📢 Extended part / Before Tale #partoframadhantale sudah tersedia di karyakarsa (link on bio).
[marriage life series 1]
Dulu, Ramadhan buat Rana cuma tentang bangun sahur, puasa, dan ngabuburit nunggu buka. Tapi tahun ini? Rasanya lebih kayak ujian...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Saat sedang mengerjakan deadline desain undangan milik seorang client, sebuah pesan masuk kedalam ponsel ku.
Bu Asih Dospem
Rana,
Besok saya tunggu revisian bab 3 kemarin dan progress bab 4 kamu ya.
Allahu akbar!
Rasanya seperti ditimpuk batu. Kepalaku langsung pening. Masalahnya, Bab 4 baru ada dua paragraf—dan itu pun belum sempat aku baca ulang!
Bisa saja aku langsung mengebut mengerjakan Bab 4 seadanya, tapi aku masih punya deadline desain yang harus dikirim malam ini. Belum lagi, aku melirik jam dinding—pukul 5 sore. Aku belum masak, belum mandi, belum menyapu rumah. Sudahlah! Rasanya pengen jadi cakwe aja, diem doang nyender liatin jalanan!
Menghela napas panjang, aku menutup laptop dan berjalan ke dapur untuk memasak apa pun yang tersisa di dalam kulkas. Untungnya, Rhea tadi dijemput Mas Zayn dan Kiara ke rumah Ibu, jadi setidaknya aku bisa sedikit lebih leluasa.
Setelah selesai memasak dan menghidangkan makanan di meja, aku kembali ke laptop untuk menyelesaikan pekerjaanku. Pikiranku masih berkecamuk antara deadline kerjaan dan revisi skripsi, tapi aku mencoba fokus pada yang bisa kuselesaikan dulu. Entah saking fokus atau bagaimana, aku sampai tidak menyadari bahwa ini sudah lewat waktu berbuka dan Mas Radit belum juga sampai di rumah.
Jam di dinding menunjukkan pukul setengah tujuh. Aku melirik ponsel. Tidak ada pesan dari Mas Radit. Biasanya, kalau dia pulang agak telat, dia akan memberi kabar. Aku mencoba berpikir positif. Mungkin masih di jalan atau sibuk.
Lima belas menit berlalu. Tidak ada tanda-tanda pintu terbuka atau suara mobilnya di halaman. Aku membuka WhatsApp dan mengetik pesan.
Aku:
Mas, pulang jam berapa?
Centang dua. Tapi tidak langsung dibalas.
Aku menggigit bibir, mencoba menepis rasa kesal yang mulai muncul. Apa dia lembur? Kenapa nggak bilang dari tadi?
Setelah beberapa menit, akhirnya dia membalas.
Mas Radit:
Lagi bukber sama anak-anak rs. Baru kelar, bentar lagi pulang.
Aku terdiam membaca pesannya. Bukber? Kenapa nggak bilang dari tadi?!
Aku menaruh ponsel di meja dengan sedikit lebih keras dari seharusnya. Perasaan kesal bercampur dengan kecewa. Apa aku harus selalu nanya dulu biar tahu dia di mana dan ngapain? Kenapa nggak bilang dari awal aja kalau ada bukber? Aku nggak bakal marah kalau tahu dari tadi.
Aku menghela napas, mencoba meredakan emosi. Tapi, namanya juga perempuan—apalagi di bulan puasa, saat perasaan lebih sensitif dari biasanya. Aku merasa diabaikan. Rasanya seperti nggak dianggap penting.