📢 Extended part / Before Tale #partoframadhantale sudah tersedia di karyakarsa (link on bio).
[marriage life series 1]
Dulu, Ramadhan buat Rana cuma tentang bangun sahur, puasa, dan ngabuburit nunggu buka. Tapi tahun ini? Rasanya lebih kayak ujian...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Setelah dari kampus kemarin, hari ini aku sebisa mungkin mengejar bab 4 agar aku bisa sedikit tenang ketika mudik lebaran nanti. Berita buruknya adalah beberapa hari ini Mas Radit sibuk sekali. Kalau sedang berada di situasi seperti ini, aku hanya kasihan ke Rhea. Karena secara tidak langsung dia menjadi kurang mendapatkan perhatian karena kedua orang tuanya sibuk dengan urusan masing-masing. Dan dampak dari situasi ini juga dimana aku sering kali menjadi lebih sensitif.
"Yeya disini dulu yah, Mama kerjain tugas kamu main dulu sama elif oke?" ucap ku sambil memberikan boneka gajah untuk mainan Rhea
Ketika merasa Rhea sudah mulai anteng dengan boneka itu, aku melanjutkan berkutat dengan laptop. Namun, tak sampai 15 menit Rhea kembali merengek dan menangis.
Menghela nafas, aku mengambil Rhea untuk ku susui sembari tangan ku yang terus mengetikkan kata demi kata di lembar kerja.
Setelah beberapa menit menyusui, aku pikir Rhea akan lebih tenang. Tapi ternyata tidak. Dia tetap gelisah di pangkuanku, sesekali menarik-narik kabel laptop atau mencoba mengetukkan jemarinya ke keyboard. Aku menghela napas panjang, berusaha menahan frustasi yang mulai naik.
"Sayang, sebentar aja ya, Mama harus selesaiin ini dulu," gumamku, mencoba menenangkannya.
Rhea masih merengek, jelas merasa bosan. Aku menoleh ke jam dinding—baru jam tiga sore, tapi rasanya seperti sudah seharian penuh aku mencoba membagi fokus antara tugas dan mengurus anak.
Lelah.
Aku tahu seharusnya aku bersabar. Aku tahu ini bukan salah Rhea. Tapi rasanya hari ini berat sekali. Ditambah lagi, Mas Radit masih sibuk dengan pekerjaannya. Sudah beberapa hari ini dia pulang malam dan bahkan jarang bertanya apakah aku butuh bantuan atau tidak.
Ponselku bergetar di samping laptop. Aku berharap itu pesan dari Mas Radit, mungkin memberi tahu kalau hari ini dia bisa pulang lebih awal. Tapi ternyata bukan. Itu hanya notifikasi dari grup kelas.
Mengabaikannya, aku mencoba kembali fokus. Tapi saat aku baru saja meletakkan jari di atas keyboard, Rhea kembali merengek. Kali ini lebih keras, bahkan sampai tubuhnya menggeliat gelisah dalam pangkuanku.
"Astaga, Rhea..." aku berusaha menahan rasa frustrasi, menegakkan tubuh dan mengusap wajahku.
Aku butuh istirahat. Aku butuh bantuan.
Tanpa berpikir panjang, aku meraih ponsel dan mengetik pesan untuk Mas Radit.
Mas, kalau nanti nggak terlalu sibuk, bisa pulang lebih awal nggak? Rhea rewel banget hari ini, aku juga masih harus nyelesain revisi. Aku capek banget.
Pesan terkirim, tapi tidak langsung mendapat balasan.
Aku menghela napas panjang, lalu mencoba menenangkan diri. Mungkin Mas Radit memang benar-benar sibuk. Aku tidak bisa mengandalkannya terus-menerus, kan? Aku harus cari cara lain.