📢 Extended part / Before Tale #partoframadhantale sudah tersedia di karyakarsa (link on bio).
[marriage life series 1]
Dulu, Ramadhan buat Rana cuma tentang bangun sahur, puasa, dan ngabuburit nunggu buka. Tapi tahun ini? Rasanya lebih kayak ujian...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Aku memutuskan menikah pada usia yang terbilang cukup muda, yaitu 20 tahun. Menikah muda awalnya tak pernah sekalipun terlintas di rentetan list hal yang ingin aku wujudkan. Menurutku, menikah muda hanya akan membuatku merasa terpenjara, dan bahkan aku berpikir bahwa menikah muda sama saja aku merelakan masa mudaku terenggut.
Aku memegang prinsip bahwa aku akan menikah setelah aku bekerja dan merasa puas dengan kebebasanku sebelum nantinya aku disibukkan dengan urusan rumah tangga yang mana itu akan berlangsung dalam waktu yang sangat-sangat panjang. Tapi itu dulu.
Singkatnya, aku bertemu dengan Mas Radit pada bulan kedua. Pertemuan yang tak disengaja awalnya. Kalau orang beranggapan bahwa coincidence hanya berlaku sekali, maka aku akan mengatakan tidak. Aku dan Mas Radit beberapa kali mengalami yang namanya coincidence itu. Lalu, ya seperti yang kalian tahu. Sekarang kami menjadi sepasang suami istri tepatnya enam bulan setelah kejadian coincidence itu. Namun, jika kalian beranggapan bahwa kami menikah tanpa saling mencintai, BIG NO! Kami saling mencintai. Meskipun masa perkenalan kami terbilang sangat singkat untuk memutuskan menikah, tapi kami bisa dengan gamblang bicara bahwa kami saling mencintai.
Saat akhirnya menerima lamaran Mas Radit, saat itu aku masih semester 4. Bayangkan saja, mahasiswa semester 4 yang mana dunia perkuliahan mulai disibukkan dengan tugas memilih untuk menikah. Aku sempat mengajukan beberapa syarat dulu, yang salah satunya adalah perihal anak.
Aku menyetujui untuk menikah cepat tapi tidak dengan anak. Menurutku, pada saat itu mentalku belum siap untuk memiliki anak. Memiliki seorang anak tidak sesimpel hamil dan melahirkan. Lebih dari itu! Memiliki anak berarti aku harus siap untuk memangkas sedikit atau bahkan banyak waktu bermainku. Memiliki anak berarti aku harus siap bertanggung jawab, bukan hanya dalam hal materil tapi juga dalam berbagai hal. Ada yang mengatakan bahwa seorang ibu adalah madrasah pertama bagi anaknya. Dan aku totally agree dengan argumen itu. Menjadi seorang ibu itu tanggung jawab yang sangat besar, bukan hanya tanggung jawab dunia tetapi juga akhirat.
Maka dari itu, aku meminta waktu setidaknya sampai aku lulus kuliah baru aku mau jika kami akan program kehamilan. Tapi namanya manusia, kami hanya bisa berencana, sisanya Tuhan yang memutuskan. Aku hamil saat aku semester 6, tepatnya satu bulan setelah melaksanakan kegiatan KKN. Stres? Bukan lagi! Kebobolan juga tidak ada dalam list kami waktu itu!
Menjalani trimester pertama dengan segala carut-marut yang ada. Tiada hari tanpa menangis, belum lagi morning sickness yang ada menambah rasa penyesalanku. Ya, aku sempat merasa menyesal memilih menikah muda. Waktu itu aku berpikir, seandainya aku nggak nikah muda, mungkin aku masih sibuk jalan-jalan, nongkrong di kafe, atau killing time dengan nonton drakor. Bukan sibuk dengan mual-mual setiap pagi sampai harus diinfus selama tiga hari karena tidak masuk makanan sedikitpun.
Beranjak ke trimester kedua aku mulai bisa menerima. Selain karena dukungan keluarga, ketika akhirnya aku kembali menjalani rutinitas ke kampus seperti biasa, aku bisa melihat teman-temanku sangat antusias mendengar berita kehamilanku itu. Hal tersebut semakin menambah rasa semangat dan juga rasa untuk lebih mensyukuri apa yang sudah terjadi. Aku ingat sekali saat aku lelah pulang dari kampus dengan keadaan perut yang sudah membuncit berusia enam bulan, Mas Radit dengan segala sikap cekatannya duduk dengan memijat kakiku.
"Terima kasih ya, aku tahu pasti kamu capek banget ya seharian di kampus sambil bawa-bawa adek begitu? Jangan terlalu diforsir ya, sayang," katanya dengan suara lembut.
Aku hanya tersenyum kecil, menatap wajahnya yang tampak tulus. Aku bersyukur, setidaknya aku tidak menjalani ini sendirian.
Trimester ketiga adalah saat yang paling menegangkan. Perutku semakin besar, dan aku mulai merasakan berbagai macam ketidaknyamanan. Tidur semakin sulit, nafas terasa sesak, dan bahkan berjalan pun mulai terasa melelahkan. Setiap malam, Mas Radit selalu menemaniku, membantuku bangun jika aku kesulitan bergerak, atau sekadar mengelus perutku sambil mengajak bicara bayi kami.
"Dek, jangan nakal ya di perut Mama. Kasihan Mama capek. Kalau udah lahir, Papa janji bakal ajak kamu main setiap hari," ujarnya sambil tertawa kecil.
Aku menggeleng pelan, lalu tertawa. "Jangan ngomong gitu, nanti kalau dia benar-benar aktif dan nggak mau tidur, kamu juga yang kewalahan."
Akhirnya, momen yang paling kutunggu sekaligus paling kutakuti tiba. Hari persalinan.
Aku ingat betul bagaimana malam itu aku terbangun karena merasakan kontraksi yang begitu kuat. Aku mencoba mengatur napas, berharap rasa sakit itu hanya sementara, tapi ternyata kontraksi itu semakin intens. Dengan panik, aku membangunkan Mas Radit.
"Mas... sakit... kayaknya ini waktunya..." ujarku dengan suara terengah-engah.
Mas Radit yang semula tertidur lelap langsung terjaga, matanya membulat panik. "Beneran, sayang? Kita ke rumah sakit sekarang?"
Aku hanya bisa mengangguk, menahan nyeri yang semakin menjadi. Dalam keadaan panik, Mas Radit segera mengambil tas persalinan yang sudah kusiapkan jauh-jauh hari dan membantuku berjalan ke mobil.
Di rumah sakit, perjuanganku dimulai. Aku harus menahan rasa sakit yang luar biasa selama beberapa jam. Di sela-sela itu, aku mendengar suara Mas Radit yang terus memberiku semangat. Setelah hampir 25 jam aku merasakan sakitnya kontraksi di tambah dengan 3 kali suntikan induksi yang menambah rasa sakitku.
"Ayo, sayang, kamu pasti bisa... Sebentar lagi kita bakal ketemu adek... Kamu kuat..."
Saat akhirnya tangisan bayi mungil itu memenuhi ruangan, aku menangis. Air mataku mengalir deras, bukan hanya karena rasa sakit yang baru saja kulalui, tapi juga karena perasaan lega dan bahagia yang tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata. Di sampingku, Mas Radit juga meneteskan air mata sambil tersenyum lebar.
"Masya Allah... dia cantik sekali, Sayang... Anak kita..."
Hari itu, hidupku berubah selamanya. Aku resmi menjadi seorang ibu. Semua ketakutan dan penyesalan yang sempat kurasakan menghilang begitu saja ketika melihat wajah mungil itu. Rhea. Malaikat kecil yang kini menjadi pusat duniaku.
Ternyata, menikah muda bukanlah akhir dari kebebasan seperti yang dulu kubayangkan. Justru, menikah dan memiliki keluarga kecil ini adalah awal dari petualangan baru yang jauh lebih indah daripada yang pernah kubayangkan. Ada banyak hal yang berubah, tapi aku tidak menyesal. Karena di setiap lelah dan tangis, selalu ada tawa dan kebahagiaan yang mengiringinya. Mungkin kedepannya, akan ada berbagai bentuk hal yang menguras kesabaran dan emosi kami. Tapi aku percaya, selama bersamanya aku bisa.