8. Serangan Pagi

3.6K 98 12
                                    

"Kamu beneran nggak papa, meskipun nggak ngedapetin keperawanan aku?" tanya Meisha seraya membelai dada bidang Bara. Mereka sedang berbaring di sofa dengan Bara yang berada di bawah tubuhnya.

"Hmn, aku beneran nggak keberatan," jawab Bara sembari mengelus rambut Meisha yang tidak serapi awalnya. "Meski nggak perawan lagi, tapi nyatanya kamu senikmat itu." Bara melanjutkan sambil membelai pundak Miesha yang terekspos. Keduanya memang masihlah telanjang setelah mengalami pelepasan yang terakhir kali.

"Yang kamu bilang beneran 'kan? Bukan buat nyenengin aku aja?"

"Iya, Baby. Emangnya kamu nggak percaya?"

"Bukannya nggak percaya. Aku cuma-"

"Kamu nggak usah khawatirin itu ya. Asalkan itu kamu, aku nggak keberatan."

"Hmn. Makasih ya..."

"Kamu nggak perlu bilang makasih sama aku Baby." Bara mengecup puncak kepala Meisha sebelum akhirnya mereka saling melepaskan pelukan lantaran ingin kembali berpakaian.

Setelah mereka selesai berpakaian, Bara pun mendekati Meisha kemudian memeluk wanita itu kembali. "Jangan pernah ngerasa takut ... Aku nggak akan ninggalin kamu cuma karena kamu nggak perawan. Aku siap bertanggung jawab buat kamu, Sayang. Sekarang ini pun, aku berani minta izin sama Papa Mama buat nikahin kamu," bisik Bara.

Meisha tersenyum. Ia bahagia bisa mendapat cinta tulus dari lelaki itu.

"Tapi nggak sekarang. Aku belum siap, Bar."

"Ya udah, kapan kamu siap aja," jawab Bara sambil tersenyum hangat.

"Iya," angguk Meisha. Meisha mendongakkan wajahnya kemudian memberi kecupan mesra di bibir Bara. "Makasih kamu udah mencintai aku sebesar ini. Aku juga cinta kamu."

"Barusan udah aku bilang 'kan? Kamu nggak perlu berterima kasih sama aku, Baby," kata Bara mengingatkan. "Oh iya ... kamu pernah bilang kalo kedatangan kamu ke sini bukan buat balikan sama aku? Terus karena apa?" Bara bertanya karena merasa penasaran.

"Aku dapat pesan, dari panti asuhan tempat aku tinggal sebelum diadopsi jadi adik kamu. Katanya ada orang tua yang nyari anaknya. Ciri-cirinya kayak aku waktu kecil."

"Oh terus? Kamu udah ketemu mereka?"

Meisha menggeleng pelan. Satu lagi hal yang menjadi alasan dirinya merasa tidak pantas bersanding dengan Bara. Yakni, kemungkinan dirinya merupakan anak haram yang lahir di luar ikatan pernikahan. Sebab, sejak kecil ia tidak pernah bertemu orang tua kandungnya. Ia ditemukan di panti saat masih berlumuran darah setelah dilahirkan, bahkan tidak diberi nama oleh orang tuanya.

"Kamu yang sabar ya. Lagian masih ada aku, Mama sama Papa yang selalu sayang banget sama kamu," hibur Bara.

"Iya. Aku udah terbiasa. Aku beruntung bisa diadopsi sama orang tua kamu. Sampai bisa kenal kamu," sahut Meisha sambil membelai wajah Bara.

"Aku juga. Beruntung waktu itu aku langsung deketin kamu. Kalo aja nggak, mungkin kamu udan diambil cowok lain," sahut Bara sambil terkekeh.

"Nggak lah. Soalnya sejak pertama kali aku ketemu kamu, aku udah naksir kamu," tukas Meisha.

"Serius? Saat itu kamu masih sepuluh tahun loh, Yang." Bara tentu merasa tidak percaya dengan pengakuan Meisha itu. Saat pertama kali mereka bertemu, umurnya sudah empat belas tahun. Ia sudah sekolah SMP waktu itu. Wajar jika ia yang tertarik lebih dulu. Meski ia baru menyadari perasannya untuk Meisha saat gadis itu memasuki SMA. Ketika dirinya sendiri sudah kuliah pada semester tiga.

"Hmn. Atau mungkin waktu itu aku kagum ya sama kamu. Terus makin suka seiring waktu berjalan. Tapi aku nggak berani dekat sama kamu, soalnya aku pikir kamu nggak senang punya adik angkat kayak aku. Tapi ternyata," gumam Meisha yang dilanjutkan oleh Bara.

Dangerous BrotherTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang