolak dengan memalingkan muka.

Aku menghela napas. Bukan lelah mengurus Rhea, tapi bingung harus bagaimana. Ini pertama kalinya aku mengurus anak, dan saat dia rewel begini, aku cuma bisa menebak-nebak apa maunya.

Akhirnya, aku memasang gendongan dan membawa Rhea keluar ke taman samping rumah. Siapa tahu dia bosan di dalam rumah dan mau makan di luar. Benar saja, begitu melihat tanaman dan udara segar, dia sedikit lebih tenang. Aku coba suapkan buburnya lagi, dan kali ini dia mau membuka mulut, meskipun cuma sedikit dan ogah-ogahan.

"Bosen di rumah, ya?" tanyaku sambil berjalan menuju pagar depan. Dari luar, terdengar suara anak-anak bermain.

"Eh, ada adik Rhea! Lagi mamam ya?" sapa Rania, tetangga depan rumah, yang menyambut kami dengan senyum ramah. Benar saja, jalanan depan rumah ramai dengan anak-anak yang bermain, ditemani ibu atau pengasuh mereka.

"Iya, Tante, bosen di dalam rumah aku tuh," jawabku, pura-pura jadi juru bicara Rhea. Yang ditanya malah masih nyender di dadaku.

"Kok lesu banget? Rhea lagi sakit, Ran?" tanya Mbak Gea, tetangga sebelah yang sedang mengawasi anaknya, Bian.

"Nggak kok, sehat. Tapi dari pagi nggak mau main, maunya nempel aja sama aku," jawabku sambil menyuapi Rhea lagi. Kali ini dia menerimanya, meskipun tetap dengan ekspresi malas.

"Takut emaknya digondol bapaknya kali," celetuk Mbak Gea.

"Susah emang jadi orang cakep, Mbak," sahutku sambil terkekeh. Enaknya punya tetangga yang asik begini, meskipun jarang ketemu tapi tetap akrab.

"Sama Tante yuk, beli es krim di Indovember?" bujuk Mbak Gea.

Rhea langsung melengos, alisnya mengernyit.

"Walah, malah dilengosin Tante-nya," Mbak Gea tertawa, disusul Rania yang juga mencoba mengajak Rhea dengan iming-iming biskuit bayi. Hasilnya? Sama. Anak ini emang lagi nggak mood.

Tiba-tiba, tangisan Rhea pecah. Kali ini lebih kencang, dengan ekspresi sedih seakan habis disakiti. Ya ampun, Nak, kamu tuh kayak diapain aja sih sama Mama? Takut dikira nyiksa anak sendiri, aku buru-buru membawanya masuk rumah.

Selama setengah jam, tangisannya belum juga reda. Aku mulai bingung, apalagi waktu sudah menunjukkan pukul 16.15 dan aku belum masak untuk buka puasa. Mau ditaruh, pasti tambah nangis. Tapi kalau digendong terus, aku nggak bisa masak. Ya sudahlah, paling Mas Radit buka di jalan.

⋆。˚🕊️˚。⋆

Pukul 11 malam, Rhea masih dengan mata cerah dan rengekan yang entah kapan akan berhenti. Kalau ditanya capek nggak? Ya jelas capek. Pundakku rasanya mau patah setelah seharian menggendong dia.

Pukul 11.30, bala bantuan datang.

"Assalamu'alaikum," terdengar suara Mas Radit menutup pintu.

"Wa'alaikum salam... Tuh, Papa pulang, Dek," kataku, berjalan menghampiri dan menyalaminya.

"Eh, ini kenapa nangis? Diapain sama Mama, Dek?" tanyanya ke Rhea tanpa menyentuh. Kami memang sepakat, siapa pun yang baru datang dari luar harus cuci tangan dulu sebelum menyentuh Rhea.

"Nggak tahu, dari pagi begini terus," curhatku.

"Papa bersih-bersih dulu, ya. Habis itu main sama Yaya." Sebelum pergi ke kamar mandi, dia sempat mencium keningku.

Aku menyiapkan bajunya, lalu kembali ke ruang keluarga, duduk di sofa sambil menyusui Rhea. Jangan tanya bagaimana rasanya badanku. Sesekali aku mengelus kepalanya yang matanya sudah hampir terpejam.

Baru sepuluh menit tidur, eh, kebangun lagi gara-gara suara pintu dikunci Mas Radit.

Aku melotot ke arahnya. Memang sih bukan salah dia sepenuhnya, tapi tetap aja kesel. Baru mau ngomel, Mas Radit sudah lebih dulu bicara.

"Maaf, maaf... sini biar sama aku. Kamu tidur gih, capek kan seharian gendongin Yeya?" katanya sambil mengelus kepalaku.

Duh, mana bisa marah kalau nada bicaranya selembut itu?

Aku membiarkannya mengambil Rhea dari pelukanku. Dia mulai mengajak anak itu ngobrol, sementara aku rebahan di kasur, menikmati momen damai yang sudah kutunggu seharian.

"Yeya kenapa sih? Lagi galauin siapa sampe seharian lesu begini?" tanya Mas Radit.

Rhea hanya menyender di pundaknya, mendengarkan Papa-nya bicara sendiri.

Mataku mulai berat. Dengan suara Mas Radit yang terus mengajak Rhea ngobrol, aku pun perlahan tertidur.

....

Aku terbangun sebentar saat Mas Radit membawa Rhea ke kasur. Aku melihatnya menciumi wajah anaknya dengan penuh sayang.

"Yeya kangen Papa, ya? Iya?" tanyanya pelan.

Dan ajaibnya, tangisan Rhea berhenti.

Mata bayi itu mulai terpejam perlahan. Mas Radit tersenyum, lalu menatapku yang masih mengamatinya.

"Lain kali bilang dong, kalau kangen Papa. Kan kasihan Mama seharian gendongin kamu," katanya sambil membelai kepala Rhea.

Aku tersenyum tipis, lalu kembali memejamkan mata. Hari yang melelahkan, tapi juga penuh cinta.

⋆。˚🕊️˚。⋆

Bersambung...

Ramadhan Tale [ END ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang