📢 Extended part / Before Tale #partoframadhantale sudah tersedia di karyakarsa (link on bio).
[marriage life series 1]
Dulu, Ramadhan buat Rana cuma tentang bangun sahur, puasa, dan ngabuburit nunggu buka. Tapi tahun ini? Rasanya lebih kayak ujian...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Gawat!
Sudah pukul 03:45, dan aku baru bangun! Padahal biasanya aku akan bangun jam 02:30. Nggak pakai lama, aku langsung loncat dari kasur dan berlari ke kamar mandi. Mandi dengan gerakan secepat mungkin, meski mata masih setengah merem. Hadeh! Gara-gara bapaknya Rhea nih!
"Mas, buruan bangun! Mandi! Kesiangan ini kita!" Aku mengguncang tubuh Mas Radit yang masih terlelap.
"Hmm..."
Ham-hem doang? Dipikir Nissa Sabyan kali!
"Buruan, Mas! Keburu imsak!"
Setelah melihat Mas Radit akhirnya berjalan gontai menuju kamar mandi dengan handuk di pundaknya, aku langsung bergegas ke dapur. Buka kulkas, ambil tumisan pakcoy sisa buka tadi, plus nugget ayam instan—penyelamat di saat genting. Dengan kecepatan cahaya, aku memanaskan tumisan dan menggoreng nugget, lalu buru-buru menatanya di meja makan.
Lima belas menit kemudian, Mas Radit muncul dengan wajah masih setengah sadar. Begitu dia duduk, aku yang masih dengan handuk di kepala langsung menyendokkan nasi dan lauk ke piringnya.
"Aku nggak sempet masak. Seadanya aja ya."
Mas Radit menguap kecil lalu mengangguk. "Ngga papa, yang penting masih ada makanan."
Sebenarnya aku sih bisa aja santai karena nggak ikut puasa, tapi tetap aja ada perasaan gugup tiap kali harus nyiapin sahur. Soalnya ini salah satu hal yang pengin aku lakukan sejak menikah—nyiapin sahur untuk suami. Walaupun kadang realitanya nggak seromantis bayangan dulu. Kadang kesiangan, kadang males masak, kadang malah pengen ikut tidur lagi.
Dulu, pas masih sendiri dan ngekos, sering banget kejadian kayak gini. Bangun sahur cuma buat matiin alarm, terus tidur lagi. Atau kalaupun bangun, ujung-ujungnya cuma makan biskuit sama air putih. Kadang kalau inget masa itu, suka ketawa sendiri.
"Kamu nggak makan sekalian?" tanya Mas Radit.
Aku menggeleng sambil duduk di depannya. "Nggak, aku nemenin aja."
Aku memperhatikan Mas Radit yang makan dengan lahap meski hanya menu seadanya. Aku tahu dia pasti capek banget kerja seharian, tapi tetap bangun buat sahur. Ya meskipun bangunnya dengan perjuangan, sih.
"Eh, bentar. Aku ambilin teh anget dulu," ujarku sebelum berdiri.
"Nggak usah repot-repot. Aku minum air putih aja aja nggak apa-apa."
Tetap saja aku mengambilkan segelas air teh hangat untuknya, lalu duduk lagi sambil menguap kecil. Mas Radit melihatku dan tersenyum kecil.
"Ngantuk banget ya?"
Aku mengangguk sambil menyandarkan kepala di tangan. "Banget."
Mas Radit tertawa kecil, lalu melanjutkan makannya. Aku menatap jam dinding—04:10. Masih ada waktu sebentar sebelum imsak.
Setelah Mas Radit selesai makan, aku segera membereskan meja dan mencuci piring seadanya. Sementara itu, Mas Radit mengambil mushaf dan mulai membaca beberapa ayat Al-Qur'an sambil menunggu waktu subuh. Aku duduk di sebelahnya, menikmati momen tenang ini. Rasanya damai.
Beberapa menit kemudian, suara adzan subuh berkumandang. Kami bergegas mengambil air wudhu dan menunaikan sholat berjamaah. Rhea masih tertidur nyenyak di kamar, jadi suasana rumah terasa lebih hening dari biasanya.
Selesai sholat, aku bersandar di sofa sambil mengusap mata yang terasa berat. "Duh, ngantuk banget. Mas, nanti kalau aku ketiduran, bangunin ya."
Mas Radit tersenyum. "Yaudah tidur dulu aja, nanti aku yang jaga Rhea kalau dia bangun."
Aku mengangguk kecil, lalu membaringkan tubuh di sofa. Baru aja mataku mulai terpejam, tiba-tiba suara tangisan Rhea terdengar dari kamar.
Aku dan Mas Radit saling pandang sebelum akhirnya sama-sama tertawa kecil. Yah, sepertinya tidur nyenyak masih harus ditunda dulu.
Aku bangkit dan berjalan ke kamar, menemukan Rhea yang sudah duduk di kasurnya sambil mengucek-ucek mata. Aku menggendongnya pelan, lalu membawanya ke ruang tengah. Mas Radit ikut duduk di sebelahku, mengelus kepala putri kecil kami.
"Udah pagi ya, Nak?" Mas Radit mencium pipi Rhea yang masih hangat karena baru bangun tidur.
Rhea hanya menguap kecil sambil memeluk erat bajuku. Aku tersenyum dan mengusap punggungnya. "Kayaknya masih ngantuk, tapi nggak mau tidur lagi."
"Sama kayak mamanya, tadi katanya ngantuk tapi malah melek," goda Mas Radit.
Aku meliriknya tajam, sementara dia terkekeh puas.
Beberapa saat kemudian, Rhea mulai lebih segar. Aku membawanya ke dapur untuk menyiapkan sarapan ringan buatku sendiri, sementara Mas Radit bersiap-siap untuk berangkat kerja. Setelah semua beres, kami mengantarnya sampai depan pintu seperti biasa.
"Papa kerja dulu ya, Yeya sama Mama di rumah. Jangan rewel ya, Sayang."
Aku tersenyum melihat Mas Radit mencium kening Rhea sebelum pamit.
"Iya, hati-hati di jalan, Mas. Jangan ngebut ya."
"Siap, Bos!" sahutnya dengan gaya bercanda sebelum akhirnya masuk ke mobil dan pergi.
Aku menghela napas, lalu menutup pintu. Pagi baru saja dimulai, dan hari ini masih panjang. Tapi meski lelah dan kurang tidur, aku tetap bersyukur. Setiap momen kecil ini, berharga dengan caranya sendiri.