bab 23

584 83 35
                                        

Terlupakan wel, pada kangen Nana gak?

Kalau iya, nih Nana kasi up terakhir sebelum Nana menikah minggu ini, lebih tepatnya hari Sabtu Nana sudah jadi istri orang hehehe, minta doanya ya teman-teman online dan jangan lupain Nana jika Nana meninggalkan akun ini sejenak.

Happy Reading setelah meninggalkan jejak ...

.

.

Mew baru saja sampai di kediamannya bersama istri dan putra tercintanya.

Mereka disambut oleh semua pelayan dan pekerja di rumah ini. Begitu pula Mem Anhi. Dia menyambut putranya untuk mengambil hati Mew kembali. Ia merasa Mew semakin jauh padanya.

"Mew. Aku ingin bicara," ucap Mem Anhi setelah melepaskan pelukan selamat datangnya.

"Ya, suamiku memang ingin berbicara padamu, Mem. Tapi tidak untuk malam ini. Kami sangat lelah. Sayang sekali." Lacyia yang menjawab. Dia menggandeng Mew masuk.

"Mew, jangan gemetar," bisik Lacyia. Ia merasakan tangan suaminya bergetar di genggamannya.

Mem Anhi menatapnya sangat tajam dan marah.

"Kau tidak bisa melakukan ini, Mew!" teriak Mem Anhi akhirnya tak bisa bersabar.

Dia melangkah, namun lebih dulu Antonio—pelayan setianya menahan. "Kita bisa berbicara besok, Nyonya. Mereka baru saja tiba," bisik Antonio membiarkan Mew pergi.

Setibanya di kamar, Mew menghembuskan nafasnya.

"Cyia! Apa yang kau lakukan tadi?" tanyanya pada sang istri. "Kau membuat Mem Anhi marah!"

"Mew, kita sudah membuatnya marah akhir-akhir ini. Apa kau lupa, sudah tiga kali kau menentangnya. Aku yakin sekarang dia merencanakan sesuatu. Sebaiknya kau harus cepat menurunkan posisinya, Mew!"

Mew memelas. "Tidaklah mudah, Cyia. Mem Anhi memiliki pengaruh yang besar."

"Tapi kau penerus keluarga Loni, Mew! Kau yang paling berkuasa di sini! Bukan dia!" Lacyia tak bisa lagi menahan keanggunannya. Dia biasanya berbicara lembut pada Mew.

Sadar akan keterkejutan Mew, Lacyia menghela nafasnya. "Maafkan aku, Mew. Aku terlalu ingin suamiku berhenti diperlakukan seperti boneka." Dia mendekat untuk membelai wajah Mew.

"Apa pun yang terjadi, aku berjanji akan selalu mendampingimu. Sampai anak kita menjadi penerus tanpa pendamping."

"Apa yang sedang kau coba katakan, Cyia?"

Lacyia terus membelai rahang tegas suaminya. "Aku ingin Mem Anhi turun dari posisinya."

Mew yang menghela nafas. "Apa yang harus aku lakukan? Bahkan kau tau, aku saja masih gemetar berhadapan dengannya."

"Mew, aku sudah mengatakan. Kau pemimpin di sini. Ucapanmu adalah perintah."

Dia berucap sambil berbisik. Lalu mengecup lembut pipi Mew. Laki-laki itu sedikit merinding. Dia masih belum bisa menerima sentuhan istrinya.

"Ada apa, Mew? Apa kau melupakan kita sudah menjadi pasangan yang sesungguhnya?" Lacyia kecewa saat Mew memalingkan wajahnya.

"Bukan seperti itu, Cyia. Kau sendiri yang mengatakan kita baru saja tiba. Sebaiknya kau beristirahatlah. Aku ingin melihat Pawat sebentar." Mew meninggalkan Lacyia.

Setelah pintu tertutup. Wanita anggun itu menunjukkan sisi wajahnya yang beberapa lalu ia sudah tunjukkan.

"Ini yang kau katakan akan memberikan cinta padaku, MEW!" teriak Lacyia. Kemudian menyapu seluruh benda-benda yang ada di meja riasnya.

KilledTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang