📢 Extended part / Before Tale #partoframadhantale sudah tersedia di karyakarsa (link on bio).
[marriage life series 1]
Dulu, Ramadhan buat Rana cuma tentang bangun sahur, puasa, dan ngabuburit nunggu buka. Tapi tahun ini? Rasanya lebih kayak ujian...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sahur kali ini agak terasa berbeda. Kalau biasanya aku akan menyiapkan makan sahur penuh dengan keantusiasan, maka kali ini aku merasa biasa saja. Mungkin buntut dari kejadian semalam.
"Bangun, sahur." sudah hanya itu yang mampu ku ucapkan sambil sedikit menggoyang tubuh Mas Radit.
Mas Radit membuka matanya perlahan, masih terlihat kantuk yang berat di wajahnya. Dia menghela napas, lalu bangun dan duduk di tepi kasur, mengusap wajahnya sebelum akhirnya menatapku.
Aku sudah berbalik menuju meja makan, tidak ingin terlibat percakapan dulu. Suasana hati masih terlalu berantakan. Aku hanya menyiapkan makanan seadanya, tanpa banyak bicara seperti biasanya.
Mas Radit berjalan mendekat, menarik kursi dan duduk di depanku. Aku bisa merasakan matanya menatapku cukup lama, tapi aku tetap fokus pada piring di hadapanku.
"Kamu kenapa?" akhirnya dia bertanya.
Aku mengangkat bahu. "Nggak kenapa-kenapa."
Dia menghela napas. "Aku telat pulang lagi, ya?"
Aku mendongak dan menatapnya. "Aku capek, Mas."
Mas Radit menatapku dalam, seolah mencari tahu sejauh mana aku menahan semuanya sendirian. "Aku tahu kamu capek," katanya pelan.
Aku mendengus pelan. "Beneran tahu?"
Dia terdiam, tapi matanya tidak melepaskan tatapannya dariku.
"Aku juga kerja, aku juga urus rumah, aku juga ngurus Rhea. Mas sibuk, aku ngerti. Tapi aku juga butuh Mas di rumah," kataku akhirnya.
Mas Radit terdiam beberapa saat, lalu menggeser kursinya lebih dekat. "Maaf," katanya tulus. "Aku nggak maksud bikin kamu ngerasa sendirian."
Aku menggigit bibir, mencoba menahan emosi yang sudah terlanjur mengendap sejak kemarin.
"Aku cuma... pengen Mas lebih kasih perhatian. Nggak harus selalu pulang cepat, tapi setidaknya kasih tahu aku lebih awal kalau memang harus pulang malam," suaraku sedikit bergetar. "Aku juga bisa persiapan mental, nggak nunggu dengan harapan yang kosong."
Mas Radit menatapku lama, lalu mengangguk. "Aku bakal usahain," katanya. "Aku bakal kasih kabar dulu kalau pulang telat. Dan kalau aku bisa pulang lebih awal, aku bakal langsung pulang."
Aku ingin marah lebih lama, tapi entah kenapa setelah dia bilang begitu, aku malah merasa beban di dadaku berkurang sedikit.
"Habis sahur nanti, aku bantu beres-beres, ya?" lanjutnya dengan nada lebih ringan.
Aku melirik ke arah dapur yang masih sedikit berantakan. "Beneran?"
Dia tersenyum tipis. "Iya, beneran. Jangan laporin aku ke Ibu dulu."
Aku hampir tersenyum mendengar itu, tapi masih berusaha menahan.
"Aku serius, Ran," katanya lagi, kali ini suaranya lebih lembut. "Aku nggak mau kamu ngerasa sendirian dalam rumah ini."
Aku menatapnya lama, lalu akhirnya mengangguk pelan.
"Yaudah, habisin makanannya. Masih ada waktu sebelum imsak."
Mas Radit tersenyum kecil, lalu mulai melanjutkan makannya.
Untuk pertama kalinya sejak semalam, aku merasa sedikit lebih ringan.
⋆。˚🕊️˚。⋆
Tapi memang betul kalau ada yang bilang 'jangan berharap pada manusia' karena sehabis subuh tadi Mas Radit mendapat panggilan urgent dari rumah sakit. Mana mungkin aku akan menahan dia untuk tidak pergi kan?
Tapi jadinya malah suasana hati ku makin ngga karuan. Aku masih sibuk dengan skripsi ku dan pekerjaan rumah seperti tiada hentinya untuk di kerjakan. Aku belum mencuci baju 3 hari belakangan, aku belum membereskan kamar tidur, aku belum membereskan dapur bekas membuat makan untuk Rhea.
Aku menghela napas panjang, menatap ruang tamu yang masih berantakan dengan mainan Rhea berserakan di lantai. Rasanya ingin menangis saja. Badan capek, pikiran penuh, dan beban rumah tangga seperti tidak ada habisnya.
Rhea duduk di atas playmat, memainkan boneka gajahnya dengan tenang. Aku bersyukur setidaknya dia tidak sedang rewel. Tapi melihatnya begitu anteng justru membuatku merasa lebih bersalah. Aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku sampai-sampai tidak punya cukup energi untuk bermain dengannya.
Aku mengusap wajahku, mencoba mengumpulkan tenaga. Oke, mulai dari yang paling mendesak dulu. Aku membawa keranjang cucian ke ruang laundry, merendam beberapa baju Rhea dan pakaian kami yang sudah menggunung lalu menuangkan sabun dan memutar tombol yang tersedia di mesin cuci. Setelah itu, aku kembali ke dapur, mencuci piring-piring kotor yang masih tersisa sejak tadi malam.
Saat aku sedang mencuci, tiba-tiba Rhea menangis kejar.
"atatatatata," panggilnya sambil mengangkat kedua tangannya, meminta digendong.
Aku menatapnya, lalu menatap busa sabun di tanganku. Dalam hati, aku ingin menyelesaikan cucian ini dulu, tapi melihat mata bulatnya yang penuh harapan membuatku tidak tega.
Aku buru-buru membilas tangan, lalu menghampiri dan mengangkatnya ke dalam gendongan.
Rhea tidak menjawab, hanya menyandarkan kepalanya di bahuku. Aku mengusap punggungnya, merasa sedikit tenang.
Kadang aku lupa bahwa sekacau apa pun hariku, ada makhluk kecil ini yang selalu mengandalkanku. Seberat apa pun rasanya, aku tidak sendiri.
Namun, belum sempat aku benar-benar tenang, ponselku bergetar di meja dapur. Aku meraihnya dengan satu tangan dan melihat nama Mas Radit di layar.
"Mas?" sapaku, masih berusaha menyeimbangkan tubuh sambil menggendong Rhea.
"Ran, aku nggak bisa pulang cepat hari ini. Kayaknya sampai malam," suara Mas Radit terdengar lelah di ujung sana.
Aku terdiam beberapa detik, menahan napas.
Lagi.
Aku ingin protes, ingin bilang kalau aku juga capek, kalau aku butuh dia di rumah. Tapi apa gunanya? Dia sedang bekerja, dan aku tahu betapa pentingnya pekerjaannya itu.
"Yaudah, hati-hati di sana," ucapku akhirnya, berusaha terdengar biasa saja.
Mas Radit menghela napas. "Maaf ya, Ran. Aku janji besok bakal pulang lebih awal."
Aku hanya menggumamkan jawaban singkat sebelum mematikan panggilan.
Menatap layar ponsel yang sudah gelap, aku merasa sesak.
Mungkin aku tidak seharusnya berharap terlalu banyak.