Besok sahur pertama masak apa ya?

19.7K 615 10
                                        


Menyambut bulan Ramadhan pertama sebagai seorang istri sudah pernah kurasakan setahun yang lalu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Menyambut bulan Ramadhan pertama sebagai seorang istri sudah pernah kurasakan setahun yang lalu. Namun, menyambut Ramadhan sebagai seorang ibu—itulah pengalaman baruku tahun ini.

Aku, Rananta Nismara—akrab disapa Rana—adalah istri dari seorang dokter bernama Raditya Adicandra dan ibu dari Rhea Aneisha Adicandra yang baru berusia tujuh bulan. Menjadi ibu baru bukanlah hal mudah; setiap hari selalu ada tantangan luar biasa yang menunggu.

"Besok sahur pertama masak apa, ya?" gumamku sambil membuka kulkas, meneliti bahan makanan yang tersisa. Memikirkan menu harian selalu jadi dilema tersendiri bagi seorang istri.

Sambil menunggu suamiku pulang dari rumah sakit, aku merebahkan diri di sofa. Drama Korea di televisi jadi teman setia, ditemani stoples camilan di pangkuan. Di samping kepalaku, layar monitor CCTV menampilkan kamar Rhea—antisipasi kalau sewaktu-waktu dia terbangun dan menangis.

"Na... Sayang, bangun yuk, pindah ke kamar."
Sentuhan lembut di pipiku membuatku terjaga. Aku terkejut melihat wajah Mas Radit begitu dekat.

"Kamu kapan pulang, Mas?" tanyaku sambil melirik jam dinding. 21.45. Aku spontan bangkit, sedikit panik. Ingin mengambilkan minum untuknya, tapi kesadaranku belum sepenuhnya terkumpul. Di sisi lain, aku juga khawatir kalau Rhea terbangun sementara aku masih setengah sadar.

"Mungkin setengah jam yang lalu. Tenang, Rhea masih tidur," jawabnya. Baru kusadari, Mas Radit sudah berganti pakaian dengan kaus lengan pendek dan celana selutut. Rambutnya pun masih basah.

"Kok nggak bangunin dari tadi? Aku nungguin kamu, loh. Eh, malah ketiduran. Udah makan belum?"

Dia mengangguk sambil duduk di sofa. Aku bergegas ke dapur membuatkan segelas air lemon madu—minuman wajibnya setiap pulang kerja. Setelah selesai, kubawa gelas itu dan menyerahkannya padanya.

"Besok sahur pertama, ada ide nggak mau makan apa? Aku bingung mau masak apa," tanyaku.

"Apa aja deh," jawabnya santai.

Percuma sebenarnya bertanya. Jawabannya selalu begitu: apa aja deh, atau terserah, atau versi paling klisenya, apapun yang kamu masak, aku makan.

"Kasih ide sesekali dong. Pusing aku mikirin menu sahur. Kalau tiap hari telur, nanti kamu bisulan," keluhku sambil manyun.

Mas Radit terkekeh. "Aku kan nggak tahu bahan di rumah. Kalau aku request tapi ternyata nggak ada, kamu malah tambah stres."

Ya sudahlah. Akhirnya aku pasrah. Paling nanti seadanya saja—mentok-mentok telur ceplok dan nugget goreng.

"Yuk tidur, mata kamu tinggal segaris gitu," katanya lembut. "Masak apa aja besok, telur pun nggak apa-apa. Yang penting kamu nggak kerepotan."

Kami berjalan menuju kamar. Aku mematikan televisi, sementara Mas Radit membereskan gelas dan mematikan lampu dapur serta ruang tengah.

Sayup-sayup, terdengar suara remaja keliling menabuh bambu dan kaleng sambil meneriakkan "sahur... sahur..." Aku duduk di tepi ranjang, masih setengah sadar. Setelah sepuluh menit bengong, aku menoleh ke arah Rhea. Syukurlah, dia masih terlelap.

Setelah mengecup pipinya yang tembam dan menarik selimut Mas Radit, aku beranjak ke dapur menyiapkan makan sahur. Di meja sudah ada beberapa lauk—sayur sop daging, perkedel sisa makan malam, ayam goreng, dan tentu saja kerupuk. Mas Radit tidak bisa makan tanpa kerupuk.

Aku kembali ke kamar untuk membangunkannya. "Mas, sahur yuk." Kutepuk pipinya pelan, tapi dia tak bergerak.

"Mas, bangun, keburu imsak nanti," desakku. Ia hanya bergumam dan menarik selimut hingga menutupi kepala. Aku menghela napas, menarik selimutnya, lalu mencubit hidungnya. Membangunkan Mas Radit memang butuh kesabaran ekstra.

"Jam berapa?" tanyanya dengan suara serak.

"Setengah empat, ayo buruan."

Begitu dia beranjak ke kamar mandi, aku bersiap turun. Namun baru saja hendak membuka pintu, tangisan kecil terdengar. Rhea. Aku berbalik dan mendapati wajahnya yang masih mengantuk—benar-benar menggemaskan.

"Kok bangun, Rhea? Berisik, ya? Abang-abang pada teriak di luar?" tanyaku sambil mencium pipinya. Kuambil kain gendongan dan menimangnya sambil turun ke dapur.

Tak lama, Mas Radit muncul dengan rambut masih basah dan ekspresi muka bantalnya yang khas.

"Papa cariin tahu, eh malah kamu yang bangun, ya? Hey, mau ikut sahur juga?" godanya sambil mengambil Rhea dari pelukanku.

Aku mulai menyiapkan nasi dan lauk. Sayangnya, dua tahun terakhir aku belum bisa berpuasa. Tahun lalu karena hamil, tahun ini karena masih menyusui. Puasaku harus tertunda lagi.

"Sini, sama Mama dulu. Papa mau makan," ujarku saat Rhea mulai merengek kecil. Ia tampak lapar, jadi aku menyusuinya sambil menyendok sayur sop tanpa nasi. Kadang rasanya seperti terus-menerus lapar. Gimana mau langsing kalau begini terus? Huh.

Rhea perlahan kembali tertidur di pelukanku. Aku menatap wajah kecilnya dengan penuh sayang. "Jam segini tuh bukan jamnya kamu bangun, Nak. Tidur aja, ya. Mama juga pengen tidur lagi, sebenarnya."

⋆。˚🕊️˚。⋆

Akan Berlanjut...

Ramadhan Tale [ END ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang