Untuk pertama kalinya dalam hidup Yoo [Name] menjadi seorang pengangguran, karena bahkan saat masa sekolah ia sudah terbiasa dengan konsep 'berkerja' di usia dini untuk pertahan hidup. Gadis tersebut sudah berusaha melamar pekerjaan di beberapa tempat yang membutuhkan karyawan, namun tidak satupun bersedia menerimanya. Awal mulanya ia hanya berpikir bahwa dirinya tidak beruntung, akan tetapi [Name] mulai berpikir apakah ia terlihat tidak meyakinkan– atau justru penampilannya tampak buruk. [Name] berdecih atas kedua dugaan tersebut. Sembari menghela nafas frustasi, melempar ponselnya ke atas kasur dengan ekspresi murung.
[Name] tak menampik, terasa menyenangkan memang ketika semua kebutuhan teratasi tanpa berjuang keras, mengingat ia telah melewati hari-hari sangat berat. Namun tidak mungkin dirinya akan terus bergantung pada seorang Park Jonggun. Tentu saja ia merasa tak enak meskipun Jonggun pernah menyombongkan kekayaannya yang tak akan habis. Ketika sibuk dengan isi kepalanya, [Name] tak sengaja melirik kearah cermin yang memperlihatkan pantulan dirinya yang mengenakan piyama, bersiap untuk tidur. Gadis tersebut bolak-balik memiringkan tubuhnya guna dapat melihat penampilannya dari beberapa sudut. "Ah, jangan bilang aku memang tidak diterima karena penampilan ku. Sial! Sejak kapan aku segemuk ini."
Seraya mengigit bibirnya cemas, [Name] bergerak menuju sudut kamar untuk menemukan alat penimbang berat badan tergeletak di lantai. Padahal, sejak dulu [Name] bukanlah tipe orang yang mengejar standar kecantikan yang tengah marak, terlepas karena semuanya berjalan cukup mulus tanpa kendala, ia juga bukan orang yang beruntung dapat memperhatikan kecantikannya karena kemiskinan mencekiknya. Tetapi setelah mengalami penolakan berkali-kali saat melamar pekerjaan menimbulkan sisi lain darinya. [Name] terlebih dahulu menarik nafas dalam-dalam kemudian menaiki timbangan, membuat nafasnya tercekat sejenak- matanya melebar–naik 10 kilogram.
"Mustahil.." Bisik [Name] menolak percaya, sembari melangkah mundur hendak turun dari benda tersebut, namun punggungnya justru menabrak seseorang membuatnya lantas mendongak menatap kebelakang, mendapati Jonggun hanya mengenakan handuk di pinggang dan air masih menetes dari ujung rambutnya yang berantakan, sedang memasang seringai kecil kala berhasil menjahilinya– salah satu kakinya masih menginjak timbangan dari belakang sengaja menambah berat. [Name] mendesis kesal, melayangkan pukulan lembut ke dada Jonggun dan mengusirnya. "Gun. Menjauhlah jangan mengacau."
Jonggun terkekeh pelan seraya melangkah mundur. Kemudian menempatkan dirinya di samping [Name]- mencari sudut pandang strategis guna dapat memperhatikan gadis itu lebih jelas lagi, sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Park Jonggun mengernyitkan dahinya menemukan raut wajah [Name] tak juga kunjung membaik. "Ada apa?"
[Name] menghela nafas panjang sambil menyingkirkan timbangan itu dari hadapannya, ternyata berat badan [Name] memang naik. Apakah benar jika penampilannya sekarang buruk karena terlalu lama mendekam di dalam rumah selama menjadi pengangguran. "Sepertinya aku memang menjadi jelek, aku terlihat begitu berisi dan tebal."
"Berisi dan tebal, lalu apa masalahnya?" Tanya Jonggun dengan alis yang berkerut bingung, terus menatap gadis itu tak mengerti dimana letak permasalahannya.
"Kau tak mengerti, Gun. Lihatlah! aku gemuk." Sahut [Name] agak sensitif sembari merentangkan kedua tangannya, secara naluri membuat Jonggun sedikit menunduk untuk mengamati setiap lekuk tubuhnya. Pria tersebut lantas mencibir sinis lalu tanpa peringatan menggenggam lengan [Name] dan menariknya menghadap kearah cermin. [Name] dengan sangat jelas dapat melihat pantulan dirinya bersama Jonggun yang berdiri tegap berada dibelakangnya, ia bisa merasakan tubuh tegas pria itu menempel di punggungnya.
"Aku tak mengerti kau itu polos atau justru bodoh." Cerca Jonggun dengan suaranya yang berat seperti biasa. Lantas membuat [Name] merasa tak senang. Namun, belum sempat [Name] menimpalinya dengan protes, nafasnya dibuatkan terkesiap kala pria tersebut mengulurkan tangan dan bergerak melingkari pinggangnya tanpa persetujuan, berbisik serak di lehernya. "Lihat ke cermin sekarang."
Mendengar instruksi tersebut tanpa sadar [Name] langsung mengalihkan pandangannya kearah cermin di hadapannya. Pemandangan yang secara kontan menciptakan suasana berbeda dalam sekejap. Detak jantung gadis tersebut meningkat dengan begitu cepat, nafasnya menjadi berat- melihat bagaimana Jonggun menarik piyamanya kebelakang dengan satu tangan, membuat piyama [Name] yang semula longgar kini menyatu ketat menunjukkan garis lekuk tubuhnya.
"Ini bukan gemuk, sayang. Tapi kau memang semakin berisi dan tebal dibagian yang tepat." Bisik Jonggun sembari melabuhkan kecupan ringan di sepanjang lehernya. "Payudara dan pantat mu semakin besar, itu karena aku pernah menghisap-"
[Name] terkesiap– berbalik langsung membungkam mulut pria itu, upaya untuk menghentikan ucapannya. Dengan mata membelalak dan wajah [Name] yang memerah karena malu. Akan tetapi reaksi tersebut justru membuat Jonggun menyunggingkan seringai tipis, menggenggam pergelangan tangannya- memastikan gadis itu tidak dapat menjauh, Jonggun kemudian menjulurkan lidah- menjilat jemari gadis tersebut dengan hasrat kental, merubah atmosfer menjadi begitu sensual dan gerah, hingga membuat sang empu sekali lagi terkesiap sambil mengigit bibir menahan lenguhan. [Name] berusaha menarik tangannya sekuat tenaga, nafasnya terputus-putus seperti baru saja berlari mengelilingi lapangan.
"Sialan, itu jorok tau! K-kenapa kau menjilat sih, memangnya kau seekor anjing?" Bentak [Name] berusaha terlihat kesal dengan suara gemetar karena gugup, genggam Jonggun begitu erat membuatnya tak bisa menarik diri dan memberi jarak.
"Anjing ya?" Jonggun mengangkat alisnya, terus menatap [Name] lekat dengan tatapan tajamnya yang tak sedikitpun goyah. Sebelum akhirnya seutas senyuman miring muncul di bibir pria tersebut. "Apakah kau juga menganggap ku anjing, ketika aku menjilat lipatan basah mu?"
"Tutup mulutmu.."
Park Jonggun terkekeh geli, menyeringai- menatapnya berhasrat kala menemukan [Name] memilih mengalihkan pandangannya lantaran terlalu malu, itu sungguh menggemaskan dengan pipi yang memerah dan bibir mencebik cemberut. Jonggun lantas meraih pinggang gadis itu, menariknya mendekat hingga tidak menyisakan jarak sedikitpun. Dengan mudah pria tersebut mengangkat tubuh [Name]- mendudukkannya di tepi meja rias. Tangan besarnya menyentuh lembut dagu [Name] menuntun gadis itu agar mendongak menatapnya. Deru nafas keduanya beradu, ketika Jonggun membungkuk mendekati.
[Name] tidak yakin apa yang akan pria itu lakukan selanjutnya, tapi yang pasti kini kondisinya sedang tak baik baik saja. Setiap sentuhan berhasil menciptakan desiran aneh, nafas panas Jonggun menimbulkan getaran halus yang menjalar ke seluruh tubuhnya. [Name] menelan ludah. "G-Gun, sebaiknya kau segera berpakaian."
"Bukankah itu konyol? Kau begitu pemalu, padahal aku pernah semalaman meniduri mu." Bisiknya serak, menyelipkan tangan kekarnya ke bawah piyamanya- memberi sentuhan lembut mengirim getaran, sembari mencondongkan tubuhnya dan membenamkan wajah di antara lekuk leher [Name], memberi kecupan lembut lalu menjulurkan lidah untuk mencicipinya, meninggalkan jejak basah dan sensasi memabukkan berhasil membuat rintihan dari bibir sang gadis.
Sudah berapa ga up? Uhmmmm mungkin setahun? Ah, enggak kok. Cuman 11 bulan. Awokawok!
Senang banget ternyata story yang aku buat gegara gabut ada yang suka. Makasih yang udah nyempetin baca cerita ala kadar ku ini. Jujur saking lamanya aku ga buka wp, aku lupa cerita Jonggun ini mau dibawa kemana alurnya. Aih. Tapi tenang, bakal tetap end kok kalau aku panjang umur hahaha!
KAMU SEDANG MEMBACA
CHAIN | LOOKISM
Fanfiction❝Jika aku tidak bisa membuatmu tersenyum maka aku akan membuatmu menangis untukku.❞ Park Jonggun x Reader as Yoo [Name]
