📢 Extended part / Before Tale #partoframadhantale sudah tersedia di karyakarsa (link on bio).
[marriage life series 1]
Dulu, Ramadhan buat Rana cuma tentang bangun sahur, puasa, dan ngabuburit nunggu buka. Tapi tahun ini? Rasanya lebih kayak ujian...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pagi ini agak berbeda, biasanya aku habis subuh nggak tidur lagi. Tapi, karena semalam habis kerja rodi dan ditambah harus bangun sahur, aku nggak bisa menahan godaan belaian kasur. Terjadilah insiden kesiangan. Mana hari ini harus ke kampus lagi!
Setelah mandi dan bersiap, aku menyiapkan keperluan Mas Radit untuk kerja, seperti pakaian yang akan dia kenakan. Sambil menunggu Mas Radit mandi, aku juga memasukkan keperluan Rhea buat di rumah Ibu, seperti baju ganti, popok, mainan tangan, dan beberapa lotion. Tak lupa, aku memasukkan ASIP ke dalam cooler bag. Si bayi sendiri masih tidur pulas. Kalau sampai aku berangkat dia belum bangun juga, ya terpaksa kita gotong dalam keadaan tidur.
Rhea bangun tepat saat aku hendak mengangkatnya. Jadilah aku menyusuinya di dalam mobil saat perjalanan ke rumah Ibu. Karena waktunya mepet, mau nggak mau aku melepas paksa Rhea yang sedang menyusu. Nggak tega, apalagi dia sampai menangis. Huhuu, sabar ya sayang, Mama sebentar saja.
"Mama ke kampus dulu ya, nanti siang Mama jemput Rhea, oke?" Aku menciumi pipi Rhea yang berada di gendongan Eyangnya.
"Bu, nitip Rhea ya. Maaf Rana ngerepotin Ibu," ucapku dengan sedikit rasa sungkan. Aku sebenarnya punya prinsip bahwa ketika aku punya anak, sebisa mungkin aku yang memegang dan mengasuhnya sendiri. Aku nggak mau mengejar karier tapi malah menitipkan anak ke orang tua. Mereka sudah cukup lelah membesarkan kita sejak kecil, masa masih mau direpotkan lagi? Memang aku ingin menjadi wanita karier, tapi kalau bisa tetap berkarier sambil mengurus anak, kenapa nggak? Dan hari ini aku merasa sedikit melanggar prinsip hidupku sendiri.
"Ngerepotin apa toh? Mongmong putu'e dewek," jawab Ibu dengan logat Jawa yang kental. Kami memang sama sama dari Jawa. Bedanya, keluarga Mas Radhit menetap di Jakarta, sedangkan kelauarga ku berada di kampung.
"Di tas ada baju ganti, popok, sabun, sama lotion kalau Rhea pup. Di cooler bag ada ASIP. Terus dia juga belum sempat sarapan, tadi minum susu cuma sebentar. Kalau bosan, biasanya dikasih biskuit sambil lihat ke luar rumah. Biskuitnya—" ucapanku terpotong saat Ibu mengambil tas dari tanganku.
"Kamu itu wes ngomong berulang-ulang kali lho. Tenang, Rhea aman karo Ibu. Wes sana berangkat, ntar keburu telat," ucap Ibu sambil tersenyum. Aku mencium tangannya lalu menciumi wajah Rhea yang masih menangis.
"Sebentar ya sayang, nanti main sama Mama lagi," ucapku menenangkan Rhea yang masih mengulurkan tangannya ke arahku.
"Rhea sama Eyang dulu ya, nurut ya nak. Mamam yang banyak, oke?" Mas Radit ikut berpamitan, mengelus kepala anaknya.
Setelah berpamitan, kami melanjutkan perjalanan. Tujuan pertama adalah kampusku. Jarak kampus dan rumah sakit tempat Mas Radit bekerja memang cukup dekat. Setelah menempuh perjalanan sekitar 20 menit, aku sampai di kampus.
"Aku berangkat dulu ya, Mas. Hati-hati jangan ngebut bawanya," pesanku sebelum turun. Aku mencium tangan Mas Radit yang dibalas dengan kecupan di kening dan kedua pipiku.