Mas! Buka aja mulutnya

7.5K 374 1
                                        


Mas Radit tiba di rumah Ibu tepat 20 menit sebelum adzan Maghrib

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Mas Radit tiba di rumah Ibu tepat 20 menit sebelum adzan Maghrib.

"Macet banget," keluhnya sambil melepas jam tangan.

Wajar sih, hari biasa aja jalanan padat, apalagi bulan puasa. Ditambah para pedagang yang berjejer di pinggir jalan, makin ruwet lah semuanya.

Sementara itu, Rhea-yang sudah kembali full energi-sedang duduk di pangkuanku. Tangannya sibuk memainkan finger food yang sejak tadi diajaknya ngobrol dalam bahasa bayinya sendiri. Di saat semua orang bersiap berbuka, dia juga nggak mau kalah. Aku menyuapinya dengan penuh kesabaran, meski bocah satu ini nggak bisa diam sama sekali.

Karena aku sendiri nggak puasa, makan bisa nanti lah. Lagian, dari sore juga udah beberapa kali nyemil diam-diam, hehe.

"Mamam apa sih sampai sibuk banget dari tadi? Ini cucunya Eyang lho!" suara Ibu memecah suasana. Nggak hening-hening banget sih sebenarnya, masih ada suara ocehan Rhea.

"Mamam bubur, Eyang," jawabku sambil mengelap sudut bibir Rhea yang belepotan. Yang ditanya sih cuek aja, masih asik ngoceh sendiri.

Malam ini formasi keluarga Mas Radit lengkap. Ada Ayah, Ibu, Zayn (adik pertama), Briana (adik kedua), Kiara (adik bungsu yang masih SMA), aku, Mas Radit tentu saja, dan si gemas Rhea. Suasana hangat, penuh obrolan santai sambil menikmati buka puasa bersama.

Tiba-tiba, Rhea yang berada di pangkuan ku menarik lengan kaus Mas Radit yang masih sibuk makan.

"Kenapa? Sebentar ya, Papa habisin makan dulu," ucapnya lirih.

"Ma... Mamam..." Rhea mengulurkan finger food ke arah Mas Radit. Oalah, mau nyuapin Papa-nya toh.

"Iya, Adek, makan ya... Ini Papa juga makan," jawab Mas Radit sambil tersenyum. Tapi Rhea malah mulai membik-membik, siap nangis merasa di tolak dia kayaknya.

"Mas! Buka aja mulutnya, itu anaknya mau nangis," tegur Ibu yang nggak tega lihat cucunya mulai berkaca-kaca.

Langsung deh, Mas Radit buka mulut. Rhea girang bukan main, tangannya tepuk-tepuk penuh kemenangan.

"Eeeyyy! Yeee!" teriaknya heboh.

⋆。˚🕊️˚。⋆

Setelah berbuka, kami berkumpul di ruang keluarga. Nonton TV sambil ngobrol, ditemani kue-kue dan segelas es manis. Momen-momen seperti ini bikin suasana rumah terasa lebih intim. Sesekali, kami tertawa melihat tingkah Rhea yang nggak bisa diam. Kayak nggak ada habisnya energi bocah ini.

"Ih, kamu nanti mudik, ya? Berarti Onty ditinggal dong?" tanya Kiara sambil mencubit pipi tembem Rhea.

"Trus nanti nggak dapet THR dari Om dong?" goda Mas Zayn, yang dari tadi cuma jadi pengamat.

Kenapa aku memanggil adik pertama Mas Radit itu dengan sebutan 'Mas'? Karena, memang usia Mas Zayn 5 tahun di atas ku, dan 2 tahun di bawah Mas Radit.

"Kan bisa transfer, Om." sahut Mas Radit santai sambil memangku Rhea.

Sekitar pukul 9 lebih 15 menit, kami akhirnya pulang. Proses pamitan cukup panjang, karena Eyang nggak rela berpisah dengan cucu kesayangannya yang super gemas ini.

Begitu sampai rumah, aku langsung mengganti baju Rhea yang sudah tertidur. Aku takut dia nggak nyaman dengan bajunya yang heboh-hasil pilihan Aunty Briana tadi.

Sementara itu, Mas Radit malah mandi (lagi). Entah kenapa bapak dokter satu ini hobi banget main air. Kalau aku sih cukup dua kali sehari, kecuali kalau habis aktivitas berat atau bepergian. Tapi dia? Sehari bisa tiga sampai empat kali mandi.

"Mas," panggilku saat dia akhirnya bergabung di ranjang.

"Hmm?"

"Kalo kita nggak ketemu, kamu kira-kira bakal nikah sama siapa?" tanyaku tiba-tiba.

Mas Radit melirik sekilas, lalu mendengus. "Apaan sih pertanyaannya? Nggak penting banget."

"Ehh, ini penting tau!"

"Apanya yang penting?"

"Ya penting buat jawab rasa penasaran aku lah," ujarku ngotot.

Bukannya menjawab, dia malah menarikku ke dalam pelukannya.

"Tidur. Udah malam. Besok harus bangun sahur," gumamnya, tangannya mengelus rambutku pelan.

Aku mendongak, mau protes, tapi dia udah merem duluan. Yaudah lah, pasti dia capek banget habis kerja seharian. Lagian, pelukan dia emang nyaman banget... Mataku pun ikut terpejam.

⋆。˚🕊️˚。⋆

Bersambung

Ramadhan Tale [ END ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang