8. The atmosphere is tense

795 117 5
                                        







Jonggun berbaring di sofa dengan mata terpejam, diam-diam menahan senyumnya. Sedangkan [Name] sibuk menggerutu sembari terus membersihkan luka berdarah yang ada dipunggung tangan Jonggun.

“Sebenarnya yang kau lakukan sih? Kenapa tanganmu bisa sampai seperti ini?” [Name] mendengus saat pria itu tak menjawab. “Park Jonggun jawab aku!”

“Aku jatuh.”

“Jatuh kau bilang? Kau kira aku bodoh? Ini jelas luka karena kau meninju sesuatu.”

“Hmm, aku meninju dinding.” Kata Jonggun lagi langsung membuat [Name] mendengus kala mendengar jawaban tak serius itu. Pria tersebut memang terkesan misterius, ia memang tahu jika Jonggun berkerja sebagai seorang pengawal namun [Name] merasa atensi pria Jepang tersebut lebih besar daripada itu. Di sisi lain Jonggun kemudian membuka matanya dan menatap [Name], terkekeh amat pelan ketika mendapati ekspresi skeptis gadis itu, memang terdengar tidak masuk akal tapi Jonggun benar-benar sengaja melukai dirinya agar [Name] memberi memperhatikan lebih. Walaupun dijelaskan dengan jujur agaknya [Name] menganggap sekedar omong kosong.

“Itu gila Gun.”

Ucapan [Name] membuat Jonggun tersenyum aneh, pria tersebut lalu memiringkan tubuhnya menghadap [Name] sedikit bergerak mendekat tak melepaskan tatapannya pada [Name] barang sedetikpun. Jonggun kemudian mengangkat tangannya yang sudah diobati dan melihatnya sejenak, setelah itu ia kembali menatap gadis itu dengan tatapan penuh arti. “Aku memang gila [Name], kau tak akan pernah menyangka seberapa gilanya aku saat menginginkan sesuatu.”











•••

[Name] baru saja selesai membersihkan rumahnya, saat ia berbaring untuk beristirahat terdengar suara pesan singkat masuk melalui ponselnya yang tergeletak tepat disampingnya. Gadis itu kemudian memeriksa pesan tersebut, tersenyum tipis ketika mendapati beberapa pesan dari putra pemilik rumah makan tempatnya bekerja yaitu Daniel. Pria tersebut beberapa hari terakhir terang-terangan memperlihatkan ketertarikannya pada [Name], benar-benar tak menutupi fakta itu di depan semua orang. [Name] menghela nafas panjang lalu membaca ulang pesan yang Daniel kirim.

Daniel:

[Name]

Kita pergi ke festival malam ini, kan?

Kali ini kau tidak akan,
membatalkan janji dengan ku lagi kan?

[Name]:

Tidak, aku akan bersiap lebih dulu.

(Read)

Ngomong-ngomong,
aku sudah ada di depan rumah mu.

[Name] melebarkan matanya lantaran terkejut, ia reflek bangun dari tempat tidur kemudian dengan cepat membuka gorden jendela kamarnya. Dan benar, ia mendapati Daniel sudah berdiri di depan pintu sembari melambaikan tangan diiringi senyuman lebar. “Astaga, kenapa cepat sekali?” Tanya [Name] sedikit mengeraskan suaranya agar Daniel bisa mendengar jelas.

“Memastikan agar kau tidak bisa beralasan untuk membatalkan janji lagi.” Jawab Daniel langsung membuat [Name] meringis tak nyaman.

Ugh, kau membuatku merasa bersalah, jika begitu tunggu sebenar aku akan ganti baju.” Setelah mendapat anggukan dari Daniel, [Name] kembali menutup gorden tersebut dan buru-buru mengambil pakaian di lemari. Diantara kesibukan tersebut ponselnya berdering memperlihatkan kontak Jonggun yang tengah mengirim panggilan suara. [Name] lantas mengangkat panggilan tersebut dan tetap menaruh ponselnya di atas tempat tidur karena dirinya masih sibuk merapikan pakaiannya di depan cermin.

Aku akan mampir dan membawakan makanan.” Suara Jonggun terdengar sedikit kecil, mungkin karena pria itu sedang menyetir.

“Maaf Gun, tapi aku ada janji dengan temanku dan sebentar lagi aku akan pergi.” Balas [Name] meraih ponselnya dan menempelkannya ke telinga sembari melangkah menuju pintu. [Name] mengernyitkan keningnya bingung ketika tak kunjung mendengar jawaban dari Jonggun, ia bahkan sampai memeriksa ponselnya memastikan apakah panggilannya masih tersambung. "Gun?"

Ya? Ah, kalau begitu pergilah aku akan mampir lain waktu.

“Baiklah.” [Name] kemudian memutuskan panggilan dan segera menemui Daniel yang masih setia menunggu di depan pintu. Saat Daniel menuntunnya pergi kearah motor yang terparkir tak jauh, [Name] menoleh ketika mendapati mobil familiar yang baru saja lewat. Ah, itu milik Jonggun, dan tak tahu mengapa perasaannya menjadi kurang nyaman.














Buku-buku jari Jonggun memutih ketika mengeratkan cengkraman nya pada kemudi. Gejolak emosi membanjirinya. Cemburu? Konyol. “Aku yakin- aku hanya tak senang ada bajingan berusaha menarik perhatian milikku.”

“Milikku huh..” Jonggun menyeringai sembari mengulangi ucapannya, terasa menyenangkan di lidahnya dan memuaskan ketika menyebut [Name] sebagai miliknya.



Tbc.

Hey hey! Sorry guys lama, tapi janji chapter selanjutnya bakal nyusul dalam waktu dekat.

CHAIN | LOOKISM Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang